TANTRUM - Anak yang sehat selalu menjadi dambaan orang tua. Namun, pandangan masyarakat Indonesia biasanya menyebut anak yang gemuk itu adalah anak yang sehat. Sebaliknya anak kurus sering dianggap kurang sehat.
Hal ini sering membuat orangtua bimbang jika anaknya tidak gemuk, dan sebaliknya, menimbulkan kebanggaan jika anaknya gemuk.
Padahal, keyakinan tersebut tidak sepenuhnya benar. Berat badan berlebih pada anak tidak selalu berarti sehat, sebaliknya dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Menurut Ita Rosita, Ahli Gizi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, kegemukan terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan.
Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak tinggi. Sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik dan sedentary lifestyle.
“Sedentary lifestyle merupakan gaya hidup yang tidak aktif atau tak banyak bergerak dan terlalu banyak dihabiskan dengan duduk atau berdiam diri saja. Orang dengan gaya hidup sedentary ini biasanya hanya menghabiskan waktu dengan duduk atau berbaring dan menghabiskan waktu," kata Ita ditulis Bandung, Senin, 30 Mei 2022.
Sedentary lifestyle ini semisal dengan menonton TV, bermain gawai, dan membaca. Hal ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa tetapi juga dialami oleh anak-anak.
Ita menyebutkan beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kegemukan pada anak antara lain, faktor genetik diduga menjadi salah satu faktor.
Tetapi faktor utama adalah asupan makanan berlebih yang berasal dari jenis makanan olahan serba instan, minuman softdrink, makanan siap saji (burger, pizza, hotdog dan lainnya).
Asupan susu formula yang melebihi porsi yang dibutuhkan bayi atau anak, merupakan alasan lainnya.
Ita melanjutkan pola asuh yang tidak baik dapat mempengaruhi kegemukan terhadap bayi atau anak. Selain itu sebut Ita, orang tua terlalu memanjakan anaknya sehingga apapun yang diinginkan anaknya.
"Terlepas apa yang diinginkan anak ini akan berdampak buruk atau tidak ketiakseimbangan antara pola makan dan aktivitas fisik sedentary lifestyle," ungkap Ita.
Kegemukan pada usia dewasa biasanya merupakan kelanjutan dari kegemukan pada saat kecil.
Kegemukan dan obesitas pada anak yang berlanjut ke usia dewasa ini, merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit metabolik dan degeneratif.
Seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker, osteoartritis, dan lainnya.
Berita Terkait
-
Poin Persib Bandung Sama dengan Borneo FC, Beckham Putra Buka Suara
-
Senang Dipanggil Timnas Indonesia, Marc Klok Masih Fokus Bersama Persib Bandung
-
Titip Anak, Titip Trauma? Wajah Gelap Daycare Ilegal di Indonesia
-
10 Tanda Anak Menjadi Korban Kekerasan Seksual, Jangan Sepelekan Perubahan Fisik dan Perilaku Ini
-
4 Parfum untuk Anak Sekolah yang Wangi Tahan Lama dan Murah di Minimarket
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
Terkini
-
BBW Jakarta 2026 Buka 24 Jam Nonstop, Bisa Belanja Buku Tengah Malam hingga Dini Hari
-
Korban Bertambah, Kasus Ayah Cabuli Anak Kandung di Sekadau Kini Seret Keponakan 10 Tahun
-
Katalog Promo Indomaret Terbaru, Serba Gratis! Salonpas Beli 1 Gratis 1, Teh Botol hingga Bebelac
-
Pemburu Diskon Merapat! Promo Alfamart Siap Santap Hemat Mantap, Sosis dan Bakso Murah
-
Cara Refund Tiket Kereta Api 100 Persen Imbas Kecelakaan di Bekasi, Bisa Lewat HP
-
Sah! Susi Pudjiastuti Ditunjuk Jadi Komisaris Utama Bank BJB
-
Mengapa Kereta Api Sulit Berhenti Mendadak? Belajar dari Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
Proaktif, BPJS Ketenagakerjaan Pastikan Perlindungan Korban Kecelakaan KRL Bekasi
-
Heboh BKPSDM Muratara Digerebek Polisi, Benarkah Ada Jual Beli Kenaikan Pangkat ASN?