Suara.com - Kini masyarakat Indonesia semakin banyak pilihan untuk menyalurkan bakatnya. Sebuah platform #fame menggebrak pasar Indonesia dengan menawarkan berbagai konten yang diharapkan jadi pilihan bagi masyarakat Indonesia.
"Kami melihat banyak anak muda berbakat tetapi tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Untuk itu kami hadirkan platform yang bisa digunakan oleh semua orang untuk menampilkan bakat mereka," ucap CEO #fame, Dhruvank Vaidya saat media gathering di Jakarta, Rabu (20/7/2016).
#fame yang berbasis di India, melihat Indonesia sebagai pasar potensial untuk berekspansi. Maraknya pengguna internet di Indonesia juga menjadi pertimbangan perusahaan ini masuk ke Indonesia.
"Indonesia merupakan pasar yang sangat besar dan potensial. Karena kami dari India, kita memiliki perilaku yang tidak jauh berbeda dengan market anak muda yang juga sangat banyak," ujarnya lagi.
Untuk menarik minat masarakat Indonesia dan mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia, #fame juga menyiapkan berbagai konten lokal. Beberapa artis Indonesia pun dilibatkan menggunakan #fame untuk lebih dekat ke para penggemarnya.
Vaidya mengklaim, #fame memiliki keunikan tersendiri dibandingkan aplikasi yang sudah ada sebelumnya di Indonesia. "Kami lebih bervariasi dalam konten-kontennya dan kami memastikan setiap orang berhak live beamers secara natural tentunya tetap di bawah pengawasan yang ketat dari pihak kami," jelasnya.
Untuk lebih menarik banyak pengguna, #fame juga menawarkan kemudahan dalam melakukan live beamers.
"Syaratnya cukup memiliki smartphone baik Android atau berplatform iOS dengan koneksi internet yang baik, bisa langsung live beamers dan lebih interaktif," ujar dia.
#fame juga memungkinkan para penggunanya untuk menyaksikan penampilan para bintang idolanya dan berinteraksi secara langsung. Tidak terbatas pada pengikut atau terhubung, setiap orang yang ada di #fame saat itu bisa langsung berinteraksi.
"Kami tidak membatasi hanya orang yang mem-follow saja yang bisa berkomentar tapi semua orang bisa berpartisipasi," tuturnya.
Sejak diluncurkan secara resmi di Indonesia pada April lalu, hingga kini #fame sudah memiliki 500.000 pengguna aktif dari 4 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Untuk konten yang dominan digunakan masyarakat Indonesia adalah lebih cenderung ke fashion dan beauty.
Setelah Indonesia, #fame berencana untuk berekspansi ke Malaysia dan Korea. "Kedua pasar itu terutama Korea cukup potensial untuk penggunaan live video," pungkas Vaidya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- Daftar Tim Super League Paling Banyak Rekrut Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
AS dan Iran Saling Gempur 8 Malam Berturut-turut, Harga Minyak Melonjak Tajam!
-
Mengapa Produk 'Tanpa Bahan Kimia' Kini Jadi Ladang Bisnis Menjanjikan
-
Prediksi Pencetak Gol Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
-
Perseteruan Wakil Rakyat, Polda Riau Turun Tangan Periksa CCTV
-
Keciduk CCTV! Pria di Tambora Gasak Motor Teknisi WiFi yang Kuncinya Tergantung Demi Biaya Hidup
-
Analisis Taktik Mendalam Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
-
Beri Kail Bukan Ikan: Inspirasi Cinta Laura Biayai Kuliah Asisten Pribadinya
-
Tahan untuk Beli, Harga Emas Antam Berpotensi Naik Pekan Depan
-
Tiki-Taka vs Sihir Messi: Prediksi Pertarungan Sengit Final Spanyol vs Argentina
-
Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z