Suara.com - Gerhana Bulan parsial bakal terjadi 16 - 17 Juli 2019 dan bisa diamati di seluruh wilayah di Indonesia, pada hari kedua, yaitu 17 Juli. Sebelum mengamati peristiwa itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Dilansir dari timeanddate, berikut ini empat hal yang perlu diketahui sebelum melihat gerhana Bulan parsial itu:
1. Kapan tepatnya berlangsung di wilayah Indonesia
Gerhana Bulan parsial akan mulai teramati pada pukul 03.01 WIB dini hari dengan puncak terjadinya gerhana pada pukul 04.30 WIB. Gerhana akan berakhir 05.59 WIB.
Pengamat setidaknya harus bersiap-siap pada malam 16 Juli untuk menyaksikan gerhana Bulan parsial ini.
2. Lokasi pengamatan
Meski bisa terlihat di seluruh wilayah Indonesia, namun gerhana ini paling baik diamati di Indonesia bagian barat. Sebabnya Matahari belum terbit hingga gerhana Bulan parsial berakhir.
Sementara itu, wilayah Indonesia dan Timur kemungkinan tidak bisa melihat puncak gerhana. Karena puncak gerhana baru akan terjadi pada pukul 05.30 WITA untuk Indonesia Tengah dan pukul 06.30 WIT untuk Indonesia Timur.
Dengan kata lain, Bulan sudah terbenam terlebih dahulu sehingga para pengamat di Indonesia Tengah dan Timur tidak bisa melihat puncak gerhana.
3. Mengamati pakai teleskop
Walau gerhana Bulan parsial sebenarnya bisa diamati lewat mata telanjang, pengamat bisa menggunakan teleskop sebagai bantuan untuk melihat Bulan secara lebih jelas. Dengan bantuan teleskop, pengamat akan bisa mengamati pergerakan bayangan Bumi ketika gerhana terjadi.
Untuk pengamat pemula, disarankan menggunakan teleskop jenis refraktor. Teleskop jenis ini relatif lebih mudah digunakan sehingga tidak menyulitkan ketika melihat gerhana Bulan nanti.
Baca Juga: Resmi Diperkenalkan, Renault Masih Bungkam Masalah Harga Triber
4. Tidak perlu kacamata gerhana
Dikarenakan peristiwa gerhana kali ini merupakan gerhana Bulan, pengamat tidak butuh menggunakan kacamata untuk melihat peristiwa ini saat terjadi.
Kondisi ini berbeda dengan gerhana Matahari, yang mensyaratkan pengamat wajib menggunakan kacamata berfilter khusus. Hal itu disebabkan cahaya Matahari sangat berbahaya jika ditatap langsung dan menyilaukan. Kacamata ini berfungsi untuk meredupkan cahaya Matahari sehingga pengamat mampu melihat gerhana Matahari secara lebih jelas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Gaming Maraton Lebih Nyaman, Infinix GT 50 Pro Jaga Suhu Tetap Aman
-
ZTE dan XLSMART Resmikan Innovation Center di Jakarta, Percepat Adopsi 5G-A dan AI di Indonesia
-
5 HP Xiaomi Kamera Leica Termurah, Hasil Jepretan Mewah ala Fotografer Pro
-
Garmin Instinct 3 Rilis Warna Baru: Smartwatch Tangguh Kini Jadi Tren Fashion Urban 2026
-
5 Rekomendasi Mic Clip On Wireless Murah tapi Bagus, Cocok buat Konten Kreator Pemula
-
Siapa Pendiri Friendster? Media Sosial yang Pernah Berjaya, Mati, Kini Bangkit Lagi di 2026
-
5 Rekomendasi HP OPPO dengan Fitur Kamera 0.5 Keluaran Baru: Fitur Flagship, Harga Irit
-
Cara Hapus Cache di HP Samsung, Cukup 3 Langkah Mudah Ini
-
Perlindungan Anak di Era Digital: PP TUNAS Mulai Disosialisasikan
-
5 Pilihan HP Realme Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Jangka Panjang