Suara.com - Para penduduk Arab telah menjadi semakin kurang religius dalam lima tahun terakhir, demikian hasil sebuah survei yang dilakukan oleh BBC Arabic yang diterbitkan pekan ini.
Survei yang dilakukan di 11 negara berbahasa Arab, dari Timur Tengah hingga Afrika Utara, ditemukan bahwa di Maroko, Tunisia, Libya, dan Aljazair semakin banyak ditemukan orang-orang yang mengaku tidak religius sejak 2013. Sebagian besar berusia di bawah 30 tahun.
Di Tunisia, 31 persen responden mengaku tidak religius. Tetapi di antara mereka yang berusia 18 - 29 tahun, jumlah orang yang mengaku tidak religius meningkat hingga 46 persen.
Sebagai pembanding, hanya sekitar 16 persen penduduk Tunisia yang mengaku tidak religius pada 2013.
Sementara di Libya, negeri yang dikoyak perang saudara sejak 2011, jumlah orang yang mengaku tidak religius naik menjadi 25 persen dari hanya 11 persen pada 2014. Jumlah orang muda yang mengaku tak religius sekitar 36 persen.
Perubahan yang sama juga teramati terjadi di Libanon, Mesir, Sudan, Yordania, Irak, dan Palestina. Hanya di Yaman sentimen keagamaan meningkat sejak 2013.
Dalam beberapa isu, terlihat ada perubahan drastis. Misalnya soal homoseksualitas. Sekitar 26 persen penduduk Aljazair dan 21 persen warga Maroko menilai homoseksualitas bisa diterima.
Sementara kepercayaan terhadap ulama mengalami penurunan di Irak. Hanya 12 persen orang Irak percaya kepada ulama, turun dari 42 persen pada kurun waktu 2012 - 2013.
Di Sudan tinggal 24 persen publik yang memercayai ulama, turun dari 49 persen pada era 2012 - 2013. Fenomena yang sama terjadi di Palestina, yang kini tinggal 22 persen publiknya percaya pada ulama (dari 48 persen pada 2013).
Baca Juga: Cantiknya Dorsaf Ganoiati, Wasit Wanita Pertama dari Arab
Yaman, sekali lagi, menjadi satu-satunya negara yang publiknya semakin percaya pada ulama: dari 36 persen pada 2013 menjadi 38 persen pada saat studi digelar.
Survei itu sendiri digelar antara Oktober 2018 - April 2019 dan melibatkan lebih dari 25.000 orang di seluruh kawasan tersebut. Survei digelar oleh Arab Barometer, sebuah jejaring riset yang bermarkas di Princeton University, New Jersey, Amerika Serikat.
Berita Terkait
-
Arab Saudi Tambah Pasokan Minyak Lewat Jalur Alternatif saat AS Blokade Selat Hormuz
-
Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari
-
Isu Pindah Tuan Rumah Menguat, AFC Tegaskan Piala Asia 2027 Tetap di Arab Saudi
-
Pakistan Mendadak Kirim Jet Tempur ke Arab Saudi, Ada Apa?
-
LaLiga Buka Peluang Main di Maroko, Javier Tebas: Mengapa Tidak?
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Rayakan 1 Miliar Download, eFootball Hadirkan Mode Ikonis dan Pemain Legendaris
-
67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
-
Terpopuler: 5 Merek HP Terlaris Global Periode Q1 2026, Rekomendasi HP Tipis Fast Charging
-
Huawei Pura 90 Pro Debut 20 April, Andalkan RAM 16 GB dan Chip Kirin Anyar
-
5 Kipas Tangan Portable Cas Tahan Lama: Dijamin Adem Seharian, Anti Gerah DImana pun
-
Pakai Chip iPhone, Performa Gaming Laptop Murah MacBook Neo Lampaui Ekspektasi
-
65 Kode Redeem FF Max Terbaru 12 April 2026: Raih Skydive Undersea, Doctor Red, dan Topi
-
Spesifikasi Vivo Y31d Pro: HP Baru di Indonesia, Usung Baterai 7.000 mAh dan Fitur Tangguh
-
7 Tablet SIM Card 5G dengan Keyboard Bawaan untuk Kerja Remote
-
Trump Ucap 'Alhamdulillah': Klaim Iran Kalah dan Proses Pembersihan Hormuz Dimulai