Suara.com - Fenomena radikalisme yang menyebar internet bukan semata-mata kesalahan konten-konten, tetapi lebih kepada algoritma di balik media sosial yang menayangkannya, demikian dikatakan Guillaume Chaslot seorang bekas teknisi Youtube.
Chaslot mengatakan bahwa algoritma Youtube, khususnya yang bertanggung jawab atas daftar konten atau video yang direkomendasikan kepada warganet, adalah biang kerok radikalisme di internet.
"Kita harus paham beda antara kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk menjangkau," kata Chaslot yang turut mengembangkan algoritma Youtube, terutama yang berkaitan dengan fitur rekomendasi video.
Berbicara dalam sebuah konferensi jelang Mozilla Festival di London, Inggris pada pekan ini, ia menjelaskan bahwa orang menjadi radikal karena menghabiskan banyak waktu menyaksikan konten dengan gagasan yang sama.
Algoritma Youtube memungkinkan konten-konten sejenis atau yang gagasannya homogen terus dijejalkan kepada warganet. Alhasil orang tidak memiliki kesempatan untuk menemukan gagasan lain sebagai pembanding.
Contohnya, ketika seseorang menonton video ceramah dari tokoh tertentu, maka Youtube akan merekomendasikan video-video lain dari tokoh yang sama atau yang memiliki gagasan/ideologi yang mirip dengannya. Penonton tidak direkomendasikan video dari penceramah lain, yang memiliki gagasan berbeda.
"Algoritma disusun untuk mendorong orang semakin lama menonton. Seseorang bisa teradikalisasi sepenuhnya karena menghabiskan berjam-jam di Youtube. Dari sudut pandang algoritma, ini adalah kemenangan besar," kata Chaslot kepada ZDNet.
Ketika masih bekerja di Youtube, Chaslot pernah membawa masalah ini ke atasannya. Ia mengusulkan agar algoritma Youtube merekomendasikan video-video yang berisi gagasan lebih beragam.
Sayang gagasan itu ditolak. Ia lalu meninggalkan anak usaha Google itu dan melakukan penelitian terkait algoritma fitur rekomendasi video Youtube.
Baca Juga: YouTube FanFest Indonesia 2019 Ditunda, Ini Alasannya
Risetnya digelar bertepatan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016. Hasilnya menunjukkan bahwa algoritma Youtube mendorong orang untuk menyaksikan lebih banyak video radikal.
Youtube sendiri belum memberikan komentar terkait kritik Chaslot itu.
Tetapi penjelasan Chaslot itu senada dengan apa yang disebut efek ruang gema (echo chamber) dari media sosial. Efek ruang gema terjadi ketika seseorang hanya mau mendengar gagasan-gagasan yang ia yakini dan menolak gagasan yang berbeda.
Efek ruang gema dikombinasikan dengan algoritma Youtube tadi bisa menjadi ancaman besar terhadap demokrasi dan masyarakat yang majemuk. Betapa tidak, algoritma Youtube membuat ruang gema semakin rapat - tak memberi ruang munculnya gagasan-gagasan yang beragam.
Berita Terkait
-
Kasus Bom MAN 3 Padang, KemenPPPA Sebut Ada Indikasi Paparan Paham Radikal
-
Awalnya Jualan Burger, Kisah Insaf Putra Menjemput Mimpi di YouTube
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil
-
Channel YB Resmi Tayangkan ASEAN Championship Hyundai Cup 2026, Reza Arap Siapkan Beragam Program
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga