Liberty Jemadu
Senin, 16 September 2019 | 18:56 WIB
Penampakan kebakaran hutan Kalimantan dari satelit Nasa. [NASA Worldview]

Suara.com - Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ruandha Agung Sugardiman mengklaim bahwa kebakaran hutan dan lahan di Australia kemungkinan ikut memicu terjadinya kebakaran di Kalimantan.

"Ya memang kondisinya saat ini El Nino normal, tapi ini diperparah dengan adanya kebakaran di Australia yang arah anginnya sekarang itu dari tenggara menuju ke barat laut," kata Ruandha usai peresmian Wahana Ozon di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek), Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Senin (16/9/2019).

Selain dari Australia, ia juga menyebut udara kering dari Malaysia ikut berkontribusi terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

"Nah sehingga udara kering dari Malaysia itu menambah potensi terjadinya kebakaran ini," lanjut dia.

Menurut dia, dengan keadaan udara di Indonesia yang saat ini sedang kering, maka bio massa atau hutan-hutan di wilayah Tanah Air juga menjadi cukup kering. Kondisi kering tersebut akan menyebabkan hutan, gambut, dan lahan mudah terbakar, sehingga itu perlu diwaspadai.

"Nah begitu ada sedikit awal api itu akan menjadi cukup besar. Yang jadi kendala kita adalah sebagian besar lokasi-lokasi yang masih mempunyai bio massa tinggi itu adalah di areal-areal gambut. Sehingga itu yang menyebabkan asapnya semakin tebal itu, karena mempunyai partikel-partikel dari gambut ini yang cukup mengganggu kesehatan," ujar Ruandha.

Ia berharap luasan areal yang terbakar pada periode Januari sampai Agustus 2019 tidak lebih luas dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Hingga saat ini masih terdeteksi titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, sedangkan di Kalimantan Utara mendapat asap karhutla kiriman empat provinsi tersebut di Pulau Kalimantan yang memiliki banyak titik api. [Antara]