Masalah ketiga adalah keamanan data konsumen di tangan perusahaan pengguna data.
Contohnya adalah kasus konsumen Ridu yang tidak bisa mengajukan kredit karena namanya tercatat menunggak pembayaran lebih dari 180 hari di platform layanan pemesanan tiket dan hotel daring, Traveloka. Padahal, Ridu mengaku tidak pernah menggunakan fasilitas PayLater. Meski langsung diselesaikan dengan penghapusan tagihan oleh pihak Traveloka, kasus ini jelas menggambarkan lemahnya posisi konsumen atas kebocoran dan/atau penyalahgunaan data oleh pihak lain.
Hal ini belum mencakup masalah teror debt collector atau penagih utang terhadap para peminjam dana di PayLater. Situs Media Konsumen menampilkan sejumlah keluhan masyarakat terkait teror yang dilakukan oleh sekelompok nomor yang mengatasnamakan salah satu platform belanja online ketika menagih hutang. Tidak jarang, ‘teror’ tersebut dilakukan dengan beberapa nomor yang berbeda dalam satu kali periode penagihan.
Mengapa orang menggunakan PayLater?
Di luar dari segala permasalahan yang ada, PayLater masih menjadi salah satu metode pembayaran andalan bagi generasi muda seperti generasi milenial dan Gen Z. Selain kemudahan fitur, ada beberapa alasan mengapa PayLater menjadi metode pembayaran yang disukai pengguna.
Pertama, opsi PayLater terlihat lebih hemat dan masuk akal.
Ketika konsumen ingin mendapatkan barang seharga Rp 1.000.000, akan lebih mudah untuk membayar Rp 250.000 sebanyak empat kali. Konsumen memandang hal ini lebih baik – terutama karena fitur PayLater memiliki bunga yang rendah atau bahkan (diklaim) tidak ada bunga cicilan. Kekhawatiran pembeli muda mengenai biaya tambahan yang mengekor pada kartu kredit membuat mereka lebih memilih pembayaran dengan PayLater.
Kedua, fasilitasi dari penjual.
Pihak toko atau retail juga mendukung konsumen untuk membayar dengan PayLater. Fasilitas PayLater memungkinkan retail untuk menggaet pembeli muda yang sebelumnya tidak dapat berbelanja di outlet mereka karena alasan finansial.
Baca Juga: Dibanding Kartu Kredit, Masyarakat Lebih Senang Belanja Online Menggunakan Paylater
Ketiga, ketepatan momentum.
Momen tertentu seperti festival belanja juga mendorong transaksi dengan penggunaan fitur PayLater. Selain itu, riset Katadata Insight Center (KIC) dan Kredivo menunjukkan peningkatan transaksi dan penambahan lebih dari 50% pengguna baru PayLater sepanjang tahun 2020 – saat pandemi COVID-19.
Bagaimana menyikapi PayLater dan inovasi keuangan digital lainnya?
PayLater adalah produk teknologi, sehingga kendali atas penggunaannya tergantung pada manusia.
Saya melihat bahwa kunci utama dalam menyikapi PayLater adalah pengendalian diri. Sebagai produk atau barang mati, PayLater dapat memberikan efek baik dan buruk, tergantung bagaimana konsumen menggunakan produk tersebut. Ia bisa saja menjadi opsi terbaik pada kondisi darurat, tapi juga ancaman terburuk ketika konsumen kehilangan kendali ketika berbelanja.
Pengendalian diri mungkin terdengar sulit, tapi kita bisa mengubahnya menjadi aksi konkret. Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana seperti memanfaatkan budget planner (perencana keuangan) untuk memandu kita berbelanja sesuai kebutuhan. Meski terkesan sepele, disiplin untuk mematuhi anggaran belanja yang sudah dibuat sendiri membutuhkan usaha yang tidak kecil serta komitmen jangka panjang, namun berbuah manis.
Ada juga alternatif lain yang bisa kita aplikasikan maupun dijalankan bersamaan dengan metode perencanaan keuangan. Masukan dari komentator keuangan personal asal Australia, Effie Zahos, untuk membuat fitur PayLater “fiktif” dapat kita pertimbangkan. Zahos menyarankan untuk membuat satu akun tabungan dan mengisinya dengan nominal uang yang sama dengan batas kredit pada akun PayLater. Ketika hendak berbelanja, bayarlah dengan uang yang ada dalam akun tersebut. Membayar dengan uang sendiri akan membantu kita kembali ke realita dan mempertimbangkan apakah kita benar-benar harus menghabiskan sejumlah uang tersebut untuk belanja.
Tag
Berita Terkait
-
Strategi Atur Napas Finansial: Mengapa Pria Usia 30-an Kini Lebih Hobi Pakai Paylater?
-
Terpopuler: HP Samsung Kamera Bagus, Tren PayLater Meningkat
-
Mau Belanja Tanpa Khawatir Cicilan Mahal? BRI Hadirkan Solusinya
-
Lebaran di Era Paylater: Religiusitas dalam Bayang-bayang Utang Digital
-
Generasi Muda Terperangkap Utang Paylater dan Pinjol: Kurangnya Literasi Keuangan Jadi Pemicu?
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Komet Langka Muncul Setelah 170 Ribu Tahun, Begini Cara Melihatnya dari Indonesia
-
5 HP Infinix 5G Paling Worth It di Tahun 2026, Cocok untuk Gaming dan Streaming
-
5 Tablet Snapdragon Terbaik untuk Multitasking, Performa Ngebut Tanpa Lag
-
3 Rekomendasi Smartwatch Samsung Termurah 2026, Fitur Canggih dan Stylish
-
21 Kode Redeem FC Mobile, Prediksi Kompensasi Mewah EA Usai Insiden Bug Voucher
-
4 Rekomendasi HP Paket Lengkap Kelas Entry dan Mid-Level, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
7 HP Snapdragon 8 Gen 2 Termurah 2026, Performa Flagship Harga Miring
-
25 Kode Redeem Free Fire, Siap-siap Nabung Diamond Buat Booyah Pass Bulan Depan
-
Redmi K90 Max Pamer Fitur Gaming: Dirancang untuk eSports, Delta Force pada 165 FPS
-
7 HP dengan Chipset Dimensity 7300 Termurah 2026, Performa Gaming Harga Cuma Rp2 Jutaan