Suara.com - Eugene Cernan, manusia terakhir yang pernah berjalan di permukaan bulan, wafat pada Senin (16/1/2017). Ia mangkat pada usia 82, demikian diumumkan badan antariksa Amerika Serikat (NASA), seperti dikutip Reuters.
Cernan wafat di kelilingi oleh keluarganya. Menurut keluarga, ia meninggal karena masalah kesehatan.
Cernan dan rekannya Harrison Schmitt dari misi Apollo 17 menjadi anggota salah satu kelompok paling ekslusif di alam semesta, ketika pada 11 Desember 1972 mereka keluar dari modul pendaratan bulan dan menjejaki permukaan bulan.
Sebelum Cernan dan Schmitt, sudah ada delapan manusia yang pernah meninggalkan jejak kaki di bulan dan kesemuanya adalah astronot Amerika Serikat. Tak ada lagi manusia yang pergi ke bulan setelah itu.
"Oh, my golly," pekik Cernan saat menginjak permukaan berpasir bulan, "Tak bisa dipercaya!"
Selama tiga hari, bulan menjadi rumah bagi Cernan dan Schmitt. Keduanya menjelajahi permukaan bulan sejauh 30 kilometer di atas sebuah kendaraan roda empat khusus yang dirancang untuk berjalan di bulan.
Kepunyaan Alam Semesta
Mereka mengumpulkan sampel batuan berbobot 100kg selama 22 jam menjelajahi bukit dan kawah di satelit Bumi itu.
"Saya sadar bahwa saya telah berubah dalam tiga hari terakhir ini dan bahwa saya tak lagi sepenuhnya milik Bumi," tulis Cernan dalam sebuah buku biografi berjudul "The Last Man on the Moon".
"Selama-lamanya, saya akan menjadi kepunyaan alam semesta," imbuh dia.
Cernan baru berusia 38 ketika ia melesat meninggalkan Bumi sebagai komandan misi Apollo 17 pada 7 Desember 1972. Saat ia dan Schmitt mendarat di bulan, rekannya satu lagi, Ronald Evans mengawasi dari dalam modul komando di langit bulan.
Selama di bulan mereka menghabiskan tujuh jam sehari untuk bereksplorasi. Cernan dalam catatannya menulis bahwa berjalan di bulan baginya sangat menyakitkan, karena ia mengalami cedera otot kaki akibat bermain softball dua bulan sebelum terbang ke bulan.
Ketika akan pulang ke modul komando, Cernan mengemudikan kendaraan bulan mereka menjauhi modul yang akan membawa ia dan Schmitt pulang, agar bisa merekam perjalanan tersebut.
Setelahnya, ia berlutut dan menuliskan inisial nama puterinya, Tracy, di permukaan bulan.
"Saya mengambil waktu untuk berlutut dan dengan satu jari, saya menulis inisial Tracy, TDC, di pasir bulan. Saya tahu bahwa tiga huruf itu akan bertahan di sana selama bertahun-tahun, melampaui imajinasi semua manusia," tulis Cernan dalam biografinya.
Enggan Pulang
Jejak tapak sepatu berukuran 10-1/2, yang ditinggalkan Cernan saat ia berjalan ke modul bulan untuk terbang kembali ke modul komando, merupakan jejak manusia terakhir di permukaan bulan.
Saat berjalan, atas inisiatifnya sendiri, Cernan mendaraskan sebuah harapan, yang mirip sebuah doa.
"Kini kami meninggalkan bulan dan Taurus-Littrow (sebuah lembah di bulan, lokasi Cernan mendarat), kami pergi seperti ketika kami datang, dan jika Tuhan berkenan, kami akan kembali, dengan damai dan harapan bagi seluruh umat manusia," ucap Cernan yang juga didengar di pusat kendali NASA di Houston, Texas, AS, Bumi.
Dalam sebuah wawancara untuk sebuah program sejarah NASA pada 2007, Cernan mengenang kembali saat-saat terakhir sebelum ia menaiki tangga memasuki modul bulan, yang akan membawanya pulang.
"Langkah-langkah menapaki tangga itu, sungguh sangat berat. Saya tak ingin naik. Saya masih ingin tinggal sejenak," cerita Cernan.
Apollo 17 adalah penerbangan antariksa terakhir Cernan, yang pernah menghabiskan 566 jam dan 15 menit di luar angkasa.
Berawal dari Tragedi
Cernan lahir pada 14 Maret 1934. Ia tumbuh dekat Chicago, AS. Ia sedang menjalani program latihan perwira militer di Purdue University, Lafayette, Indiana ketika untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Neil Armstrong, yang belakangan dicatat sejarah sebagai manusia pertama yang mendarat di bulan.
