/
Selasa, 28 Maret 2023 | 15:17 WIB
Ilustrasi berdoa. (Pixabay)

SuaraTasikmalaya.id- Berbuka puasa di bulan Ramadhan seringkali memiliki problematika sendiri perihal do’a yang diucapkan. Begini do’a sesuai hadis shahih.

Dilansir Suara Tasikmalaya.id dari akun Twitter @tanyakanrl, dalam postingan terbarunya yang sudah dilihat 1, 8 M views itu membagikan gambar sketsa perbandingan antara do’a berbuka puasa.

Gambar yang memuat dua hadis itu memiliki kualitas yang berbeda. Namun do’a yang tersebar justru memiliki do’a yang diragukan keshahihannya.

Terlihat, gambar sebelah kiri, merupakan hadis hasan riwayat Abu Daud no. 2357, An-Nasa’I dalam sunan Al-Kubra no. 3315 dan selainnya.

Selanjutnya, di dalam gambar itu, menjelaskan bahwa kedua hadis tersebut dapat dilihat dalam kitab Irwaul Ghalil no 920 bagi hadis sebelah kiri, bab 4/38 bagi hadis sebelah kanan.

Tak hanya itu, hadis yang biasa dipakai oleh masyarakat ketika berbuka dengan teks “Allahumma laka sumtu wa ‘alaa rizkika aftortu”  memiliki kualitas hadis yang lemah, bahkan dalam kitab Mirqatul Mafaith Syarh Misykatul Mashabih disebutkan kalau ada tambahan kata wabika amantu itu tidak ada dasar yang jelas.

Dapat dikatakan, postingan gambar kolase dua foto tersebut memiliki pro dan kontra di dalam kolom komentar.

Tak heran jika postingan tersebut menjadi buah bibir netizen untuk saling serang antar golongan.

“Ucapan doa aja diributin...kek hobinya org wahabi. Mau doa gmna aja mau pake bahasa apa gmna ucapannya bebas, istilah doa mau minta duit 1M sblm makan jg sah2 aja,” ujar akun tom cat di kolom komentar.

Baca Juga: Ungkapan Para Pemain Timnas Indonesia U-20 Usai Drawing Piala Dunia Dibatalkan

Doa berbuka Puasa (sumber: (twitter akun @tanyakanrl ))

Hadis shahih yang terdapat dalam gambar kolase sebelah kiri merupakan hadis riwayat Abu Daud no. 2357 pada kitab Baitul Afkar Ad Dauliah dengan matan hadis.

“Dzahabazh zhama-u, wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru, in syaa allah” 

Artinya: telah hilang dahaga, dan telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, insya allah (jika allah menghendaki).

Hadis tersebut memilliki kualitas hasan jika mengacu kepada pendapat Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani (Ulama Hadis asal Albania) (*/editor zahran)

Load More