Tekno / sains
Liberty Jemadu
BMKG mengeluarkan peringatan kekeringan di Jawa Timur sampai NTT. Foto: Warga mengambil air di mata air sungai yang mengering Desa Weninggalih, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/9/2020). [ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya]

Suara.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dengan kategori Awas dan Siaga di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Uniknya di saat yang sama BMKG juga mengeluarkan peringatan potensi hujan ekstrem untuk sebagian wilayah Indonesia yang mayoritas berada di bagian utara.

Pelaksana tugas Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko menyebutkan potensi kekeringan meteorologis tersebut berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang (31- 60 HTH) dan ekstrem panjang (lebih 60 HTH).

"Kategori Awas berpotensi di wilayah Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Bima, Kabupaten Sumbawa), Nusa Tenggara Timur (Kabupaten. Alor, Kabupaten Belu, Kabupaten Flores Timur, Kotamadya Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Timortengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Timur)," ujar Urip dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (24/8/2021).

Baca Juga: BMKG: Ada Potensi Curah Hujan Ekstrem dalam 20 Hari ke Depan

Sementara wilayah dengan kategori Siaga dengan potensi kekeringan meteorologis berada di Jawa Timur (Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Situbondo), Bali (Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem), Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Timur), Nusa Tenggara Timur (Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, Kabupaten Sumba Barat).

Lebih rinci Urip melaporkan beberapa wilayah di NTB dan NTT telah mengalami HTH dengan kategori sangat panjang dan ekstrem panjang.

Kemudian daerah yang mengalami HTH sangat panjang berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan NTT.

Sementara itu, wilayah yang mengalami HTH ekstrem panjang meliputi Lape (110), Soromandi (137), Wawo (84) Provinsi NTB dan wilayah Atambua/Motabuik (104), Bakunase (137), Balauring (74), Batuliti (125), Boentuka (91), Boru (79), Busalangga (61), Camplong (118), Fatubesi (136), Fatukmetan (65), Fatulotu (115), Kamanggih (135), Mamsena (94), Mapoli (137), Melolo (122), Naioni (118), Oemofa (136), Oepoi (138), Rambangaru (133), Solor Selatan (136), Stamet Mali (79), Wairiang (135) Provinsi NTT.

"Dengan mengacu pada monitoring kejadian hari kering berturut-turut di atas dan prediksi akan peluang hujan rendah (<20 mm/10 hari) terdapat indikasi potensi kekeringan meteorologis," kata Urip.

Baca Juga: Waspada! Pesisir Sukabumi Potensi Gelombang 6 Meter, Ini Kata BMKG

Dia menjelaskan dampak kekeringan meteorologis biasanya diikuti antara lain berkurangnya persediaan air untuk rumah tangga dan pertanian serta meningkatnya potensi kebakaran semak, hutan, lahan dan perumahan.

"Sehubungan dengan hal tersebut, kiranya informasi ini bisa dijadikan kewaspadaan dan pertimbangan untuk melakukan langkah mitigasi dampak ikutan dari kekeringan meteorologis," ujar Urip melanjutkan.

Berdasarkan pantauan BMKG hingga akhir Agustus 2021, hasil monitoring perkembangan musim kemarau tahun 2021 menunjukkan 85 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. [Antara]

Komentar