Suara.com - Manusia mampu bertahan hidup di Bumi karena Bumi berada di zona laik huni Matahari. Sementara satelit alami Bumi, yaitu Bulan pun berada dalam zona laik huni, namun tidak bisa menyokong kehidupan layaknya di Bumi. Mengapa bisa begitu?
Rupanya, berada di zona laik huni tidak serta-merta membuat Bulan menjadi laik huni. Secara ilmiah, Bulan memang berada di zona laik huni, namun belum memenuhi kriteria tambahan dan memiliki kondisi pendukung yang tepat, salah satunya soal gravitasi.
Sebagian besar benda langit yang terlalu kecil, seperti Bulan, tidak akan memiliki gravitasi cukup kuat untuk mempertahankan atmosfernya.
Menurut laporan Universe Today, gravitasi bulan diketahui memiliki 1/6 dari gravitasi Bumi dan sekitar 1/80 dari massa Bumi. Hal itu membuat Bulan hampir tidak bisa mempertahankan atmosfer apa pun dalam waktu yang cukup lama.
Berbeda dengan Bumi yang memiliki massa cukup besar, Bumi juga memiliki gravitasi yang sepadan besarnya, sehingga mampu mempertahankan atmosfer yang tebal.
Selain gravitasi, terdapat banyak kriteria yang harus dipenuhi untuk memungkinkan kehidupan tumbuh di sebuah benda langit. Salah satunya nitrogen dan oksigen dalam kandungan atmosfer untuk menyokong kehidupan. Sayangnya, atmosfer Bulan yang lebih dikenal sebagai eksosfer hanya terdiri dari kalium dan natrium.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Review Film Back to the 90s: Sensasi Nostalgia Era Boyband yang Penuh Warna
-
BPBD Kota Samarinda Petakan Kawasan Rawan Kabut Asap Dampak Karhutla
-
Kabut Asap, Dinas Kesehatan Riau Siapkan 18 Ribu Masker untuk Pelalawan
-
Aturan Feng Shui Dapur, Jangan Biarkan Rezeki Hangus karena Salah Letak Kompor
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan