TANTRUM - Fenomena stockholm syndrome tentu sudah tidak asing lagi. Sindrom ini adalah respons psikologis yang terjadi ketika sandera atau korban pelecehan merasa terikat dengan penculik atau pelakunya.
Dengan sindrom ini, sandera atau korban pelecehan justru bersimpati dengan penculiknya dan pada akhirnya jatuh cinta, lalu melindunginya.
Meski baru populer beberapa tahun belakangan karena diadaptasi oleh berbagai film, stockholm syndrome sebenarnya bukan fenomena baru.
Dicuplik dari laman Orami, Jumat, 2 September 2022, gangguan psikologis ini pertama kali terjadi pada 1973, ketika 2 orang pria menyandera 4 orang selama 6 hari, setelah perampokan bank di Stockholm, Swedia.
Setelah para sandera dibebaskan, mereka justru menolak untuk bersaksi melawan para penculik. Bahkan, mereka juga mulai mengumpulkan uang untuk membela penculiknya.
Kejadian ini lantas disebut stockholm syndrome. Pada akhirnya, istilah ini dijadikan untuk kondisi ketika sandera mengembangkan hubungan emosional atau psikologis penculiknya.
Meski begitu, stockholm syndrome belum diakui sebagai penyakit oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.
Manual ini digunakan oleh para ahli kesehatan mental dan spesialis lain untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental.
Adapun gejala yang bisa terlihat saat seseorang terkena stockholm syndrome adalah:
- Korban mengembangkan perasaan positif terhadap orang yang menahan atau menyiksa mereka.
- Korban menolak polisi atau siapa pun yang mungkin mencoba membantu mereka melarikan diri dari penculiknya.
- Korban mulai memahami perasaan penculiknya dan percaya bahwa mereka memiliki tujuan dan nilai yang sama.
Perasaan ini biasanya terjadi karena situasi emosional dan penuh muatan yang terjadi selama situasi penyanderaan.
Misalnya, orang yang diculik atau disandera sering merasa terancam oleh penculiknya. Namun, mereka juga bergantung pada penculiknya untuk bertahan hidup.
Jika penculik atau pelaku menunjukkan kebaikan kepada mereka, mereka mulai merasakan perasaan positif terhadap penculiknya.
Seiring waktu, persepsi itu mulai membentuk kembali dan mengubah cara mereka memandang orang yang menyandera atau melecehkan mereka.
Fenomena stockholm syndrome yang menarik membuat banyak sutradara film tergerak untuk mengangkat tema ini dalam karyanya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Promo Alfamart dan Indomaret Persiapan Hampers Lebaran 2026, Biskuit Kaleng Legendaris Jadi Murah
Pilihan
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
-
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Trump Ancam Timnas Iran: Mundur dari Piala Dunia 2026 Kalau Tak Mau Celaka
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
Terkini
-
Jay Idzes hingga Diks Ikut Tunggu Hasil Sidang Isbat Kemenag Jelang FIFA Series 2026, Kok Bisa?
-
Awas Cuaca Ekstrem Intai Pemudik di Jabar! BPBD Turunkan Pasukan Penuh di Jalur Maut Rawan Longsor
-
Cek Harga Tiket Bus Sinar Jaya Lebaran 2026, Lengkap dengan Cara Pesan Online
-
Takut Buka Luka Lama, Atta Halilintar Enggan Komentari Pernyataan Aurel Soal Cerai Jika Diselingkuhi
-
5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
-
3 Tetangga Indonesia Boncos Gara-gara Perang AS - Israel vs Iran
-
Promo Terbaru Baju Lebaran di Matahari, Diskon hingga 70% Hemat Jutaan Rupiah
-
Mobil Bekas Cocok Dipakai Jangka Panjang: 5 Opsi Tunggangan Irit BBM, Konsumsi Kurang dari 15 Km/L
-
Solusi Kartu ATM BRI Tertelan atau Hilang Tanpa Pakai Buku Tabungan
-
Iran Peringatkan AS: Timur Tengah Bisa Gelap Jika Fasilitas Listrik Diserang