Suara.com - Para ilmuwan mendapatkan penemuan baru yang mengejutkan tentang tikus tanpa rambut dan keriput, yang hidup di bawah tanah karena dapat membuka jalan untuk cara mencegah kanker pada manusia.
Tikus-tikus "telanjang" itu berasal dari Afrika Timur dan telah lama menjadi perhatian ilmuwan karena kekuatan misteriusnya.
Makhluk bergigi besar, bermata kecil, dan berdarah dingin ini kebal terhadap jenis rasa sakit tertentu. Mereka dapat bertahan hidup selama 18 menit tanpa oksigen, dan dapat hidup selama lebih dari 30 tahun, yang menentang hukum biologis penuaan.
Tikus-tikus tersebut juga sangat tahan terhadap kanker, suatu sifat yang membuat hewan itu menjadi fokus tim ilmuwan yang mempelajari penyakit kanker di seluruh dunia.
Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa tikus ini hampir tidak pernah mengembangkan penyakit, dengan hanya segelintir kasus yang pernah diamati pada spesies, karena sel sehat tikus hanya kebal dari sel kanker.
Namun, para ilmuwan dari Universitas Cambridge sekarang telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa gen yang diketahui menyebabkan kanker pada sel-sel hewan pengerat lainnya dapat mengubah sel-sel tikus "telanjang" menjadi kanker.
Para ilmuwan menyimpulkan, yang membedakan tikus tanpa rambut itu adalah sistem sel dan molekul kompleks di sekitar sel, termasuk sistem kekebalan tubuh. Para ahli percaya interaksi dengan sistem ini, yang dikenal sebagai lingkungan mikro, menghentikan tahap awal kanker berkembang menjadi tumor.
"Hasilnya mengejutkan bagi kami dan telah sepenuhnya mengubah pemahaman kami tentang resistensi kanker pada tikus 'telanjang'. Jika kita dapat memahami apa yang spesial tentang sistem kekebalan hewan ini dan bagaimana mereka melindunginya dari kanker, kita mungkin dapat mengembangkan intervensi untuk mencegah penyakit pada manusia," ucap Dr Walid Khaled, farmakologis di Universitas Cambridge dan salah satu penulis senior penelitian, seperti dikutip dari Independent, Jumat (3/7/2020).
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, para ilmuwan menganalisis 79 garis sel berbeda yang tumbuh dari usus, ginjal, pankreas, paru-paru, dan jaringan kulit yang diambil dari 11 tikus tanpa rambut.
Baca Juga: Pecahkan Misterinya, Ilmuwan Ungkap Rahasia di Balik "Ular Terbang"
Tim ahli menginfeksi sel dengan virus yang dimodifikasi untuk memperkenalkan gen yang diketahui menyebabkan kanker pada sel tikus lain, tetapi tak terduga itu mampu mengubah sel tikus tanpa rambut menjadi kanker.
"Yang mengejutkan kami, sel-sel tikus 'telanjang' yang terinfeksi mulai berkembang biak dan dengan cepat membentuk koloni di laboratorium. Kami tahu dari percepatan pertumbuhan ini bahwa itu menjadi kanker," kata Fazal Hadi, ilmuwan pascadoktoral dan ilmuwan utama dalam penelitian ini.
Tim ilmuwan kemudian menyuntikkan sel-sel ini ke tikus dan dalam beberapa minggu membentuk tumor. Hasil yang para ilmuwan katakan menunjukkan itu adalah lingkungan tubuh tikus-tikus yang mencegah kanker berkembang.
Menariknya, penemuan ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya, termasuk studi pada 2013 yang menyimpulkan sel tikus tanpa rambut telah mengembangkan sifat bawaan yang menghentikan sel menjadi kanker.
Namun, penulis studi sebelumnya menanggapi tim ilmuwan dari Universitas Cambridge. Dalam sebuah tanggapan yang dipublikasikan di Nature, para ilmuwan yang sebagian besar berbasis di University of Rochester New York berpendapat bahwa penelitian baru ini mencapai hasil yang berbeda karena penelitian tersebut mengekspos sel-sel pada tingkat gen penyebab kanker yang "sangat tinggi".
Tim ilmuwan dari Universitas Cambridge mengatakan, mereka akan terus menyelidiki mekanisme di mana tikus-tikus menghentikan sel kanker agar tidak berkembang menjadi tumor, dengan maksud mengungkapkan cara-cara baru untuk mengobati atau mencegah kanker pada manusia.
Berita Terkait
-
Kajian Ilmiah: Tikus Dijual di Pasar Asia Tenggara Mengandung Virus Corona
-
Wanita Ini Beli Cincin Tunangan dari Ekor Tikus, Begini Penampakannya
-
Selama Pandemi Covid-19, Tikus Kelaparan Jadi Agresif
-
Peneliti Duga Virus HEV Tikus Sudah Ada Sejak Lama, ini Saran Pencegahannya
-
Ditemukan Virus Hepatitis E Baru, dari Tikus Menular ke Manusia
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Turnamen Domino Nasional HGI Digelar di Jakarta, 1.500 Peserta Berebut Hadiah Rp200 Juta
-
Terpopuler: 4 Portable Power Station untuk Hadapi Mati Listrik, HP Xiaomi yang Terbukti Laris
-
Bisakah Melacak iPhone yang Mati Total? Ini Jawaban dan Cara Lengkapnya
-
Imbas Lonjakan Harga Memori, Nothing Batalkan Peluncuran CMF Phone Terbaru
-
4 Adaptor Fast Charging yang Awet dan Tak Bikin HP Panas
-
5 Rekomendasi HP Murah Baterai Jumbo dan Fast Charging, Cocok untuk Driver Ojol
-
ASUS ExpertBook P1 PM1403, Laptop Bisnis dengan Berat Hanya 1,4kg!
-
4 HP Xiaomi yang Terbukti Laris: Kamera Saingi iPhone, Harga Kompetitif
-
4 Portable Power Station Terbaik dengan Solar Panel, Cocok untuk Cadangan Daya saat Mati Listrik
-
Harga Fitbit Air Gelang Pintar Google, Lengkap dengan Spesifikasi dan Review