Suara.com - Badan Antariksa Eropa (ESA) membuat peta online untuk publik yang dapat melacak polusi di seluruh dunia, termasuk perubahan kualitas udara yang diamati selama lockdown karena pandemi virus Corona (Covid-19).
Peta ini menggunakan data dari satelit Copernicus Sentinel-5P milik ESA, yang diluncurkan pada tahun 2017 untuk memetakan polutan global dengan menggunakan instrumen Tropomi yang mendeteksi "sidik jari unik" dari gas atmosfer untuk mencitrakan polutan udara secara akurat dan pada resolusi yang lebih tinggi.
Pada skala global, peta ini menunjukkan konsentrasi nitrogen dioksida rata-rata selama 14 hari, menyoroti pengurangan drastis konsentrasi di banyak daerah.
Nitrogen dioksida adalah gas yang dipancarkan dari kendaraan dan pembangkit listrik saat membakar bahan bakar. Menghirup udara dengan konsentrasi nitrogen dioksida tinggi dapat mengiritasi sistem pernapasan manusia dan menyebabkan asma, batuk, serta kesulitan bernapas.
Ketika nitrogen dioksida berinteraksi dengan air, oksiden, dan bahan kimia lainnya, gas ini dapat membentuk hujan asam yang dapat merusak ekosistem. Konsentrasi nitrogen dioksida global dapat sangat bervariasi setiap hari karena fluktuasi tingkat emisi atau kondisi cuaca yang berubah.
Citra satelit dari Maret 2020 menunjukkan adanya penurunan tingkat nitrogen dioksida yang berkelanjutan di China sejak awal tahun, sebagian karena perlambatan ekonomi akibat wabah virus Corona. Tetapi sekarang, terjadi peningkatan nitrogen dioksida di wilayah ini karena pemerintah mulai mencabut aturan lockdown.
"Sekarang langkah-langkah mitigasi Covid-19 sedang santai di banyak negara, konsentrasi nitrogen dioksida meningkat. Di China, ini membawa konsentrasi nitrogen dioksida kembali ke level normal," tulis ESA, seperti dikutip dari IFL Science pada Sabtu (13/6/2020).
Sementara di seluruh Eropa, pengurangan dalam konsentrasi nitrogen dioksida diamati antara Maret dan April tahun ini di beberapa kota besar, di antaranya Paris, Madrid, dan Roma.
India sendiri mengalami penurunan tingkat polusi di beberapa kota sebanyak 50 persen sebagai dampak lockdown karena virus Corona.
Baca Juga: Air Danau di India Mendadak Berubah Warna Jadi Pink, Ada Apa?
ESA menyimpulkan bahwa pemantauan kualitas udara di Eropa dan di seluruh dunia adalah sesuatu yang penting dalam konteks perubahan kualitas udara, terutama yang berkaitan dengan lockdown global terkait dengan Covid-19.
Berita Terkait
-
Kota Arunika yang Bernapas dengan Asap
-
Waspada! Udara Jakarta Tidak Sehat, Risiko ISPA Mengintai Warga
-
Jakarta Jangan Ikut Sumbang Polusi Lewat Bakar Sampah
-
Sabtu Pagi Berselimut Polusi, Jakarta Kembali Masuk Daftar Kota dengan Udara Terburuk Dunia
-
Hujan Buatan Diklaim Tekan Polusi Jakarta hingga 57 Persen
Terpopuler
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Cabut, Cesc Fabregas Blak-blakan Dibuat Kecewa Kiper Como
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Powder Foundation Wardah untuk Kulit Sawo Matang Shade Apa? Ini 5 Pilihannya
- 5 Shio Beruntung Hari Ini 4 September 2026, Urusan Mulai Lancar
Pilihan
-
Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Anak Krakatau, PVMBG Jawab Kekhawatiran Potensi Tsunami
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Tengah Malam: Fenomena Lava Air Mancur Muncul
-
Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
-
Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar
-
Api Masih Merah! 105 Personel Cari Korban Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang yang Terjebak
Terkini
-
8 WNI Diduga Gabung Militer Rusia, Ketua MPR Desak Pemerintah Bergerak Cepat
-
5 Sifat dan Karakter Utama Zodiak Leo Pria-Wanita, Punya Sisi Dominan yang Bikin Penasaran
-
Belajar Melihat Dunia dari Perspektif Berbeda, Bekal Generasi Muda Menyambut Masa Depan
-
Menyelami Sensasi Sensori dan Ketegangan dalam Film 'Tuner'
-
Dana IPO Superbank Rp1,4 T Masih Menganggur
-
Motor Mungil Harga Rp84,5 Juta: Mengungkap Pesona Honda ST125 Dax yang Bikin 'Sultan' Rela Antre
-
Belum Juga Debut Mees Hilgers Bikin Pelatih SC Heerenveen Kecewa Berat
-
Pakar UMY Kritik Keras Penanganan Karhutla: Memidana 400 Orang Tak Bakal Buat Jera
-
Drama di Way Halim: Tandukan Allano Gagalkan Kemenangan Bajul Ijo di Laga Pembuka
-
Anggaran Cegah Karhutla Seret, Pemerintah Baru Bisa Bergerak Saat Api Membesar