TANTRUM - Video viral di TikTok tentang video awan jatuh di Kampar, Riau, beberapa waktu lalu dapat disebut sebagai berita bohong atau hoax.
Kepastian berita bohong atau hoax yang bisa diketahui dengan jelas hanya dengan melihat visual penampakan awan jatuh tersebut yang lebih menyerupai busa sabun.
Dalam video tersebut, tampak gumpalan awan putih dalam bentuk busa berada di beberapa lokasi di wilayah tersebut.
Apakah tidak pernah terjadi fenomena awan jatuh? Menurut Erma Yulihastin, Peneliti Klimatologi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN, awan adalah sekumpulan titik-titik air yang melayang-layang di atmosfer dan berasal dari proses pengembunan atau kondensasi udara hangat yang menguap dari permukaan bumi.
Awan terjaga tetap di atas walaupun terdapat gravitasi bumi yang dapat menariknya ke bawah.
"Karena awan berasal dari sekumpulan udara yang naik karena densitasnya lebih ringan dibandingkan udara di sekitarnya," jelas Erma dalam keterangan tertulisnya, Bandung, Senin, 1 Agustus 2022.
Selanjutnya kata Erma, jika suhu udara di dalam awan masih sangat dingin setara dengan lebih rendah dari nol derajat Celcius, maka proses pembentukan es (icing) dapat terus terjadi.
Kejadiannya dengan berbagai cara antara partikel-partikel kecil yang ada di sana seperti saling bergabung, menumbuk, memisah, dan sebagainya.
Sehingga di dalam awan itu ada kegiatan yang sangat meriah, tidak diam dan tenang sebagaimana ketika kita lihat dari kejauhan.
Baca Juga: Agensi DR Music Mengumunkan Judy dan Youngheun Resmi Keluar dari BLACKSWAN
Selain itu, sepanjang kandungan awan sebagian besar masih berupa kristal es, air super-dingin (supercooled water), dan titis-titis kecil es (ice droplet) dibandingkan dengan titis-titis kecil air (water droplet).
"Apalagi tetes-tetes air hujan (raindrop), inilah yang membuat awan itu masih akan terus berada di atas," ungkap Erma.
Erma mengungkapkan fenomena awan jatuh yang bisa terjadi dalam istilah meteorologi dikenal dengan microburst atau downburst, yaitu fenomena yang ditunjukkan melalui penampakan seakan awan badai berwarna abu tebal namun memiliki gumpalan yang menggelayut di bawahnya.
Sehingga seakan-akan awan tersebut hendak jatuh menuju ke permukaan tanah.
Secara ilmiah, fenomena penampakan ini dapat terjadi karena terdapat arus angin yang sangat kuat dari atas menuju ke bawah atau disebut dengan downdraft.
Juga efek dari turbulensi juga pusaran vorteks yang berada di dalam sebuah awan badai yang besar dan kuat.
"Microburst ini tentu sangat berbahaya bagi pesawat yang melintas di bawahnya karena dapat menjatuhkan pesawat," ujar Erma.
Hantaman angin dari atas menuju bawah yang sangat dahsyat ini juga disertai dengan hujan air deras, disertai es atau bahkan juga air dingin dengan titik beku di bawah nol derajat Celcius atau disebut juga freezing rain.
Tak jarang juga disertai petir dan guruh. Fenomena microbusrt tak hanya menghasilkan cuaca buruk tapi juga membahayakan bagi dunia penerbangan serta menimbulkan kerusakan yang luas bagi permukiman dan infrastruktur yang berada di bawahnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123