Tekno / Sains
Minggu, 28 Juni 2020 | 06:15 WIB
[ABC News Australia].

Pejabat China mengatakan mereka melakukan tes terhadap hampir 1,5 juta warga di Wuhan dalam satu hari.

Namun hal tersebut dilakukan lewat sistem tes bernama 'pool testing', di mana sampel dari 10 orang diproses secara bersamaan.

Bila ada yang positif dari kelompok tersebut, maka kemudian tes terhadap para individu dalam kelompok tersebut akan dilakukan.

Apakah pengetesan mencegah penularan?

Beberapa pakar kesehatan masih bersikeras mengatakan tes massal terhadap warga merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan.

Mereka menanggap prioritas utama saat ini masih 'social distancing'.

"Kekhawatiran saya adalah kita akan memberikan harapan palsu jika dengan pengetasan akan mencegah penularan. Bukan itu. Perilaku kita penyebab penyebaran," kata Jonathan Quick, profesor kesehatan publik dalam acara Podcast World Affairs.

Namun menurut para pakar ekonomi, melakukan lockdown sampai vaksin ditemukan hanya akan menghancurkan perekonomian yang sudah ada.

"Biaya untuk testing dan pelacakan akan jauh lebih rendah dibandingkan biaya ekonomi karantina kolektif yang terus berlanjut, sekitar 140 sampai 500 miliar dolar setiap bulan," kata para peneliti dari Harvard.

Baca Juga: Pemadaman Internet Terlama dalam Sejarah, Rakhine Kesulitan Info Covid-19

Professor Romer mengatakan tes massal adalah satu-satunya cara agar Amerika Serikat bisa kembali ke kehidupan normal.

"Perbedaannya di sini adalah masalah logistik. Apakah kita bisa melakukan tes sebanyak itu? Jawaban saya adalah ya, kita harus melakukannya untuk mengetahuinya," katanya.

Setelah terjadi penurunan angka penularan COVID-19 selama beberapa minggu belakangan, angka infeksi di Amerika Serikat meningkat lagi.

Menurut angka dari Johns Hopkins University, pada tanggal 24 Juni angka kasus baru di AS adalah 34.700 orang, angka harian tertinggi sejak bulan April.

Gedung Putih juga sedang mempersiapkan kemungkinan adanya gelombang kedua penularan di sekitar bulan Oktober saat cuaca mulai dingin.

Namun Presiden Donald Trump tidak mempertimbangkan pandangan para pakar mengenai tes massal.

Bahkan, sebelumnya Presiden Trump mengatakan bahwa virus akan 'menghilang' meskipun tidak ada vaksin yang berhasil dibuat.

Presiden Trump dalam pidato kampanyenya di depan pendukungnya di Tulsa mengatakan bahwa dia sudah memberitahu pejabat yang dipimpinnya untuk 'mengurangi pengetesan', tapi kemudian para pembantunya mengatakan bahwa Trump hanya bergurau.

Dr Fauci kepada Kongres mengatakan, dia dan timnya tidak pernah mendapatkan instruksi dari Trump untuk mengurangi jumlah tes guna menutupi jumlah angka penularan di AS.

"Kami melakukan lebih banyak tes, bukan lebih sedikit," katanya.

Sejauh ini tercatat 120 ribu orang meninggal dunia di Amerika Serikat karena COVID-19

Amerika Serikat dan sudah melakukan tes terhadap lebih dari 30 juta orang sejak pandemi dimulai, meski beberapa pakar mengatakan jumlah itu masih belum cukup.

Menurut para pakar dari Johns Hopkins University, jumlah kasus positif yang ada menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi "wabah terbesar yang terjadi di dunia".

Load More