/
Jum'at, 16 Desember 2022 | 08:35 WIB
Kenangan Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi saat mereka lagi baik-baik saja (instagram@anneratna82)

SuaraTasikmalaya-Perseteruan Mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan isterinya Anne Ratna Mustika belum usai. Malam makin memanas. Masing-masing saling serang. Mirip perang brathayuda.

Dedi Mulyadi dan Anne Ratna Mustika adalah publik bfigur dan panutan bagi warga Purwakarta dan Indonesia. Sebab mereka adalah pejabat Dedi Mulyadi Anggota DPR-RI Anne Ratna Mustika Bupati Purwakarta saat ini.

Melihat 'perang' makin panas salah publik khawatir  Proses gugat cerai Bupati Purwakarta di Pengadilan Agama Purwakarta dijadikan kosumsi adu domba dan kepentingan okmun yang memecah belah Purwakarta.

Dan sudah terjadi di lingkungan pemerintahan pun mulai tidak kondusif. Ada kubu-kubuan Sejauh ini, banyak juga kalangan yang menyayangkan setelah adanya proses perceraian antara Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi. Apalagi, keduanya merupakan publik figur yang harusnya menjadi tauladan dan tindak tanduknya dilihat oleh masyarakat luas.

Ada yang lebih dikhawatirkan dirinya, jika kedua figur ini keukeuh melanjutkan perceraian. Yakni, terjadinya kubu-kubuan antar pegawai di lingkungan pemerintahan. Jika itu terjadi, jelas pelayanan kepada masyarakat juga akan terganggu.

Perseteruan Dedi Mulyadi Anne Ratna Mustika jadi bahan gunjingan di media sosial. 

Belakangan tersebar surat terbuka melalui grup WhatsApp. Surat tersebut ditulis  yang isinya adalah surat terbuka untuk Ambu Anne dan Dedi Mulyadi dari seseorang yang mengaku salah satu warga Kabupaten Purwakarta.

Berikut isi surat terbuka untuk Ambu Anne dan Dedi Mulyadi itu.

"Assalamualaikum Ambu bupati dan pak Dedi Mulyadi, semoga hari hari Ambu dan pak Dedi serta anak-anak Ambu dan pak Dedi selalu diberikan Rahmat Allah SWT.

Baca Juga: 'Saksi Bisu' Jaket Ungu Arya Saloka yang Diberikan ke Amanda Manopo di Hari Spesial, Siasat Redam Putri Anne yang Selalu 'Kepanasan'?

Kenalkan sy salah satu warga Purwakarta, warga Ambu sebagai bupati dan warga yang pernah dipimpin juga oleh pak Dedi.


Saya merasa betah dan nyaman numpang hidup di tanah Purwakarta, punya pemimpin bupati dua periode yaitu pak Dedi yg bisa merubah kondisi Purwakarta baik infrastruktur maupun aturan yg dibuat.

Tidak perlu saya jelaskan bagaimana Purwakarta dulu sebelum pak Dedi menjabat maupun setelah menjabat hingga saat ini diteruskan oleh Ambu yang tak lain masih istri sah pak Dedi.

Pikiran, tenaga hingga berbagai kebijakan yg telah dicurahkan pak Dedi dan Ambu untuk Purwakarta sedemikian besarnya. Kami tentu sangat bersyukur punya pemimpin yg keren keren ini.

Namun memang, seperti yg kita ketahui bersama, saat ini biduk rumah tangga Ambu dan pak Dedi sedang tidak baik-baik saja. Sebagai seorang warga yang tentu sangat memperhatikan sepak terjang bupati nya, saya dan mungkin semua warga Purwakarta sedikit tersentak dengan berita kurang sip ini.

Jauh dari kecurigaan saya dari awal, bahwa rumah tangga bapak adalah figur keluarga yg menjadi panutan, keluarga yang bisa dijadikan suri tauladan bagi keluarga lain termasuk saya. Tapi nyatanya, saya merasa sedih mendengar ini.

Saya tentu tidak mau mengira-ngira dan menyimpulkan masalah apa yg menjadi pokok keretakan rumah tangga bapa dan Ambu. Saya hanya ingin Ambu dan bapak Dedi kembali baik baik saja, saling memahami satu sama lain adalah kunci. Anak-anak adalah tempat kita menyusun kembali biduk rumah tangga.

Mungkin ada ego, ada perbedaan paham yang itu bisa diredam dengan saling mengerti, tidak sama-sama memaksakan kehendak. Saya yakin Ambu dan bapak Dedi bisa melakukan itu. Kasian anak-anak, kasian keluarga, kasian kami yang menantikan Purwakarta tetap istimewa...

Saya juga ingin mengingatkan, boleh ya Ambu dan pak Dedi saya mengingatkan, bahwa dari keretakan rumah tangga Ambu dan pa Dedi, ada yang bertepuk tangan. Mereka yang ingin dari dulu memecah belah keluarga Ambu dan pak Dedi, mereka yang ingin Purwakarta tidak baik baik saja.

Terimakasih, dari kami yang ingin tetap melihat Ambu dan pak Dedi rukun hidup nyaman bersama anak-anak, bersama kami warga Purwakarta.

Boleh lah Ambu dan pak Dedi, cuti sementara waktu dari kesibukan sebagai bupati dan sebagai anggota DPR RI, untuk sekedar kembali merajut asa, mengenang bagaimana masa lampau 10-15 tahun lalu atau dimana Ambu dan pak Dedi menyatakan sumpah suci dan akad didepan penghulu untuk membina rumah tangga...


Jangan karena ego, jangan karena jabatan, jangan karena bisikan orang dekat yang tak bertanggungjawab yang bisa mengalahkan rasa diantara Ambu dan bapak Dedi.

Ini hanya keluh kesah saya sebagai warga Purwakarta.
Wassalamu'alaikum wr.

Demikian isi surat terbuka itu ***

Artikel ini telah tayang di lensapurwakarta.com dengan judul Merasa Prihatin, Warga Purwakarta Tulis Surat Terbuka Untuk Bupati Anne dan Dedi Mulyadi

Load More