/
Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:32 WIB
Salman Rushdie saat berbicara di sebuah acara pameran buku di Frankfurt, Jerman, 13 Oktober 2015 lalu. [Reuters/Ralph Orlowski] (Reuters/Ralph Orlowski)

PEN Amerika, kelompok advokasi kebebasan berekspresi di mana Salman Rushdie pernah menjadi presidennya, mengaku 'terguncang karena terkejut dan ngeri' atas berita penikaman. 

"Salman Rushdie telah menjadi target akibat kata-katanya selama puluhan tahun tapi ia tidak pernah goyah ataupun gentar,” kata Suzanne Nossel, chief executive PEN, dalam sebuah pernyataan. 

Pada tahun 2012, Salman Rushdie mempublikasikan sebuah memoar, 'Joseph Anton,' mengenai fatwa kematiannya. 

Judul itu diambil dari nama samaran yang digunakan Rushdie untuk buku-buku yang dia tulis selama persembunyiannya. 

Salman Rushdie pernah meraih penghargaan Booker Prize lewat novelnya 'Midnight’s Children', namun namanya paling tidak baru dikenal di seluruh dunia stelah buku 'The Satanic Verses'. 

Load More