Cernan kemudian ditunjuk sebagai pilot uji coba Angkatan Laut AS dan bergabung dalam korps astronot pada Oktober 1963. Penerbagan antariksa pertamanya berlangsung tiga tahun kemudian dan terwujud karena sebuah tragedi.
Cernan dan rekannya Thomas Stafford tadinya hanya disiapkan sebagai kru cadangan bagi misi Gemini 9. Tetapi mereka akhirnya menjalani misi itu karena kru yang sudah disiapkan tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat.
Dalam perjalanan antariksa itu, Cernan tercatat sebagai manusia ketiga dalam sejarah - setelah seorang kosmonot Rusia dan astronot AS, Ed White - yang pernah melakukan spacewalk - mengapung bebas di luar angkasa. Ia mencetak rekor karena berhasil melayang bebas di luar angkasa selama dua jam sembilan menit.
Pada 1969 Cernan menjadi pilot modul bulan dalam misi Apollo 10. Ia membawa modul itu terbang mengapung sekitar 15,6 km di atas permukaan bulan, setelah melepaskan diri dari modul komando. Penerbangan itu merupakan uji coba terakhir untuk misi Apollo 11, yang dua bulan kemudian mendaratkan manusia pertama ke permukaan bulan: Armstrong dan Buzz Aldrin.
Pensiun
Cernan pensiun dari NASA dan Angkatan Laut AS pada 1976. Sebagai warga sipil, ia turut serta membangun maskapai Air One, bekerja sebagai konsultan energi dan antariksa, menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan engineering, dan kadang berbicara sebagai pakar luar angkasa bagi ABC News.
Pada 2011, setelah NASA mengakhiri program pesawat ulang-alik, Cerna bersama Armstrong memberikan kesaksian di hadapan sebuah komite kongres AS untuk mendesak pemerintah mempertahankan program eksplorasi luar angkasa.
Secara khusus Cernan mengkritik keputusan Presiden Barack Obama yang tak meneruskan program Constellation, yang bertujuan untuk mengirim kembali astsronot ke bulan serta Mars.
"Menurut saya dia (Obama) tak paham betul soal tradisi Amerika, karena dia tak tumbuh besar di sini," sindir Cernan dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada 2012.
Cernan dua kali menikah. Istri pertamanya Barbara, seorang pramugari Continental Airlines. Mereka bercerai pada 1981, setelah menikah selama 20 tahun dan memiliki satu orang anak.
Pada 1987 ia menikah lagi dengan Jan Nanna dan dikaruniai dua puteri.
Berita Terkait
-
Astronot Artemis II Bongkar Kenapa Makanan Terasa Hambar di Luar Angkasa
-
Bukan Sekadar Misi Biasa, Ada Cerita Menarik Dibalik Misi Artemis II Nasa!
-
Artemis II Pecahkan Sejarah: Sisi Gelap Bulan Akhirnya Bisa Dilihat Manusia
-
NASA Akhiri Jeda 53 Tahun: Misi Artemis II Siap Mengorbit ke Bulan
-
Kronologi 3 Astronot China Terdampar di Luar Angkasa Tanpa Kepastian Balik ke Bumi
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
37 Kode Redeem FC Mobile Aktif 6 Mei 2026, Ada Hadiah OVR Tinggi hingga 119
-
XLSMART Genjot Smart City Berbasis AI dan IoT, Siap Diterapkan ke Seluruh Indonesia
-
HP Murah Terbaru Harga Cuma Sejutaan, Honor Play 70C Usung Desain Mirip iPhone 16 Pro
-
QRIS Indonesia - China Resmi Meluncur, Netzme Bikin UMKM Bisa Terima Alipay dan UnionPay
-
Sempat Menghilang 10 Tahun, Ubisoft Bangkitkan Kembali Game Perang RUSE
-
Laptop AI Asus 2026 Resmi Rilis di Indonesia, Zenbook DUO Layar Ganda hingga Vivobook Copilot+ PC
-
Ponsel Misterius Motorola Lolos Sertifikasi Komdigi, HP Lipat Gahar Razr Fold?
-
5 HP Murah Terlaris Global Q1 2026: Samsung Galaxy A Memimpin, Redmi Bersaing
-
Cari Smartband Murah dengan AOD? Ini 5 Rekomendasi Terbaik 2026
-
Salah Satu Tablet Terkencang di Dunia, Lenovo Legion Tab Gen 5 Mulai Dipasarkan