/
Sabtu, 15 April 2023 | 17:40 WIB
Potret Ustadz Abdul Somad. Hukum tradisi bermaafan saat Idul Fitri berdasarkan syariat Islam. (istimewa)

SUARA TASIKMALAYAHari raya Idul Fitri adalah momen paling ditunggu oleh umat Islam, setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. 

Di Indonesia, perayaan Idul Fitri diisi dengan berbagai kegiatan yang sudah menjadi tradisi sejak lama, seperti tradisi bermaaf-maafan atau halalbihalal. 

Menurut Ustadz Abdul Somad, bermaaf-maafan saat hari raya Idul Fitri merupakan tradisi yang hanya dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia. 

Sebab sejauh ini, belum ada orang-orang Islam dari negara lain yang saling bermaafan saat Idul Fitri. Mereka biasanya meminta maaf tepat setelah melakukan kesalahan atau kekhilafan. 

Meski begitu, bermaaf-maafan saat Idul Fitri ini merupakan kebiasaan yang baik, tidak diharamkan atau dikategorikan perbuatan bid’ah

Adanya tradisi ini mampu memepererat tali silaturahmi sesama umat muslim, serta membentuk euforia positif saat Idul Fitri. 

Di samping itu, jika kita tidak bermaaf-maafan saat Idul Fitri, berarti kita hanya tidak mengikuti tradisi, bukan berarti tidak berlaku sesuai syariat Islam. 

Namun dalam Islam dijelaskan bahwa, saat Idul Fitri umat muslim hendaklah saling mendoakan dan memberi pujian. Seperti mengucapkan “Minal ‘aidin wal-faizin,”

Ucapan minal aidin sendiri diambil dari kata Idul Fitri, yang berarti kembali ke fitrah. Sedangkan wal-faizin memiliki arti semoha kita menang. 

Baca Juga: Cara Membuat Kartu Ucapan Idul Fitri dengan Canva, Mudah Tanpa Harus Edit

Kedua ucapan sifatnya bukan bid’ah atau perbuatan yang tidak sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, karena diambil dari hadist dan ayat Al-Quran. Tetapi, tidak mengucapkannya pun bukan sesuatu yang salah atau menimbulkan dosa. (*) 

Load More