/
Kamis, 22 September 2022 | 01:54 WIB
Ilustrasi sampah galon guna ulang (ISTIMEWA)

BPA pada gilirannya berpengaruh pada  gangguan sistem reproduksi, baik pada pria maupun wanita, berdampak pada diabetes, obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, dan perkembangan kesehatan mental pada anak-anak. Itu sebabnya, di beberapa negara maju,  BPA sudah dilarang digunakan untuk perlengkapan makan dan minum pada bayi dan balita sejak 2011. 

Saat ini,  kemasan berbahan plastik polyethylene terephthalate (PET) lebih popular digunakan di seluruh dunia, karena dinilai lebih aman bagi kesehatan dan mudah didaur ulang agar ramah lingkungan. Ironisnya di Indonesia, pengusaha penguasa pasar AMDK justru dengan senang hati terus menggunakan plastik PET untuk semua produk kemasan botol dan gelas    kecil, tapi sebaliknya  berkeras mempertahankan plastik BPA pada galon guna ulang mereka.

Dengan demikian, sulit dimungkiri, alasan bisnis dan dominasi pasar galon guna ulang tampak jelas lebih dikedepankan, ketimbang nasib jutaan konsumen di Indonesia yang kesehatannya dipertaruhkan karena asupan BPA dalam air minum selama bertahun-tahun.

Load More