Tekno / Internet
Jum'at, 09 September 2016 | 21:58 WIB
Pendiri dan bos Facebook, Mark Zuckerberg (Shutterstock).

Suara.com - Surat kabar terbesar Norwegia, Aftenposten, menuding pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, telah menyalahgunakan kekuasaanya setelah media sosial terbesar di dunia itu sewenang-wenang menghapus sebuah foto bersejarah yang menggambarkan korban Perang Vietnam.

Espen Egin Hansen, redaktur pelaksana dan CEO Aftenposten, dalam surat terbuka yang dimuat di halaman depan korannya menulis bahwa Zuckerberg. telah "menyalahgunakan kekuasaannya" atas Facebook, media sosial yang kini menjelma menjadi pusat penyebaran berita dan informasi di dunia.

"Saya kecewa - dan faktanya bahkan ketakutan - dengan apa yang Anda lakukan untuk mempertahankan masyarakat demokratis kita," tulis Hansen.

"Saya khawatir bahwa media terpenting dunia sedang mengekang kebebasan dan bukannya berusaha untuk memperluasnya, dan bahwa pengekangan ini terjadi dalam sebuah cara yang otoriter," tambah Hansen.

Kontroversi itu dipicu oleh keputusan Facebook menghapus sebuah artikel tulisan Tom Egeland yang menggunakan foto ikonik bertajuk "The Terror of War" karya Nick Ut. Foto itu mendapatkan hadiah Pulitzer pada 1973.

Foto itu menggambarkan sejumlah anak-anak - termasuk tubuh telanjang Kim Phuc yang saat itu berusia 9 tahun - yang sedang melarikan diri dari serangan bom napalm Amerika Serikat. Artikel Egeland sendiri membahas tentang tujuh foto yang mengubah sejarah peperangan di dunia.

Akun Egeland yang menyebarkan artikel itu, dinonaktifkan sementara oleh Facebook.

Aftenposten kemudian menulis berita tentang penonaktifan akun Egeland - sembari menggunakan foto yang sama - dan mengunggah berita itu di laman Facebook mereka. Tak lama berselang, Aftenposten menerima pesan dari Facebook, isinya sebuah teguran, meminta agar foto itu diganti atau gambarnya diburamkan.

"Semua foto yang menggambarkan kelamin atau bokong manusia secara gamblang, atau gambar telanjang payudara perempuan, akan dihapus," tulis Facebook.

Sebelum sempat menjawab teguran itu, Facebook secara sepihak menghapus artikel dan foto tersebut dari laman Facebook Aftenposten.

Dalam surat terbukanya, Hansen menulis bahwa keputusan Facebook untuk menghapus foto itu menunjukkan ketidakmampuan media sosial terbesar di dunia untuk "membedakan pornografi anak-anak dengan foto perang termasyur."

"Meskipun saya adalah redaktur pelaksana koran terbesar di Norwegia, saya harus mengakui bahwa Anda telah membatasi saya untuk melaksanakan tugas editorial saya," tulis dia, "Menurut saya Anda telah menyalahgunakan kekuasaan."

Lebih jauh Hansen menuding Facebook gagal melaksanakan misinya untuk "membuat dunia lebih terbuka dan terhubung". Keputusan editorial ala Facebook, tulis Hansen sesungguhnya "akan mempromosikan kedunguan dan gagal untuk mendekatkan manusia."

"Para editor (di dunia) tak bisa tinggal bersama Anda, Mark, yang bertugas sebagai seorang master editor," tegas Hansen. (The Guardian)

Load More