TANTRUM - Ilmuwan berhasil membuat proses fotosintesis buatan. Secara alami fotosintesis atau proses untuk mengubah air, karbondioksida, dan sinar matahari menjadi oksigen dan energi membantu tanaman tumbuh secara alami.
Para ilmuwan berupaya untuk memanfaatkan proses ini untuk memproduksi makanan, energi, dan material semacamnya.
Dalam sebuah studi terbaru, para ilmuwan menyoroti teknik fotosintesis buatan yang menerapkan proses elektrokatalitik dua langkah untuk mengubah karbon dioksida, air, dan listrik yang dihasilkan oleh panel surya menjadi asetat (komponen utama cuka).
Asetat ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk tumbuh. Sistem yang dirancang para peneliti tersebut tidak hanya untuk meniru fotosintesis yang terjadi di alam, tetapi sekaligus berusaha untuk meningkatkan hasilnya.
Pada tanaman, biasanya hanya sekitar 1 persen dari energi sinar matahari yang benar-benar diubah menjadi biomassa tanaman. Sedangkan proses fotosintesis buatan meningkatkan efisiensi hingga empat kali lipat.
"Dengan pendekatan kami, kami berusaha mengidentifikasi cara baru memproduksi makanan yang dapat menembus batas yang biasanya ditentukan oleh fotosintesis biologis," kata Robert Jinkerson, insinyur kimia dan lingkungan dari University of California, Riverside, seperti diberitakan Science Alert dicuplik dari CNN, Senin, 25 Juli 2022.
Jinkerson menyebut produksi energi yang lebih banyak dari sinar matahari yang dikonsumsi dapat mengurangi jumlah lahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan makanan.
"Tujuan utama kami adalah mengubah cara kami berpikir tentang cara memproduksi tanaman dan pertanian," katanya.
"Jika kita bisa lebih efisien dengan area yang dibutuhkan untuk memproduksi makanan yang dibutuhkan umat manusia, maka kita bisa mengubah lahan pertanian kembali menjadi lahan alami," imbuhnya, seperti dikutip Wired.
Baca Juga: Cerita Pegiat Seni ke Sandiaga Uno yang Inginkan Kutai Kartanegara Miliki Festival Tahunan
Lebih lanjut, perangkat konversi listrik atau elektroliser yang dikembangkan oleh para peneliti harus dioptimalkan secara khusus sebagai pendorong pertumbuhan organisme penghasil makanan.
Artinya, beberapa optimalisasi akan diperlukan untuk meningkatkan jumlah asetat dan menurunkan jumlah garam yang dihasilkan.
Eksperimen lanjutan yang dilakukan oleh para ilmuwan menunjukkan keluaran elektroliser kaya asetat dapat mendukung berbagai organisme, termasuk ganggang hijau, ragi, dan miselium, yang menghasilkan jamur.
Sebagai perbandingan, produksi alga mencapai sekitar empat kali lebih hemat energi menggunakan metode ini dibandingkan dengan fotosintesis alami.
Para ilmuwan mengatakan kacang tunggak, tomat, tembakau, beras, kanola, dan tanaman kacang hijau semuanya dapat memanfaatkan karbon dalam asetat dan tumbuh tanpa sinar matahari. Sehingga proses ini dinilai dapat digunakan untuk menggantikan fotosintesis normal, atau meningkatkan hasilnya.
"Kami menemukan berbagai tanaman dapat mengambil asetat yang kami sediakan dan membuatnya menjadi blok bangunan molekuler utama yang dibutuhkan organisme untuk tumbuh dan berkembang," kata Marcus Harland-Dunaway, ilmuwan botani dan tanaman dari UC Riverside.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
Terkini
-
Untar Hormati Keputusan Keluarga Lexi Valleno Havlenda, Tegaskan Komitmen Penyelesaian
-
Ibu dan Anak WN Taiwan Dideportasi dari Taiwan karena Langgar Peraturan Keimigrasian
-
Pendidikan Gratis Hanya di Atas Kertas? Menyoal Pasal 31 UUD 1945 Pasca-Kasus YBR
-
Waspada! Kanker Usus Besar Mengintai Usia Muda, 30 Persen Pasien Berusia di Bawah 40 Tahun
-
Polisi Ungkap Pola Pelaku Tawuran di Jakarta: Saling Tantang di Medsos hingga Konsumsi Obat Keras
-
Siti Badriah Ngaku Spontan Jalani Mommy Surgery di Korea Karena Hal Ini!
-
Daftar 9 Pelanggaran yang Diincar Polisi dalam Operasi Keselamatan Toba 2026 di Medan
-
Fakta Baru! Siswa SMP Pelaku Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta
-
Bukan Sekadar Tinggi dan Kuat, IIni Alasan Mauro Zijlstra Bisa Jadi Mesin Gol Persija
-
Viral Dokter Kandungan Minta Ayah Azanin Bayi Padahal Kristen: Mukanya Kayak Guru Ngaji