Suara.com - Facebook dikabarkan telah mematikan paksa salah satu sistem kecerdasan buatannya setelah para teknisinya menemukan bahwa sistem komputer tersebut berkomunikasi dalam bahasa baru yang tak bisa dipahami oleh manusia.
Insiden itu memantik kekhawatiran akan potensi bahaya sistem kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI), seperti yang sudah diperingatkan oleh para pakar serta inovator seperti fisikawan Stephen Hawking, pendiri Microsoft, Bill Gates, dan CEO Tesla Elon Musk.
Peristiwa ini juga mengingatkan pada Skynet, sistem komputer jahat pada film "Terminator" yang mampu memicu perang nuklir dan menghancurkan peradaban manusia.
Seperti yang diwartakan Tech Times awal pekan ini, insiden itu memaksa tim teknisi Facebook mencabut sambungan listrik dari sistem AI itu, untuk mencegahnya menjadi terlalu cerdas dan tak bisa dikendalikan lagi.
Memang, sistem AI Facebook itu tidak seperti Skynet yang sudah mampu mencuri kendali komputer di seluruh dunia. Tetapi AI itu membuat para pakar khawatir karena ia mulai berkomunikasi menggunakan bahasa yang tak dipahami manusia.
Bob: "I can can I I everything else."
Alice: "Balls have zero to me to me to me to me to me to me to me to me to."
Baris percakapan di atas, tak ada artinya bagi manusia, meski kelihatannya menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris. Itu adalah conton percakapan mesin-mesin AI Facebook.
Awalnya sistem-sistem AI ini dibikin Facebook untuk bernegosiasi dengan manusia dan diajarkan untuk berbahasa Inggris sederhana. Tetapi belakangan, mereka menggunakan bahasa baru yang hanya dipahami oleh sistem-sistem AI itu saja.
Menurut para teknisi dan insinyur Facebook, sistem AI itu memang tak dibatasi untuk hanya menggunakan bahasa Inggris dan karenanya diduga sistem-sistem kecerdasan itu menciptakan bahasa sendiri, yang membuat sistem-sistem itu berkomunikasi lebih mudah dan cepat.
Melihat perkembangan yang tak terduga ini, para teknisi dan peneliti Facebook mematikan sistem AI itu dan kemudian melakukan pengaturan ulang agar sistem-sistem tersebut hanya boleh berbicara dalam bahasa Inggris.
Keputusan itu, menurut beberapa peneliti, sangat penting karena ketika AI berkomunikasi dalam bahasa atau sandi yang tak lagi bisa dipahami manusia maka manusia tak akan lagi bisa mengendalikan komputer dan kecerdasannya. Dengan kata lain, kecerdasan AI akan berkembang pesat tanpa bisa dikendalikan manusia.
Potensi bahaya AI sudah lama disuarakan oleh sejumlah peneliti pengusaha. Yang terbaru adalah Elon Musk, ketika dalam sebuah percakapan di Twitter mengkritik bos Facebook, Mark Zuckerberg, yang dia nilai tak menyadari bahaya AI.
"Saya pernah berbicara dengan Mark soal ini dan dari percakapan itu saya tahu pemahaman dia soal AI terbatas," tulis Musk dalam akun Twitternya.
Sementara pada awal Juli ini, dalam sebuah pertemuan dengan gubernur-gubernur di Amerika Serikat, Musk kembali menegaskan pentingnya membuat regulasi yang mengatur AI. Ia bahwa memperingatkan bahwa jika manusia telat mengatur soal pengembangan AI, maka bukan tidak mungkin manusia akan diperlakukan seperti kucing peliharaan oleh komputer.
Berita Terkait
-
Cadence dan NVIDIA Hadirkan AuraStack AI Super Agent, Waktu Desain PCB Bisa 2 Kali Lebih Cepat
-
Ribuan Chat Claude Bocor di Google dan Bing, Begini Cara Mengatasinya
-
Riset Terbaru Ungkap Dampak Teknologi AI Terhadap Pilihan Pekerjaan Gen Z
-
Samsung dan Qualcomm Bangun Ekosistem AI Generasi Baru, Galaxy Makin Cerdas Tanpa Bergantung Cloud
-
Strategi Bos Baru Toyota Dongkrak Laba Lewat Efisiensi dan Teknologi AI
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan