COVID-19 FET sensor mendeteksi virus SARS-CoV-2 melalui perubahan arus listrik yang terjadi ketika protein spike pada selimut virus berikatan dengan antibodi pada sensor. Mereka menggunakan sampel protein spike murni,dan hasil pengembangbiakan virus SARS-CoV-2.
Mereka kemudian menguji swab lendir 3 pasien yang menurut uji PCR positif terkena COVID-19 dan 2 yang menurut uji PCR negatif.
Hasilnya menunjukkan 3 pasien positif juga positif COVID dan 2 orang yang negatif juga tidak terinfeksi virus.
Cara pengujian FET sensor
Persiapan sampel untuk pengujian menggunakan COVID-19 FET sensor sangat sederhana.
Sampel dilarutkan ke dalam larutan fosfat alias phosphate-buffered saline (PBS) dengan pH 7.4. Kemudian, sampel diletakkan di atas sensor dan dialirkan arus listrik.
Ketika mereka memberikan sampel protein spike murni, atau hasil pengembangbiakan virus SARS-CoV-2 ke sensor, atau sampel swab lendir dari pasien COVID maka terjadi ikatan dengan antibodi pada sensor yang menyebabkan arus listrik yang mengalir lebih besar dibandingkan ketika tidak ada ikatan sama sekali.
Perubahan arus inilah yang dijadikan para peneliti sebagai indikator keberadaan virus SARS-CoV-2.
Jika diproduksi hanya sekitar Rp 300.000
Baca Juga: Pemprov Telah Tes PCR 120.321 Warga Jakarta
Saya mengontak Edmond pada 7 Mei 2020 untuk bertanya ihwal hal yang belum ada dalam hasil riset yang telah dipublikasikan. Menurut dia, alat ini tidak bisa digunakan berulang kali, dan masih jauh untuk pengembangan berskala industri. Namun, alat ini dapat diproduksi massal dengan harga per satuan berkisar US$20 (sekitar Rp 308.140).
Konsep alat sensor ini juga dapat dikembangkan untuk mendeteksi virus yang sedang berkembang lainnya. Di tengah pandemi COVID-19 yang belum diketahui kapan berakhir, inovasi alat tes yang lebih canggih adalah sebuah keniscayaan.
Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.
Berita Terkait
-
Pandemi Senyap 2026: Mengapa Anak Indonesia Kembali Diserang Campak?
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Pemerintah Siapkan Skenario dari era Covid-19 Hadapi Krisis Energi Akibat Konflik Timur Tengah
-
Jerinx SID Kembali Singgung Konspirasi COVID-19, Ungkit Aksi Demo Tolak Rapid Tes Tahun 2020
-
Epstein Files Singgung Simulasi Pandemi Sebelum COVID-19, Nama Bill Gates Terseret
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 16 April 2026: Hadiah OVR Tinggi, Gems, dan Kompensasi Bug
-
HP Infinix Apa yang Kameranya Bagus? Ini 5 Rekomendasi dengan Harga Termurah
-
Berapa Harga HP Nokia Jadul Sekarang? Simak Daftar Harganya di Sini
-
Harga RAM Naik, Intel Pastikan Inovasi Tak Terhambat
-
Game Star Trek Resurgence Dihapus dari Toko Digital, Lisensi Berakhir
-
75 Kode Redeem FF Max Terbaru 16 April 2026: Raih M1014 Laut Ganas, AK47, dan VSK94
-
Terpopuler: 7 HP Realme dengan NFC Termurah 2026, Tecno Siap Rilis HP Murah Mirip iPhone
-
7 HP Gaming Murah Dibawah Rp1 Jutaan, Kuat Main Gim Berat Tanpa Lag
-
Daftar Harga HP Vivo Terbaru 2026 Lengkap, Mana Paling Worth It Sesuai Budget Kamu?
-
Daftar 6 iPhone Paling Worth It Dibeli di Tahun 2026 dan Harganya