- Departemen Perang AS bekerja sama dengan tujuh perusahaan teknologi untuk mengembangkan sistem militer berbasis kecerdasan buatan demi keunggulan tempur.
- Pentagon mengalokasikan anggaran sebesar 54 miliar dolar AS khusus untuk pengembangan senjata otonom dan berbagai sistem pendukung operasi militer.
- Perusahaan Anthropic ditetapkan sebagai entitas berisiko karena menolak klausul penggunaan teknologi untuk kepentingan pengawasan massal dan senjata otonom.
Suara.com - Departemen Perang AS resmi menandatangani kerja sama dengan tujuh perusahaan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung operasi militer rahasia dan pengembangan teknologi perang generasi baru.
Perusahaan yang terlibat dalam kesepakatan tersebut adalah OpenAI, Google, Nvidia, Microsoft, Amazon Web Services, SpaceX, serta Reflection AI.
Pentagon menyebut seluruh perusahaan itu sepakat mengizinkan teknologi mereka digunakan untuk penggunaan yang sah secara hukum oleh militer Amerika Serikat.
“Kesepakatan ini mempercepat transformasi menuju militer Amerika Serikat sebagai kekuatan tempur berbasis AI dan akan memperkuat kemampuan pasukan kami mempertahankan keunggulan pengambilan keputusan di seluruh domain peperangan,” demikian pernyataan Pentagon dilansir dari The Guardian.
Pentagon diketahui mengalokasikan dana dalam jumlah masif untuk pengembangan teknologi militer berbasis AI dan senjata otonom.
Departemen Perang AS meminta anggaran sebesar 54 miliar dolar AS hanya untuk pengembangan senjata otonom, di luar pendanaan untuk jaringan intelijen, perang drone, dan sistem informasi rahasia.
Meski demikian, Pentagon belum merinci bagaimana masing-masing teknologi dari perusahaan tersebut akan diterapkan dalam operasi militer.
Sementara itu, perusahaan AI Anthropic justru tidak masuk dalam daftar mitra Pentagon.
Anthropic menolak klausul penggunaan secara legal teknologi AI dalam kontrak karena khawatir dipakai untuk pengawasan massal domestik atau senjata mematikan otonom tanpa kendali manusia.
Baca Juga: Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru
Akibat perselisihan tersebut, Pentagon bulan lalu menetapkan Anthropic sebagai perusahaan yang berisiko.
Ini untuk pertama kalinya label itu diberikan kepada perusahaan teknologi asal Amerika.
Status itu membuat Pentagon dan kontraktornya dilarang menggunakan produk Anthropic, meski perusahaan tersebut kemudian menggugat keputusan tersebut ke pengadilan.
Ekspansi penggunaan AI oleh militer AS ini memicu kontroversi di berbagai kalangan, terutama terkait potensi penyalahgunaan teknologi untuk pengawasan domestik, keamanan siber global, hingga meningkatnya belanja pertahanan.
Pada Januari lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth meluncurkan strategi baru percepatan AI Pentagon.
“Kami akan membuka ruang eksperimen, menghapus hambatan birokrasi, dan memastikan Amerika memimpin dalam AI militer untuk masa depan,” ujar Hegseth.
Berita Terkait
-
Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru
-
Iran Walk Out dari Kongres FIFA 2026, Infantino Takut dan Tunduk pada AS
-
Hardiknas, Masa Depan Guru, dan Pertarungan Melawan 'Mesin Pintar'
-
Iran Kirim Proposal Negosiasi Baru, Trump Malah Siapkan Pasukan Darat di Selat Hormuz
-
Biaya Perang Iran Tembus Rp1600 T, Warga AS Bayar Mahal: Rp8 Juta per Bulan per Rumah
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Sepatu Lari Diadora Diskon 50 Persen di Sports Station, Harga Jadi Rp200 Ribuan
- 5 Cushion Matte untuk Menutupi Bekas Jerawat dan Noda Hitam, Harga Terjangkau
Pilihan
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
Terkini
-
Kiai Ponpes di Pati Diduga Lecehkan 50 Santri: Modus Doktrin Agama, Terancam Dikebiri
-
Misteri Kematian Dokter Internship dr. Myta, Kemenkes Didesak Lakukan Investigasi Menyeluruh
-
Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru
-
Arief Pramuhanto Disebut Korban Kriminalisasi Terberat, Pengacara: Tak Ada Aliran Dana
-
Skandal Chromebook, Prof Suparji: Langkah JPU Tuntut Penjara Ibrahim Arief Tepat
-
Sentil 'Akal-akalan' Aplikator, Driver Ojol: Potongan Terasa 30 Persen, Berharap pada Perpres Baru
-
May Day 2026, Menaker Yassierli Tegaskan Negara Komitmen Lindungi Pekerja hingga ke Tengah Laut
-
Tak Ditemui Pemerintah karena Demo di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Bubarkan Diri Janji Balik Lagi
-
Tak Puas Sampaikan Aspirasi di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Sempat Bakar Ban Coba Terobos Barikade
-
Momentum Hardiknas, BEM SI Demo di Patung Kuda Sampaikan 10 Tuntutan, Ini Isinya