Suara.com - Awal pekan ini, seorang teknisi jaringan bernama Bryan Seely yang juga pernah bertugas sebagai marinir, muncul dengan dua rekaman pembicaraan telepon, masing-masing telepon ke kantor FBI (Biro Investigasi Federal AS) dan ke Secret Service (semacam Paspampres). Rekaman itu ternyata ia dapat dengan "mengalihkan jalur telepon" menggunakan Google Maps, sesuatu yang menurutnya dan banyak pakar, ternyata cukup mudah dilakukan.
Penelepon di masing-masing rekaman, satu lelaki dan satunya lagi perempuan, merupakan warga biasa yang tak tahu-menahu bahwa mereka telah "disadap". Demikian juga dengan pihak FBI dan Secret Service, termasuk petugas yang menerima telepon, sama tidak tahunya dengan kejadian itu --sampai persoalan ini muncul di media.
Mengutip Gizmodo, seperti dituliskan Nitasha Niku di Valleywag, apa yang dilakukan Seely ternyata intinya hanyalah men-spam Google Maps dengan data kantor palsu termasuk nomor teleponnya. Oleh Seely pula yang kemudian berbicara kepada Valleywag, ini semacam "membuka aib" Google yang selama ini "cuek" soal adanya celah-celah keamanan dalam verifikasi listing di Google Maps, yang menurutnya telah mereka ketahui setidaknya sejak empat tahun lalu.
Penelepon di masing-masing rekaman yang dipegang Seely, saat itu tentu mengira mereka berhubungan langsung dengan petugas di kantor FBI maupun Secret Sevice, yang bukan kebetulan nomornya mereka peroleh dari Google Maps. Mereka tidak tahu bahwa nomor yang mereka putar adalah nomor yang dimasukkan Seely lewat cara "spamming", yang setelah diterima kemudian baru diteruskan ke nomor kantor lembaga yang sebenarnya. Jadi, peneleponnya asli, petugas serta lembaga penerimanya asli, namun ada Seely sebagai pihak ketiga yang kini mendengar dan mendapat rekamannya.
"Siapa yang akan berpikir dua kali soal apa yang ada di Google Maps? Semua orang jelas percaya Google, dan itu hal yang tidak menjamin serta benar-benar tak aman. Saya bahkan bisa membuat duplikat (alamat dan data) Gedung Putih, lalu menerima semua telepon ke sana. Aku juga bisa melakukannya terhadap semua senator, semua anggota kongres, walikota, semua gubernur, (orang) Demokrat maupun Republik. Semua kantor," papar Seely.
Asal tahu saja, Seely yang pernah bekerja untuk perusahaan teknologi macam Microsoft dan Avanade, memang dulu biasa dibayar untuk melakukan spam ke Google Maps. Dia mengaku sengaja melakukan spam dan "penyadapan" telepon kantor pemerintah kali ini, lantaran Google selalu mengabaikan sarannya untuk memperbaiki kekurangan yang telah lama ada. Seely juga mengaku dia belum dipandang serius, sampai kemarin, ketika ia datang ke kantor Secret Service di dekat rumahnya di Seattle. Ia mengatakan di sana bahwa sebuah telepon penting telah disadap: kali ini adalah telepon dari petugas polisi Washington DC ke Secret Service tentang sebuah penyidikan kasus yang sedang berjalan.
Saat itulah, kata Seely pula, dia langsung diamankan oleh petugas lembaga pengamanan Presiden dan Wapres AS tersebut. Usai dibacakan hak-haknya saat penahanan, dia langsung dibawa ke sebuah ruang interogasi. Berdasarkan keterangan dari Secret Service belakangan via email, seorang Agen Khusus yang bertanggung jawab saat itu, usai mendengarkan keterangan lengkap interogasi, sempat menyebut Seely "seorang pahlawan" karena telah mengungkap persoalan keamanan besar itu. Dalam beberapa jam, Seely pun kemudian dibebaskan.
