Suara.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan belum akan memblokir YouTube meski terdapat konten atau material berbau pornografi di dalamnya. Alasannya layanan berbagi video milik Google itu mempunyai perwakilan di Tanah Air, sehingga jika ada konten porno bisa dengan mudah diminta untuk segera dihapus.
"Sementara Vimeo kan pusatnya di New York sana, harus dihubungi melalui email, sehingga jika ada konten pornografi akan lama ditangani," jelas Ismail Cawidu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo yang dihubungi di Jakarta, Selasa (13/5/2014).
Ismail menjelaskan Google mempunyai perwakilan di Jakarta sehingga jika ada konten pornografi di dalamnya bisa dengan mudah berkomunikasi langsung sehingga konten-konten bermasalah itu bisa segera dihapus.
"Kalau Vimeo membuka kantor di Indonesia, tentu tidak akan diblokir, karena kami bisa berkomunikasi langsung," tambah Ismail.
Dia juga mengatakan bahwa blokir terhadap Vimeo tidak akan berlangsung permanen. Situs berbagi video yang sebagian besar kontennya berkualitas HD itu akan bisa diakses kembali oleh pengguna internet di Tanah Air jika bersedia menghapus konten-konten yang dianggap sebagai pornografi.
Seperti yang diberitakan sebelumnya Kemkominfo sudah mengirim surat kepada Vimeo, meminta agar konten-konten negatif di dalam layanannya dihapus untuk pemirsa di Indonesia.
Ismail juga membantah jika selentingan yang mengatakan bahwa pemblokiran Vimeo akan menguntungkan bagi YouTube, yang memang bersaing dalam bisnis layanan video berbasis internet.
"Tidak ada. Proses pemblokiran berawal dari laporan masyarakat yang kemudian diteliti dan dievaluasi oleh tim Trust Positif Kekominfo, sebelum kami meminta provider untuk mengambil langkah yang diperlukan," jelas Ismail.
Dia mengatakan bahwa sampai 9 April kemarin ada 131 domain internet yang dilaporkan masyarakat kepada Trus Positif. Sebanyak 120 domain mengandung konten porno, termasuk Vimeo, sebanyak 10 domain perjudian, dan satu domain penipuan.
Lalu, siapa Trust Positif?
"Loh, mereka itu tim IT yang dibentuk Kemkominfo, pegawai negeri sipil yang bertugas mengevaluasi laporan masyarakat soal domain negatif. Cara kerja mereka bisa diuji dan dipertanggungjawabkan," jelas Ismail.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
-
Prabowo Tunjuk Juda Agung jadi Wamenkeu, Adies Kadir Resmi Jabat Hakim MK
-
Lakukan Operasi Senyap di Bea Cukai, KPK Amankan 17 Orang
-
Juda Agung Tiba di Istana Kepresidenan, Mau Dilantik Jadi Wamenkeu?
-
Viral Dugaan Penganiayaan Mahasiswa, UNISA Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi
Terkini
-
Apakah Stylus Pen Bisa untuk Semua Tablet? Cek 5 Rekomendasi Digital Pen Terbaik
-
Daftar Harga HP Vivo dan iQOO Terbaru Februari 2026, Mulai Rp1 Jutaan
-
Tablet Samsung Galaxy Tab A9 vs Redmi Pad SE, Mana Paling Worth It Buat Anak Sekolah?
-
7 HP 5G Rp3 Jutaan Pesaing Redmi Note 15 5G: Spek Gahar, Harga Bersahabat
-
52 Kode Redeem FF 5 Februari 2026: Cek Bocoran Bundle Valentine dan Evo Gun Scorpio
-
19 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 5 Februari 2026: Rebutan Dembele UTOTY yang OP Banget
-
Vivo X300 Ultra Bakal Bawa Sensor Sony LYT901 dan Baterai 7.000 mAh
-
File Epstein Guncang Dunia Game: Mantan Petinggi GTA dan Call of Duty Terseret
-
5 HP Murah Tanpa Iklan 'Pop-Up', Pemakaian Harian Tenang tanpa Gangguan
-
Teknologi Sinematik Membawa Pengalaman Walk-Through Virtual Pertama ke Indonesia