-
AS membangun fasilitas karantina di Kenya untuk mengisolasi warganya yang terpapar virus Ebola.
-
Warga AS yang menunjukkan gejala Ebola dilarang pulang dan akan dievakuasi ke negara ketiga.
-
Kebijakan isolasi di luar negeri ini menuai kritik tajam dari para pakar kesehatan internasional.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah drastis dengan melarang warga negaranya yang terpapar virus Ebola untuk pulang ke tanah air. Washington memilih membangun pusat karantina khusus di Kenya guna memastikan virus mematikan tersebut tidak mencapai wilayah domestik mereka.
Langkah ini mencerminkan perubahan radikal dalam kebijakan penanganan pandemi luar negeri Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump kini berfokus pada isolasi total demi menutup rapat semua jalur masuknya kasus infeksi.
Kebijakan ketat ini diterapkan di tengah lonjakan tajam varian Ebola Bundibugyo yang belum memiliki vaksin resmi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan situasi ini sebagai darurat kesehatan internasional yang mengancam global.
Pusat karantina tersebut didirikan di Pangkalan Udara Laikipia yang berlokasi di Nanyuki, Kenya. Fasilitas ini khusus diperuntukkan bagi warga Amerika berkategori risiko tinggi yang telah terpapar namun belum menunjukkan gejala.
Guna melancarkan rencana ini, Departemen Luar Negeri AS mengucurkan dana bantuan kesiapsiagaan Ebola kepada Kenya sebesar 13,5 juta dolar AS. Komunikasi intensif juga telah dilakukan antara Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Presiden Kenya William Ruto.
"Prioritas tertinggi Amerika Serikat tetap melindungi kesehatan dan keamanan rakyat Amerika dengan bekerja mencegah wabah Ebola mencapai pantai kami," bunyi pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS dikutip dari Reuters, Jumat (29/5/2026).
Fasilitas di Kenya ini akan menyediakan perawatan medis lanjutan bagi warga AS sebelum mereka dipindahkan. Namun, setelah dievakuasi dari pangkalan tersebut, mereka tidak akan dibawa pulang ke AS melainkan dipindahkan ke negara ketiga.
"Mereka kemudian akan dievakuasi ke fasilitas tersier. CDC sedang bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk mengidentifikasi di mana fasilitas atau fasilitas-fasilitas tersebut berada," ujar seorang pejabat senior AS.
Fokus utama penanganan wabah kali ini sepenuhnya diarahkan pada pembatasan wilayah udara dan teritorial domestik. Pemerintah AS menegaskan tidak akan menoleransi masuknya satu pun kasus infeksi ke dalam negeri.
Baca Juga: Harga Minyak Langsung Ugal-ugalan Usai Amerika Serang Iran Lagi
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan sikap keras pemerintah terkait perlindungan batas negara ini.
"Kita tidak bisa dan tidak akan membiarkan kasus Ebola apa pun memasuki Amerika Serikat," tegas Rubio.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS juga telah memberlakukan larangan perjalanan sementara dari wilayah berisiko tinggi. Larangan ini menyasar pelaku perjalanan dari Republik Demokratik Kongo (DRC), Uganda, hingga Sudan Selatan.
Aturan ketat ini bahkan berlaku bagi pemegang green card yang biasanya mendapatkan pengecualian dalam aturan imigrasi. Selain itu, skrining ketat juga mulai diterapkan di tiga bandara utama Amerika Serikat.
Strategi isolasi di luar wilayah ini sangat kontras dengan penanganan wabah Ebola pada tahun 2014 silam. Saat itu, pasien terinfeksi diizinkan pulang dan dirawat di pusat penyakit infeksi khusus di dalam negeri.
Pihak Gedung Putih membantah bahwa keputusan mengisolasi warga di luar negeri ini bermuatan politis. Mereka berdalih langkah ini murni demi kecepatan penanganan dan keselamatan warga di domestik.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Pembunuh Driver Ojol di Tangerang Ditangkap! Korban Ditusuk Saat Tidur di Basecamp
-
Bawa Koper Pink Bertuliskan BAP, Penyidik Polri Datangi Gedung Bundar Kejagung
-
Cegah Intervensi Politik, KPK Diminta Turun Tangan Awasi Kasus Makan Bergizi Gratis
-
Di DPR, Menkeu Purbaya Soroti Efisiensi APBN dan Tantangan Besar Program MBG
-
Koalisi Perempuan Indonesia: Transisi Energi yang Adil Harus Melibatkan Perempuan Sejak Awal
-
LPSK Tolak JC Sony Sonjaya: Dianggap Pelaku Utama dan Belum Berkomitmen Kembalikan Aset Korupsi MBG
-
Kapolri, Jaksa Agung dan Panglima Jangan Cuma Salaman! Publik Tunggu Nyali Tuntaskan Kasus Febrie
-
Penghentian Pendataan MBG oleh Kejaksaan Dipertanyakan, Diduga Ada Tarik Ulur Politik
-
Skincare Kian Laris di TikTok Shop, BPOM Malah Temukan 9.042 Tautan Kosmetik Ilegal
-
Jawab Kritik DPR, Menkeu Purbaya Pastikan Dana Pendidikan 20 Persen Tak Diganggu