Menurut Seely pula, listing alias data palsu kantor FBI dan Secret Service yang dibuatnya, sempat bertahan selama empat hari lamanya. Daftar itu pun selalu masuk di baris kedua dalam tiap pencarian tentangnya di Google Maps saat itu. Dikatakan Seely, dia juga sengaja memilih kantor FBI dengan alamat di San Francisco, karena belum lama ini menonton film The Rock di mana Nicholas Cage memainkan karakter yang bekerja untuk FBI di San Francisco.
Pihak Google sendiri sejauh ini belum merespons secara resmi, selain mengklaim bahwa sejauh ini sudah dilakukan beberapa perbaikan. Sementara belakangan kian banyak pakar dan pemerhati internet yang turut berbicara, selain juga media massa yang mengontak dan mempublikasikan ulang cerita Seely. Pihak FBI belum ada komentar, sementara Secret Service melalui juru bicaranya, Brian Leary, telah memberikan pernyataan.
Intinya, seperti disampaikan pihak Secret Service: "Permasalahan ini melibatkan seseorang memasang nomor teleponnya sendiri seolah-olah itu nomor telepon Secret Service di Google Maps. Ketika warga yang tak tahu, menggunakan telepon pihak ketiga ini untuk mengontak Secret Service, teleponnya disambungkan dengan melalui sistem pihak ketiga dan direkam. Ini tak ada hubungan dengan kerawanan atau masalah dalam sistem telepon kami. Jelas bahwa semua nomor telepon yang muncul di platform pencarian terbuka bisa dimanipulasi dengan cara ini."
"Insiden ini akan diinvestigasi secara menyeluruh dan sebaik-baiknya. Secret Service mendorong publik untuk mengecek website kami di www.secretservice.gov guna mendapatkan informasi kontak yang akurat tentang kantor-kantor kami," tandas pihak lembaga pengamanan Presiden AS itu.
Lebih jauh soal langkah-langkah Seely dalam "menjalankan pekerjaannya", ditulis dengan cukup detail di artikel Valleywag. Sementara versi lain yang dituliskan oleh Nyagoslav Zhekov di Whitespark.ca, juga memaparkan detail yang kurang lebih serupa, soal bagaimana men-spam Google Maps dengan listing palsu. (Valleywag)
Berita Terkait
-
Sikap Google Terhadap RUU Hak Cipta : Berisiko Hambat AI dan Ekonomi Digital Indonesia
-
Tanpa Ribet, Ini Cara Install Aplikasi Google di Tablet Huawei
-
Harga Fitbit Air Gelang Pintar Google, Lengkap dengan Spesifikasi dan Review
-
Jangan Gegabah Memasukkan Jurnalisme ke UU Hak Cipta
-
Kaspersky Ungkap Malware Argamal yang Menyamar dalam Game Dewasa, Hacker Bisa Kuasai Komputer Korban
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
WiFi Terbaik untuk Rumah, Kos, dan UMKM, Ini Tips Memilih Internet yang Stabil
-
Grab Genjot Kendaraan Listrik, Armada EV Ditargetkan Melampaui 3 Kali Lipat Tahun Ini
-
Komdigi Ungkap Modus Baru Judi Online 2026, Spam Bot di Instagram hingga TikTok Naik 128 Persen
-
7 HP Murah untuk Live Streaming TikTok dengan RAM Besar dan Baterai Jumbo
-
5 HP 5G Termurah dengan RAM hingga 8 GB, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tak Takut Listrik Padam, Chest Freezer Ini Punya Teknologi Menjaga Makanan Beku hingga 150 Jam
-
5 HP Midrange dengan Kamera Rasa Flagship, Resolusi Tinggi Didukung OIS dan Baterai Badak
-
Riset : Bahaya Pelecehan Digital di Asia Pasifik, Lebih dari Separuh Korban Alami Trauma
-
4 Tablet Murah dengan Fitur Palm Rejection, Menggambar dan Mencatat Lebih Rapi
-
Dampak Krisis Memori Global, Apple Terpaksa Menaikkan Harga MacBook dan iPad