Sementara itu, menyelami lebih jauh tentang preferensi smartphone di Indonesia, sebagai mesin pencari belanja (shopping search engine) dengan fitur pembanding harga (price comparison), Priceza, memiliki informasi terkait beberapa spesifikasi smartphone paling diminati.
a) Resolusi kamera besar
Kamera tidak merupakan fungsi penting kedua dari smartphone, selain sebagai alat komunikasi. Smartphone dengan resolusi kamera minimum 13 MP merupakan spesifikasi paling dicari.
b) Ukuran layar besar
Para pengguna di Indonesia cenderung menyukai smartphone dengan ukuran layar yang cukup besar (5 inci ke atas). Hal ini tentunya terkait dengan kenyamanan menggunakan gadget, baik itu dalam penggunaan kamera ataupun sekedar menikmati sajian hiburan, mulai dari permainan hingga menonton video.
c) Sistem operasi Android
Ada pergeseran tren dalam tiga tahun terakhir. Dimana pada tahun 2015, iPhone dari Apple merupakan model yang paling banyak dicari. Namun setelahnya, pencarian didominasi oleh smartphone berbasis Android.
Ada berbagai argumen yang bisa menjelaskan fenomena pergeseran preferensi ini, mulai dari alasan teknis seperti keterbukaan platform hingga pertimbangan finansial (budget).
Baca Juga: Xiaomi Kembali ke Jajaran 5 Produsen Smartphone Top Dunia
d) Kapasitas baterai besar
Terakhir adalah kapasitas baterai besar (3000 mAh – 4000 mAh) untuk melakukan aktivitas mobile lebih lama. Kapasitas besar ini umumnya memiliki waktu bicara hingga lebih dari 20 jam dengan waktu standby 1 sampai 2 hari.
Bisa diintepretasikan bahwa pasar di Indonesia menghendaki smartphone berdaya tahan lama.
Jika disimpulkan, pasar di Indonesia memiliki ketertarikan akan fitur yang terkait dengan kenyamanan visual. Hal ini tercermin dari preferensi terhadap resolusi kamera, ukuran layar, dan didukung oleh kapasitas baterai.
Obsesi pasar Indonesia terhadap hal visual ini cukup selaras dengan perkembangan fitur smartphone secara global, yang menekankan pada fitur kamera. Seperti misalnya fitur kamera ganda (dual-camera).
Tren implisit lainnya adalah preferensi terhadap harga yang terjangkau. Hal ini tercermin dari kecondongan terhadap sistem operasi Android yang relatif memiliki pilihan harga yang luas.
Hipotesis tentang ‘harga terjangkau’ ini juga didukung oleh data IDC per kuartal dua tahun 2017, yang memperlihatkan bahwa sekitar 96 persen smartphone yang didistribusikan di Indonesia merupakan kombinasi dari kategori menengah (mid-range), menengah-ke-bawah (low-end), dan bawah (ultra-low-end).
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan