Suara.com - Para ilmuwan geokimia menemukan cangkang kerang Cretaceous yang mengungkapkan bahwa panjang hari di zaman dinosaurus setengah jam lebih pendek daripada hari ini.
Penemuan ini menjadi jawaban atas pertanyaan para ahli yang mencari perubahan hari akibat pengaruh gravitasi Bulan selama jutaan tahun.
Dr Niels de Winter dari Belgia Vrije Universiteit Brussels menguapkan bercak-bercak kecil dari cangkang Torreites sanchezi yang berusia 70 juta tahun dengan laser.
Dengan cara ini, ia dapat menghitung peningkatan selebar 40 mikrometer dengan presisi jauh lebih besar daripada mikroskop, dan analisis produk mengungkapkan bagaimana kimia kerang berubah sepanjang tahun.
Dalam Paleoceanography dan Paleoclimatology, de Winter menghitung ada 372 hari antara puncak musiman 70 juta tahun yang lalu. Mengingat lamanya tahun hampir tidak berubah, maka setiap hari pasti berlangsung selama 23,5 jam.
De Winter mampu mendeteksi detail yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang bagaimana kerang hidup dan kondisi air tempat tinggalnya, hingga sepersekian hari.
"Kami memiliki sekitar empat hingga lima titik data per hari, dan ini adalah sesuatu yang hampir tidak pernah Anda dapatkan dalam sejarah geologi. Kita pada dasarnya dapat melihat di hari pada 70 juta tahun yang lalu. Ini sangat menakjubkan," ucap de Winter, seperti yang dikutip laman IFL Science.
Data menunjukkan ekosistem kerang dan bagaimana kerang itu tumbuh. Suhu di akhir Cretaceous atau Periode Kapur diketahui lebih tinggi daripada hari ini.
Namun, de Winter dibuat terkejut dengan konsistensi kimia kerang yang bertahan dengan suhu air musim panas setinggi 40 derajat Celcius dan di musim dingin, suhu di atas 30 derajat Celcius. De Winter ragu bahwa moluska dapat bertahan hidup di perairan yang jauh lebih hangat dari ini.
Baca Juga: Tri Indonesia Gunakan Jaringan Khusus Pengguna Game
De Winter menunjukkan kerang-kerang itu memiliki siklus pertumbuhan yang cepat dan lambat selama sehari.
Menurutnya ini berarti, seperti karang modern, kerang tersebut membentuk simbiosis dengan organisme berfotosintesis, menggunakan nutrisi yang dikirim pada siang hari untuk tumbuh, seperti yang dilakukan kerang umumnya saat ini.
Kebanyakan moluska modern, yang hidup dengan menyaring makanan dari kolom air, jauh lebih sedikit dipengaruhi oleh siklus terang dan gelap.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
65 Kode Redeem FF Terbaru 12 Januari 2026: Raih Skin SG2, Scar Megalodon, dan Sports Car
-
Poster Vivo X200T Terungkap: Bawa Kamera Zeiss, Andalkan Chip Kencang MediaTek
-
7 HP Murah Chip Kencang dengan Memori 256 GB Januari 2026, Harga Mulai 1 Jutaan!
-
Update Bracket Swiss Stage M7: AE Butuh 1 Kemenangan, ONIC Masih Berjuang
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
CES 2026: LG Perkenalkan AI in Action, AI Nyata Untuk Rumah Sampai Kendaraan
-
Honor Siapkan HP Murah Baterai 10.000 mAh, Usung Layar 1.5K dan Chip Snapdragon
-
46 Kode Redeem FF Terbaru Aktif Januari 2026, Sambut Event Jujutsu Kaisen
-
Spesifikasi TheoTown: Game Viral Bangun Kota, Simulasi Jadi Pejabat Semena-mena
-
Baldur's Gate 3 Tak Tersedia di Nintendo Switch 2, Developer Ungkap Alasannya