Tekno / Sains
Selasa, 13 April 2021 | 06:15 WIB
Petugas BMKG mengamati pergerakan Siklon Tropis Seroja berdasarkan citra satelit Himawari di Stasiun Klimatologi BMKG Karangploso, Malang, Jawa Timur, Selasa (6/4/2021). [Antara/Ari Bowo Sucipto]

Tak ada sistem peringatan dini

Jika kita bandingkan dengan Australia, negara di seberang Nusa Tenggara Timur, peringatan dini dan informasi siklon di Negeri Kanguru itu cukup memadai.

Di utara Australia, masyarakat mengenal musim siklon. Untuk tahun 2020-2021, pemerintah di sana menetapkan musim siklon mulai November 2020 hingga April 2021.

Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (4/4/2021). Banjir bandang di NTT pekan ini dipicu oleh Siklon Tropis Seroja yang berpusat di sekitar Rote. [Antara/BPBD Flores Timur]

Dalam kasus siklon terakhir, media-media Australia aktif memberitakan potensi siklon tropis di perairan Laut Timor sejak akhir Maret 2021 berdasarkan indikasi terbentuknya bibit siklon.

Di Indonesia, khususnya di NTT, dalam lima tahun terakhir media lokal aktif memberitakan informasi dari BMKG bila terbentuk bibit siklon di Laut Timor atau di Laut Banda.

Namun, dalam kasus Seroja media-media Indonesia baru memberitakan pada 3 April, sehari sebelum kedatangan siklon.

Banyak lembaga, termasuk Badan Meterologi Australia, telah memprediksi bahwa fenomena La Nina, yang menyebabkan curah hujan lebih besar dan ekstrem, masih berlangsung..

La Nina membuat potensi kejadian siklon tropis bukan hanya lebih tinggi tapi juga ada kecenderungan jelajah yang lebih panjang dibanding masa-masa normal.

Ini menunjukkan sangat mendesak bagi Indonesia untuk memiliki sistem peringatan dini yang efektif terkait siklon tropis. Jakarta Tropical Cyclone Warning Center memiliki fasilitas yang minim untuk peringatan dini yang efektif.

Baca Juga: Menkominfo Kunjungi Flores Timur, Cek Jaringan Telekomunikasi Usai Bencana

BMKG perlu memperbarui teknologi, termasuk pengelolaan situs daring dan kualitas informasi peringatan dini yang lebih mudah disebarkan dan gampang dimengerti oleh lembaga-lembaga di daerah dan masyarakat awam.

Mitigasi siklon tropis dan adaptasi iklim

Sejauh ini, Indonesia masih merespons risiko siklon secara parsial.

Misalnya, kita memahami banjir, longsor, dan badai sebagai hal yang terpisah dari siklon tropis. Padahal, semua hal tersebut merupakan wujud dari dampak siklon tropis.

Karakter klimatologis siklon tropis berwujud dalam curah hujan ekstrem, perubahan suhu dan kecepatan angin ekstrem yang relatif panjang di laut, pantai dan daratan.

Sedangkan karakter hidrologisnya bisa kita saksikan dalam wujud genangan ekstrem, banjir, banjir bandang, banjir rob, dan longsor.

Kombinasi dari semua karakter lebih berpotensi mematikan dan menghancurkan capaian-capaian pembangunan yang dibangun dalam skala dekade, seperti di Nusa Tenggara Timur pekan ini.

Langkah mitigasi risiko

Siklon merupakan fenomena alam yang yang hampir mustahil bisa dicegah. Yang bisa kita lakukan adalah menyusun kebijakan dan mendorong perilaku yang bisa mengurangi risiko menjadi korban.

Kementerian Pekerjaan Umum perlu memperbarui standar bangunan, khususnya untuk pembebanan dinding dan atap rumah. Sejauh ini kekuatan angin maksimum yang ada dalam standar bangunan yang dipakai di daerah masih jauh dari Siklon Kategori 1 yang dapat mencapai 100 km per jam.

Misalnya, Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 1727/2013 mengatur aturan pembebanan atap dan struktur lainnya dengan kekuatan angin sekitar 70 km per jam. Kekuatan di atas ini, sekadar diserahkan ke pihak arsitek dan insinyur sipil.

Sedangkan revisinya (SNI 1727/2020) baru diterbitkan pada 2020. Walau belum sensitif pada variasi karakter siklon tropis, revisi ini mulai memperhitungkan “wilayah rawan topan” yang punya peluang terdampak kecepatan angin dasar di atas 185 km per jam. Isinya masih perlu di pahami oleh para pelaku konstruksi.

Namun, mitigasi bukan hanya soal keamanan gedung dan bangunan semata.

Bencana banjir bandang dan longsor akibat badai siklon tropis seroja di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Suara.com/M. Yasir)

Atap dan sampah-sampah rumah tangga yang terbang dapat menghancurkan kehidupan yang dihantamnya.

Di Australia Utara, masyarakat memiliki budaya kelola siklon, termasuk setiap tahun membersihkan material yang mudah terbang sebelum memasuki musim siklon. Hal ini bertalian erat dengan jasa layanan pengelolan sampah pemerintah daerah yang harus dibangun serius.

Perusahaan telekomunikasi dan listrik perlu mendesain ulang pemasangan infrastruktur telekomunikasi dan kelistrikan seperti tiang dan kabel agar terhindar dari hantaman kekuatan badai.

Sebaiknya jaringan kabel diletakkan di bawah tanah.

Tata kota termasuk tata taman maupun vegetasi di perumahan wajib memperhitungkan potensi roboh pohon pada bangunan rumah.

Sejatinya dalam lima puluh tahun ini tiap tahun di selatan Indonesia berpotensi menjadi lintasan siklon.

Perubahan iklim menyebabkan menghangatnya sebagian lautan di daerah dekat tropis/subtropis. Implikasinya, Laut Timor dan Laut Banda di Indonesia berpotensi menjadi tempat perkembangbiakkan baru siklon tropis dan berpotensi terjadi tahunan.

Saatnya kita bersiap menghadapi siklon tropis yang mungkin akan terjadi setiap tahun.

Load More