Suara.com - Vaksin virus Corona (Covid-19) untuk manusia belum tersedia hingga saat ini dan para ilmuwan masih berupaya untuk membuatnya. Tetapi anti-vaxxers, kelompok orang-orang yang tidak percaya pada vaksinasi, memanfaatkan momen pandemi ini untuk menyebarkan disinformasi di media sosial.
Salah satunya, video "Plandemic" yang mengklaim bahwa Covid-19 merupakan pengaturan pemerintah telah ditonton jutaan kali di YouTube dan platform streaming lainnya.
Selain itu, daftar zat dengan nama-nama yang terdengar menakutkan seperti fenoksietanol dan kalium klorida, juga disebut beracun dalam vaksin yang telah dibagikan ribuan kali di Facebook sejak akhir April.
Menurut para ahli, retorika anti-vax bukanlah hal baru, tetapi itu telah mendapatkan visibilitas yang sangat besar selama pandemi.
Media sosial telah menciptakan "ruang gema" yang sangat efisien untuk anti-vaxxers. Menurut Sylvain Delouvee, ilmuwan psikologi sosial di University of Rennes, Perancis, mengatakan retorika anti-vas terus berkembang, tanpa definisi yang jelas.
"Ini terlepas dari klaim platform media sosial bahwa mereka akan membatasi konten anti-vaksin yang viral, berita utama palsu tetap berkembang biak," ucap Sylvain Delouvee, seperti dikutip dari Science Alert, Senin (6/7/2020).
Beberapa klaim menyesatkan lainnya, seperti artikel yang mengklaim bahwa vaksin mengandung bahan kimia berancun yang sama dengan zat yang digunakan untuk injeksi mematikan, tampaknya muncul kembali secara online, meskipun tanpa merujuk langsung ke Covid-19.
Menurut David Broniatowski dari Universitas George Washington di DC mengatakan belum ada kejelasan mengenai sejauh mana pandemi telah mengubah lanskap informasi yang salah.
"Kami masih menyelidiki pertanyaan apakah penentang vaksin lebih aktif karena pandemi atau apakah mereka hanya lebih terlihat karena meningkatnya perhatian yang diberikan pada pandemi," kata Broniatowski.
Baca Juga: Balita Ditanya Cari Melawan Covid-19, Jawabannya Bikin Ngakak
Sementara menurut Amelia Jamison dari University of Maryland, ia meyakini perhatian yang diberikan pada Covid-19 memungkinkan anti-vaxxers untuk mengubah berita menjadi narasi yang ada.
"Ada grup kecil, tapi sangat aktif di internet. Pandemi ini baru saja memberi energi kembali pada mereka," tutur Jamison.
Jamison mencatat bahwa di Amerika Serikat khususnya, gerakan anti-vax, anti-masker, dan anti-karantina telah berkumpul bersama-sama dengan alasan menjaga kebebasan individu.
Sylvain Delouvee menambahkan bahwa anti-vaxxers "mengambil lebih banyak ruang secara online" dan membandingkan gelombang aktivitas anti-vax saat ini dengan "groundswell".
Kata Groundswell sendiri ditujukan untuk suatu trend di mana orang-orang secara spontan bergerak memakai media-media online untuk berinteraksi, berelasi, mendapatkan pengalaman, dan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tetapi Jamison mengatakan bahwa hal-hal yang tersebar di internet tidak selalu seperti yang terlihat.
Berita Terkait
-
Penggemar Film Horor Disebut Lebih Baik dalam Mengatasi Pandemi Covid-19?
-
Taj Mahal Kembali Dibuka, Wisatawan Dibagi Dua Kelompok
-
Ditunggu! 2 Pekan Lagi WHO Dapatkan Hasil Awal Uji Coba Obat Covid-19
-
Optimistis, India Targetkan Vaksin Covid-19 Ditemukan Pertengahan Agustus
-
Pandemi Covid-19, Penyandang Disabilitas Laring Kesulitan Melakukan Terapi
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
-
Prabowo Tunjuk Juda Agung jadi Wamenkeu, Adies Kadir Resmi Jabat Hakim MK
-
Lakukan Operasi Senyap di Bea Cukai, KPK Amankan 17 Orang
-
Juda Agung Tiba di Istana Kepresidenan, Mau Dilantik Jadi Wamenkeu?
-
Viral Dugaan Penganiayaan Mahasiswa, UNISA Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi
Terkini
-
7 HP 5G Rp3 Jutaan Pesaing Redmi Note 15 5G: Spek Gahar, Harga Bersahabat
-
52 Kode Redeem FF 5 Februari 2026: Cek Bocoran Bundle Valentine dan Evo Gun Scorpio
-
19 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 5 Februari 2026: Rebutan Dembele UTOTY yang OP Banget
-
Vivo X300 Ultra Bakal Bawa Sensor Sony LYT901 dan Baterai 7.000 mAh
-
File Epstein Guncang Dunia Game: Mantan Petinggi GTA dan Call of Duty Terseret
-
5 HP Murah Tanpa Iklan 'Pop-Up', Pemakaian Harian Tenang tanpa Gangguan
-
Teknologi Sinematik Membawa Pengalaman Walk-Through Virtual Pertama ke Indonesia
-
Keamanan Siber Indonesia Masuki Babak Baru, Konvergensi IT dan OT Jadi Sorotan
-
Terungkap! Alasan Poco F8 Basic Tak Masuk Indonesia
-
5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton