Tekno / Sains
Rabu, 09 September 2020 | 12:38 WIB
Vaksin Covid-19 diperkirakan tersedia pada September 2020. Foto: Seorang petugas medis sedang menyuntikkan vaksin flu ke warga Asuncion, Paraguay, pada 15 April kemarin. [AFP/Norberto Duarte]

Suara.com - Ambisi Astrazeneca untuk menjadi penyedia vaksin Covid-19 pertama di dunia tampaknya akan ambyar setelah uji klinis terakhir calon vaksinnya yang dikembangkan bersama Universitas Oxford, Inggris itu dihentikan sementara untuk waktu yang belum ditentukan.

Uji klinis vaksin Covid-19 dari Astrazeneca dan Oxford, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai yang tercepat di antara kandidat vaksin lainnya, dihentikan karena salah satu relawan yang sudah disuntik mengalami gejala penyakit yang belum bisa dijelaskan.

Sudah miliaran dosis vaksin Oxford - Astrazeneca dipesan oleh negara-negara maju, mulai dari Amerika Serikat, Afrika Selatan, Uni Eropa, hingga Australia.

Presiden AS, Donald Trump bahkan sudah mendesak agar vaksin itu tersedia sebelum pemilihan umum pada November nanti. Sementara di India, pabrik-pabrik vaksin terbesar di dunia sudah siap memproduksi vaksin-vaksin Oxford tersebut.

Tindakan rutin

Tetapi dalam pernyataan resminya, Selasa (8/9/2020) Astrazeneca mengatakan bahwa pihaknya secara sukarela menghentikan uji klinis fase 3, yang digelar sejak Juli, untuk memberi kesempatan pada komite independen memeriksa sukarelawan yang menderita sakit tersebut.

"Ini merupakan tindakan rutin yang harus dilakukan ketika ditemukan penyakit yang berpotensi tak bisa dijelaskan pada salah satu pengujian," jelas Astrazeneca, sembari menegaskan bahwa langkah itu diambil untuk memastikan bahwa pengujian dilakukan dengan benar.

Asrazeneca tidak menjelaskan apa saja gejala yang dialami oleh relawan yang sakit tersebut dan apa penyebabnya.

Yang diketahui sejauh ini adalah relawan tersebut berlokasi di Inggris Raya dan ia diduga menderita sakit akibat efek samping vaksin tersebut.

Baca Juga: Alhamdulillah, Vaksin Covid-19 AstraZeneca Masuki Uji Coba Tahap 3

"Dalam pengujian berskala besar, akan ada saja penyakit dan itu harus diperiksa secara independen agar diketahui pasti," lanjut perusahaan yang berbasis di Eropa tersebut.

Astrazeneca belum mengungkapkan sampai kapan penghentian uji klinis itu akan berlaku. Dengan kata lain, belum diketahui pasti kapan uji klinis fase 3 itu dimulai kembali.

Efek samping

Hasil studi fase 2 yang diterbitkan pada Juli lalu, memang ditunjukkan bahwa dari 1000 relawan yang disuntik calon vaksin Covid-19, sekitar 60 persen mengalami efek samping.

Efek samping yang dilaporkan antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa sakit di sekitar titik yang disuntik. Semua gejala efek samping itu tak berlangsung lama dan segera mereda.

Penting dicatat bahwa efek samping dari vaksin bukanlah hal luar biasa. Beberapa vaksin wajib di Indonesia, termasuk BCG, diketahui menyebabkan anak-anak menderita demam.

Load More