Suara.com - Para ilmuwan Amerika Serikat mengatakan bahwa kepunahan massal hewan darat, termasuk amfibi, reptil, mamalia, dan burung, terjadi setiap 27 juta tahun sekali.
Tim ilmuwan melakukan analisis statistik pada peristiwa kepunahan massal, yang diketahui memusnahkan tetrapoda atau hewan dengan empat kaki.
Para peneliti mendeteksi, frekuensi dasar yang signifikan secara statistik dari kepunahan massal di suatu tempat di wilayah 27,5 juta tahun.
Kepunahan massal ini sejalan dengan dampak asteroid besar dan aliran lava vulkanik yang menghancurkan, yang dikenal sebagai letusan banjir basal.
Tim ilmuwan mengatakan bahwa kepunahan dapat ditentukan oleh orbit Bumi di Bimasakti, yang memicu hujan komet dengan potensi memusnahkan semua kehidupan di Bumi.
Penemuan terbaru tentang kepunahan massal yang terjadi secara bersamaan dan tiba-tiba di darat dan di lautan serta dari siklus umum 26 hingga 27 juta tahun, memberikan kepercayaan pada gagasan tentang peristiwa bencana global berkala sebagai pemicu kepunahan.
Faktanya, tiga dari pemusnahan massal spesies di darat dan di laut telah diketahui terjadi pada waktu yang sama dengan tiga dampak terbesar dalam 250 juta tahun terakhir, masing-masing mampu menyebabkan bencana global dan mengakibatkan kepunahan.
Menurut Profesor Michael Rampino, penulis penelitian dari Universitas New York, peristiwa kepunahan vertebrata yang terakhir terjadi 7,25 juta tahun lalu, sehingga peristiwa berikutnya bisa terjadi sekitar 20 juta tahun di masa depan.
Dilansir Dailymail, Selasa (15/12/2020), peristiwa kepunahan massal yang paling terkenal terjadi pada 66 juta tahun lalu, ketika 70 persen dari semua spesies di darat dan di laut, termasuk dinosaurus, tiba-tiba punah. Peristiwa tersebut diyakini terjadi karena tumbukan asteroid atau komet besar dengan Bumi.
Baca Juga: Ilmuwan Australia Ini Temukan Cara Cepat Lacak Virus Corona, Bagaimana?
Ahli paleontologi juga mengatakan, tampaknya kepunahan massal kehidupan laut terjadi dalam siklus 26 juta tahun.
Para ahli astrofisika berhipotesis bahwa hujan komet berkala terjadi di tata surya setiap 26 hingga 30 juta tahun, menghasilkan dampak siklus dan mengakibatkan kepunahan massal secara berkala.
Tim ilmuwan melaporkan bahwa delapan dari sepuluh peristiwa kepunahan darat terjadi bersamaan dengan episode kepunahan laut yang diketahui. Delapan kepunahan massal yang terjadi secara bersamaan di darat dan di lautan juga cocok dengan waktu letusan banjir basal.
"Kepunahan massal global tampaknya disebabkan oleh dampak bencana terbesar dan vulkanisme masif, mungkin kadang-kadang terjadi bersamaan," kata Profesor Rampino.
Penelitian telah diterbitkan di jurnal Historical Biology ini, para ilmuwan menyebut bahwa dalam jangka panjang, letusan dapat menyebabkan pemanasan rumah kaca yang mematikan dan lebih banyak asam serta lebih sedikit oksigen di lautan.
Ahli lain juga telah memperingatkan bahwa peristiwa kepunahan massal paling cepat akan terjadi pada 2100 akibat pemanasan global.
Berita Terkait
-
Akhirnya! Ilmuwan Temukan Cara Memprediksi Letusan Gunung Berapi
-
Hayabusa2 Pembawa Asteroid Sukses Mendarat di Australia
-
Gitanjali Rao, Ilmuwan Muda yang Jadi Cover Majalah Time
-
Ilmuwan Uji Mesin Jet Hipersonik, Diklaim Lakukan Perjalanan dalam 2 Jam
-
Roket Rusak Hampiri Bumi setelah Separuh Abad Menghilang, Dikira Asteroid
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Terkini
-
53 Kode Redeem FF 20 Maret 2026 untuk Klaim SG2 Lumut dan Bundle Joker
-
9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
-
Spesifikasi PC Crimson Desert, Game Aksi Open World Terbaru dengan Aksi Brutal
-
Kenapa Sinyal Internet Lemot saat Lebaran? Begini 5 Cara Mengatasinya
-
10 Cara Merapikan Kabel dan Charger agar Tidak Ruwet
-
Saingi MacBook, Laptop Premium Xiaomi Book Pro 14 Dibanderol Rp19 Jutaan
-
5 Rekomendasi HP Rp2 Jutaan Chipset Snapdragon Terbaik 2026
-
Tak Lagi Rumor, Starfield Bakal Meluncur ke PS5 Bulan Depan
-
Huawei Mate 80 Pro Resmi ke Pasar Global: Andalkan Sensor Premium dan Cincin Kamera Ikonis
-
Arab Saudi Kini Kuasai 10 Persen Saham Capcom, Langkah Agresif Putra Mahkota di Dunia Game