Suara.com - Pakar kesehatan lingkungan Indonesia menjelaskan jasad manusia yang dijadikan kompos seperti di sejumlah negara bagian Amerika Serikat berisiko menularkan penyakit.
"Pengomposan manusia terdapat risiko menularkan penyakit yang dibawa jasad dan tidaklah lazim di agama Islam," kata Profesor Kesehatan Lingkungan Universitas Airlangga Surabaya Ririh Yudhastuti dalam keterangan tertulis, hari ini.
Ririh mencontohkan hewan yang kena penyakit antraks, rabies, atau penyakit ini (lain) itu menguburnya pun kalau orang dulu menggunakan gamping.
"Itu artinya apa? kita mematikan mikroorganisme, parasit atau apa (dan sejenisnya) baru kita kubur. Atau kalau bisa kita bakar atau kremasi. Itu fungsinya mematikan kuman-kuman yang nanti bisa tumbuh pada tanaman," kata dia.
Menurut dia, pengomposan manusia dilakukan dengan meninggalkan tubuh dalam wadah berisikan serpihan kayu dan bahan organik lainnya selama sekitar satu bulan. Kemudian memanfaatkan bakteri untuk menjadi kompos.
Selain itu, kata dia, dari situs Gizmodo, proses penguburan di California membutuhkan tiga galon bahan pembalseman untuk tiap jasadnya seperti formaldehida, metanol, dan etanol.
Sedangkan proses kremasi menghasilkan lebih dari 500 pound (227 kilogram) karbondioksida dari proses pembakaran satu jasad.
Pembakaran itu sendiri menghabiskan energi yang setara dengan dua tangki bensin. Di Amerika Serikat, kremasi menghasilkan sekitar 360.000 metrik ton karbondioksida setiap tahun.
Dia menjelaskan dalam penanganan jasad terinfeksi COVID-19, tingkat penularannya tinggi yakni, jasad tersebut harus dikubur sedalam 3 meter atau lebih serta tidak berada di sekitar sumber air.
"Itu baru satu penyakit, penyakit lain banyak seperti HIV/AIDS dan antraks. Itu bisa menularkan pada tanaman di atasnya. Terus beberapa ayam (burung unta) yang memakan di situ seperti biji-bijian itu ada antraksnya. Walaupun dia tidak terkena antraks, tapi DNA-nya ada (antraks)," ujar dia.
Baca Juga: Deretan Fakta Unik Seputar Mumi yang Wajib Kamu Ketahui, Simak Nih!
Menurut Ririh, negara bagian seperti Colorado kemungkinan memiliki budaya dan kondisi lingkungan yang mendukung legalisasi metode pengomposan manusia.
"Jadi, mungkin hal semacam itu (pengomposan manusia) biasa di sana. Tanah di sana juga kering jadi tidak banyak ini (unsur hara)," kata dia. [Antara]
Berita Terkait
-
Life After Whale: Perpaduan Ilustrasi Spektakuler dan Sains yang Memikat
-
Belajar Sains Lewat Cerita Lucu, Review Buku There Are No Ants in This Book
-
Novel "Trex": Ketika Implan Otak Menjadi Awal Sebuah Konspirasi
-
Eksplorasi Batas Sains dan Kedalaman Empati dalam Film Project Hail Mary
-
Saat Sains Jadi Fondasi Kecantikan, Riset di Balik Produk yang Dipakai Jutaan Orang
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Diskon di Miniso Karawaci Khusus HUT RI ke-81 dari BRI, Ini Cara Klaimnya
-
Jemuran Bikin Resah, 27 Pakaian Dalam Warga Tuban Raib Dicuri
-
Bukan Sekadar Lomba, Pesta Rakyat Trindo Residence Jadi Modal Sosial Kekompakan Warga
-
Tagih Pesangon dan THR, Eks Karyawan PT Sritex Upacara Bendera di Depan Pabrik
-
Tawa dan Harapan di Balik Tembok Tinggi: Potret Kemeriahan HUT ke-81 RI di Lapas Salemba
-
Replika Gajah Raksasa Semarakkan Karnaval HUT ke-81 RI di Kota Banjar
-
Buku Gramedia Diskon 25 Persen Pakai BRI, Ini Syaratnya
-
IHSG Bisa Kembali Terbang Besok, Saham-saham Ini Bisa Dilirik
-
Unjuk Rasa hingga Saling Dorong,Mahasiswa Papua Sebut Kolonialisme Masih Tumbuh
-
Sultan Syarif Kasim II 'sang Donatur' Sumbang Rp1 Triliun untuk Kemerdekaan Indonesia