Tekno / Sains
Senin, 17 Agustus 2020 | 22:39 WIB
[ABC News Australia].

Dalam wawancara dengan Indo Lit Club yang ditayangkan di YouTube baru-baru ini, Ian mengatakan tema utama dari semua buku yang ditulisnya adalah mengenai rempah-rempah, pulau-pulau yang menghasilkan rempah di Indonesia, serta kehadiran VOC.

"Saya ingin menghidupkan kembali kisah-kisah tersebut."

Namun ketika pensiun, Ian mengatakan sama sekali tidak menduga akan mampu menerbitkan lima buku dalam 10 tahun terakhir.

"Menulis buku pada awalnya adalah hobi setelah pensiun. Saya berpikir mungkin setelah saya melakukan penelitian, saya tidak akan menuliskannya dalam buku," katanya dalam wawancara dengan Toni Pollard di kanal YouTube tersebut.

"Lalu saya menulis buku, tapi berpikir mungkin buku itu tidak akan pernah selesai. Setelah selesai menulis, saya merasa mungkin tidak akan ada yang mau menerbitkannya," katanya.

Namun Ian mengaku jika sejauh ini belum ada penerbit atau perseorangan yang berminat untuk menterjemahkan buku-bukunya ke dalam bahasa Indonesia.

"Selama ini minat terhadap buku-buku saya lumayan, namun terbatas, karena saya menulis untuk kalangan yang terbatas, yaitu orang-orang asing yang berbahasa Inggris yang tertarik dengan Indonesia," katanya.

Kenangan indah dari perjalanan ke Indonesia

Salah satu buku yang berdasarkan pengalaman pribadinya adalah tertuang dalam buku "A Journey Across the Archipelago", di mana Ian menceritakan kisahnya menjelajahi berbagai kawasan Indonesia mulai dari Jakarta sampai ke Timor Timur saat itu.

Baca Juga: TMM Gandeng Badan Geologi KESDM Uji Hasil Pengolahan Nikel

"Saya pernah mengunjungi Oecusse di wilayah Timor Timur [sekarang Timor Leste] yang terpisah dari wilayah Timor Timur, karena berada di wilayah Timor Barat."

"Saya juga melihat Selat Flores dari dekat Larantuka … selat itu dikelilingi pulau-pulau yang masing-masing memiliki gunung, namun tampak seperti sebuah laut yang luas," tambahnya.

Ian juga terlibat dalam berbagai kegiatan di Indonesia untuk mempromosikan buku-buku yang ditulisnya, termasuk hadir di salah satu festival sastra terkenal di Indonesia, yakni Festival Penulis Ubud di Bali.

"Saya bisa melakukan promosi buku saya di Jakarta lewat Yayasan Warisan Indonesia [Indonesian Heritage Society]," kata Ian Burnet.

"Di Bali di Festival Penulis Ubud, saya hadir mempromosikan empat buku saya, dan juga saya pernah ke Kuala Lumpur, Malaka, Penang, Singapura dan tentu saja di Australia."

Melihat banyak kemajuan di Indonesia

Ian mengaku melihat ada perubahan dengan Indonesia sekarang ini dibandingkan dengan kedatangannya pertama kali di tahun 1968.

"Tentu saja sudah ada begitu banyak kemajuan di Indonesia sejak saya pertama datang dan saya hampir tidak lagi mengenali beberapa bagian di Jakarta," katanya.

Ian mengaku jika ia belajar bahasa Indonesia begitu ia tiba, terlebih karena menikah dengan perempuan Indonesia sehingga ia merasa harus bisa menguasainya.

"Untuk pembicaraan sehari-hari saya mengerti dan bisa melakukannya, namun untuk mendiskusikan hal yang serius, misalnya masalah politik atau agama, kemampuan kosakata saya terbatas," akunya.

Setelah hampir 30 tahun tinggal dan mengenal Indonesia, Ian mengaku memiliki sejumlah hal yang paling ia disukai dari Indonesia yang merayakan kemerdekaan ke-75 di tahun 2020 ini.

"Saya suka nasi Padang, kopi tubruk, cendol, gula merah dan santan, dan tentu saja durian," katanya.

"[Namun] saya tidak suka dengan penggunaan WC Jongkok," katanya sambil tertawa dalam wawancara dengan Indo Lit Club di YouTube.

Load More