Suara.com - Seorang ilmuwan Inggris menemukan fosil dari seekor dinosaurus bertanduk berukuran sebesar anjing. Dinosaurus tersebut diperkirakan hidup di kawasan Amerika Utara sekitar 100 juta tahun silam.
Serpihan tulang rahang dinosaurus tersebut menjadi bukti adanya perbedaan evolusi antara dinosaurus yang hidup di kawasan Amerika Utara bagian barat dan timur. Pasalnya, pada akhir periode Cretaceous, 66 sampai 100 juta tahun silam, daratan tersebut terbelah oleh sebuah perairan dangkal. Laut yang dinamakan Western Interior Seaway ini mengalir dari Teluk Meksiko ke Samudera Arktik.
Dinosaurus hidup di belahan benua bagian barat yang dinamakan Laramidia. Fosil Dinosaurus di sini mirip dengan fosil yang ditemukan di Asia.
Sayangnya, fosil yang ditemukan di belahan benua bagian timur atau yang dinamakan Appalachia itu ditemukan di kawasan yang kini sudah ditumbuhi berbagai macam vegetasi. Hal itu mempersulit upaya pencarian dan ekskavasi fosil.
Dr. Nick Longrich dari Milner Centre for Evolution di University's of Bath's Department of Biology and Biochemistry, mempelajari salah satu fosil langka tersebut. Fosil yang disimpan di Museum Peabody, Yale University, itu merupakan jenis dinosaurus bertanduk, Ceratopsia.
Dr. Longrich tidak mampu mengidentifikasi berasal dari spesies manakah dinosaurus tersebut. Yang unik dari fosil tersebut adalah bentuk rahangnya yang membuat gigi melengkung ke bawah dan ke arah luar mulut.
Rahangnya juga lebih tipis dari dinosaurus bertanduk yang ditemukan di belahan benua bagian barat. Ini menandakan bahwa dinosaurus di kedua belahan benua mengkonsumsi makanan yang berbeda dan berevolusi dengan jalur yang berbeda.
"Seperti banyak hewan dan tumbuhan yang ditemukan di Australia dewasa ini yang amat berbeda dari yang ditemukan di bagian lain di dunia ini, sepertinya dinosaurus di belahan Amerika Utara bagian timur di periode Cretaceous akhir berevolusi dengan cara yang berbeda dengan yang ditemukan di belahan barat karena isolasi yang lama," kata Dr. Longrich.
Hasil penelitian Longrich dimuat dalam jurnal Cretaceous Research. (Independent)
Berita Terkait
-
Penemuan Fosil Dinosaurus Paling Akurat Ungkap Wujud Asli Edmontosaurus 66 Juta Tahun Lalu
-
Lebih Besar dari T-Rex? Fosil Dinosaurus Kolosal Ditemukan di Queensland!
-
Dinosaurus Pemangsa Baru Ditemukan di Inggris, Fosil Terlengkap yang Pernah Ada!
-
Fosil Dinosaurus 'Barry' yang Berusia 150 Juta Tahun Akan Dilelang di Paris
-
Arkeolog Temukan Fosil Dinosaurus di Yunnan, China
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas 60 Jutaan Kapasitas Penumpang di Atas Innova, Keluarga Pasti Suka!
- 5 Sepatu Lokal Senyaman Skechers, Tanpa Tali untuk Jalan Kaki Lansia
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Cek Fakta: Viral Ferdy Sambo Ditemukan Meninggal di Penjara, Benarkah?
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
iPhone Disebut Bakal Pakai Layar Lengkung Empat Sisi, Apple Ikuti Jejak Xiaomi?
-
5 HP Harga Rp1 Jutaan Paling Worth It di Tahun 2026, Spek Gak Kaleng-kaleng
-
Samsung Disebut Eksperimen Baterai 20.000 mAh, Ini Tantangannya
-
Update 25 Kode Redeem FC Mobile 1 Januari 2026, Klaim Icon 113-115 Gratis di Tahun Baru!
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
Bocoran Harga Poco M8 dan M8 Pro Muncul Jelang Rilis, Ini Gambaran Kelas dan Speknya
-
4 Cara Mendapatkan Candy Blossom di Grow a Garden Roblox agar Panen Melimpah
-
Skin Starlight Januari 2026 Bocor, Gak Cuma Harley yang Punya Tampilan Baru
-
Cara Mengotomatisasi Laporan di Microsoft Excel untuk Meningkatkan Produktivitas
-
Pascabencana, Uptime BTS di Aceh Tembus 92 Persen