Suara.com - Selama beberapa dekade terakhir, Hollywood memproduksi film bertema robot thriller, seperti "The Terminator", "Blade Runner", dan "Westworld". Garis besar dari ketiga film tersebut seakan memperingatkan para penontonnya bahwa ketergantungan manusia pada kecerdasan buatan adalah ancaman nyata bagi peradaban manusia itu sendiri.
Di kehidupan nyata, para peneliti dari Human Rights Watch pun memiliki kekhawatiran yang sama terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang disematkan pada robot di masa depan bukan mustahil akan melebihi para penciptanya.
Oleh karena itu, mereka menulis sebuah studi yang isinya menjelaskan bahwa dunia memerlukan undang-undang tentang pelarangan pembuatan robot yang memiliki fungsi untuk membunuh.
Pesan tersebut merupakan bagian dari kampanye global mereka untuk menyerukan larangan senjata otonom penuh yang saat ini sedang dikembangkan sejumlah negara maju.
“Menghapus kendali manusia dari penggunaan alat teknologi, secara luas dianggap sebagai ancaman besar bagi umat manusia,” kata Mary Wareham, direktur advokasi divisi senjata di Human Rights Watch, seperti dikutip dari New York Post, Selasa (11/8/2020).
Oleh karena itu, Wareham mendesak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat perjanjian internasional yang melarang penggunaan teknologi AI pada senjata militer. Dalam studinya, Human Rights Watch menganalisis kebijakan pertahanan dari 97 negara yang mengembangkan teknologi robotika untuk keperluan perang.
"Senjata otonom berbasis robotika akan memutuskan siapa yang hidup dan mati, tanpa mempertimbangkan karakteristik manusia yang melekat, seperti belas kasih yang diperlukan untuk membuat pilihan etika yang kompleks," tulis studi tersebut.
Selain banyak potensi mengakibatkan kematian massal, Human Rights Watch juga mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab atas tindakan perang yang melanggar hukum yang dilakukan oleh senjata otonom. Apakah itu pemrogram komputer atau komandan militer dari negara yang membuat teknologi tersebut?
Di sisi lain, Sekjen PBB António Guterres menyatakan dukungannya terhadap saran dari penelitian tersebut. Ia menilai, pengembangan program robotika pada militer sangat menjijikkan secara moral dan tidak dapat diterima secara politik. Bahkan, ia juga mendesak agar negara-negara di dunia untuk segera mengambil tindakan konkret.
Baca Juga: Keren, YouTuber Ciptakan Robot Pemotong Rambut
Sejauh ini, setidaknya 30 negara, termasuk Austria, Brasil, dan Chile, sedang berupaya untuk melarang penggunaan senjata ini secara global. Namun, sejumlah negara berpengaruh di dunia, seperti Rusia dan Amerika Serikat, seakan menghambat rencana pembuatan perjanjian internasional tersebut. Mereka berdalih, telah berinvestasi besar-besaran untuk pengembangan sistem senjata otonom berbasis kecerdasan buatan.
Berita Terkait
-
Keren, Penelitian Robot Laboratorium Ini Diklaim 1.000 Kali Lebih Cepat
-
Gokil, Robot Ini Rakit PS4 Hanya 30 Detik!
-
5 Mitos Keliru Tentang Teknologi Robot di Industri dan Pabrik
-
Harganya Sampai Ratusan Juta, Ini Robot Seks yang Diklaim Punya Perasaan!
-
Yuk, Kenalan dengan Robot Kece Perawat Pasien Covid-19 Buatan Indonesia
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
Terkini
-
Jangan Panik! Ini Cara Mudah Memulihkan Dokumen Word yang Hilang
-
5 HP RAM Besar dan Kamera Selfie Resolusi Tinggi, Harga Rp1 Jutaan Buat Ngonten
-
68 Kode Redeem FF 6 Januari 2026, Siap-siap Bundle Gojo Satoru dan Sukuna Hadir
-
LG Buka Era AI in Action di CES 2026, Hadirkan CLOiD Robot Rumah yang Benar-Benar Mengerti Kamu
-
32 Kode Redeem FC Mobile 6 Januari 2026, Klaim Gems Gratis Sebelum Maintenance Besok
-
TRYX Bikin PC Naik Level di CES 2026: Pendingin Berlayar, Casing Super Senyap, dan Desain Futuristik
-
Asus ROG Unjuk Gigi di CES 2026, Hadirkan Inovasi Gaming Masa Depan Berbasis AI
-
Serupa tapi Tak Sama: Ini Adu Fitur Honor Power 2 vs iPhone 17 Pro
-
Spesifikasi Honor Power 2: Mirip iPhone 17 Pro, Usung Baterai 10.080 mAh dan Dimensity 8500
-
Game Populer yang Laris, Arc Raiders Siap Jadi Film dan Serial TV?