Pejabat China mengatakan mereka melakukan tes terhadap hampir 1,5 juta warga di Wuhan dalam satu hari.
Namun hal tersebut dilakukan lewat sistem tes bernama 'pool testing', di mana sampel dari 10 orang diproses secara bersamaan.
Bila ada yang positif dari kelompok tersebut, maka kemudian tes terhadap para individu dalam kelompok tersebut akan dilakukan.
Apakah pengetesan mencegah penularan?
Beberapa pakar kesehatan masih bersikeras mengatakan tes massal terhadap warga merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan.
Mereka menanggap prioritas utama saat ini masih 'social distancing'.
"Kekhawatiran saya adalah kita akan memberikan harapan palsu jika dengan pengetasan akan mencegah penularan. Bukan itu. Perilaku kita penyebab penyebaran," kata Jonathan Quick, profesor kesehatan publik dalam acara Podcast World Affairs.
Namun menurut para pakar ekonomi, melakukan lockdown sampai vaksin ditemukan hanya akan menghancurkan perekonomian yang sudah ada.
"Biaya untuk testing dan pelacakan akan jauh lebih rendah dibandingkan biaya ekonomi karantina kolektif yang terus berlanjut, sekitar 140 sampai 500 miliar dolar setiap bulan," kata para peneliti dari Harvard.
Baca Juga: Pemadaman Internet Terlama dalam Sejarah, Rakhine Kesulitan Info Covid-19
Professor Romer mengatakan tes massal adalah satu-satunya cara agar Amerika Serikat bisa kembali ke kehidupan normal.
"Perbedaannya di sini adalah masalah logistik. Apakah kita bisa melakukan tes sebanyak itu? Jawaban saya adalah ya, kita harus melakukannya untuk mengetahuinya," katanya.
Setelah terjadi penurunan angka penularan COVID-19 selama beberapa minggu belakangan, angka infeksi di Amerika Serikat meningkat lagi.
Menurut angka dari Johns Hopkins University, pada tanggal 24 Juni angka kasus baru di AS adalah 34.700 orang, angka harian tertinggi sejak bulan April.
Gedung Putih juga sedang mempersiapkan kemungkinan adanya gelombang kedua penularan di sekitar bulan Oktober saat cuaca mulai dingin.
Namun Presiden Donald Trump tidak mempertimbangkan pandangan para pakar mengenai tes massal.
Berita Terkait
-
Pantau Saham AS dan Kripto Kini Bisa Lebih Mudah
-
Harga Minyak Dunia Naik Tipis: Stok AS Merosot di Tengah Ambisi Trump Kuasai Minyak Venezuela
-
Dibalik Penangkapan Nicolas Maduro: Mengapa AS Pilih 'Surgical Strike' Ketimbang Invasi Total?
-
Waspada Gejala Superflu di Indonesia, Benarkah Lebih Berbahaya dari COVID-19?
-
Gedung Kedubes AS Diguncang Protes, Massa Buruh: Jangan Sampai Indonesia Jadi Sasaran Berikutnya
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
21 Kode Redeem FC Mobile 11 Januari 2026, Dapatkan Ribuan Gems hingga Pemain Legendaris
-
Daftar 28 Kode Redeem FF 11 Januari 2026, Cek Bocoran Event Ramadan Lost Treasure
-
7 HP Kamera AI Terbaik Harga Rp1 Jutaan, Foto Auto Jernih Tanpa Editing
-
4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
-
Spesifikasi Up Phone, HP Buatan Indonesia yang Desainnya Mirip iPhone
-
5 HP Rp2 Jutaan Kamera Terbaik 2026 untuk Konten Kreator
-
Cara Membuat Subtitle Otomatis di CapCut untuk Video TikTok dan Instagram
-
Apa Perbedaan iPad Air dari iPad Pro? Ini 5 Rekomendasi Terbaik
-
Daftar Harga iPhone Januari 2026, Benarkah Lebih Mahal?
-
5 HP Murah di Bawah Rp1 Juta yang Masih Layak Pakai di 2026