Sementara, di Bone, nisan Aceh hanya digunakan oleh Ibunda La Patau Matanna Tikka, Mappolo Bombang, dan ayahandanya, La Pakokoe.
Maka dari itu, penemuan nisan serupa di Pangkep, terutama di makam Somba Labakkang menunjukkan status dan pengaruh luar biasa dari tokoh tersebut dalam struktur sosial dan politik masa itu.
"Penemuan ini membuka kembali lembaran sejarah yang selama ini belum banyak diketahui publik.
"Pangkep ternyata menyimpan jejak-jejak penting masa lalu yang patut dirawat dan dikenalkan lebih luas. Nisan ini sangat langka di Sulawesi Selatan. Hanya bangsawan tinggi dan kerajaan besar yang memilikinya," sebutnya.
Peneliti di pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Makmur mengatakan, nisan Aceh bukan hanya menunjukkan status sosial tinggi.
Tetapi juga merupakan bukti penting dalam konteks arkeologi dan sejarah budaya Islam di kawasan ini.
Tim juga pernah mengidentifikasi nisan Aceh tipe lain, seperti tipe A. Namun, yang dianggap paling tinggi nilainya adalah tipe A.
"Nisan tipe C yang digunakan Somba Labakkang menunjukkan bahwa beliau adalah salah satu bangsawan yang memeluk Islam pada masa awal penyebarannya di Sulawesi Selatan. Ini bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi juga politik dan prestise sosial," jelasnya.
Dosen Arkeologi Unhas Hasanuddin, menambahkan bahwa nisan tipe C yang ditemukan memperkuat dugaan adanya hubungan erat antara Kesultanan Aceh dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan sejak abad ke-17.
Baca Juga: Mengunjungi Museum Internasional Biografi Nabi Muhammad di Makkah
Menurutnya, hubungan tersebut tidak hanya bersifat dagang, tetapi juga mencakup penyebaran agama, pengaruh budaya, dan bahkan pertalian keluarga antar bangsawan.
"Jenis nisan seperti ini tidak diberikan kepada sembarang orang. Hanya tokoh yang memiliki kharisma keagamaan tinggi, serta koneksi politik dan ekonomi yang kuat, yang bisa mendapatkan nisan Aceh," ungkapnya.
Ia mencontohkan, bahkan Arung Palakka, tokoh besar Bugis, hanya memberikan nisan jenis ini kepada ayah dan ibunya.
Hasanuddin yang juga anggota BRIN menjelaskan, penyebaran nisan Aceh bisa menjadi indikator penting dalam memetakan jalur perdagangan dan penyiaran agama pada masa lalu.
"Kita bisa menafsirkan bahwa daerah-daerah yang memiliki nisan Aceh dulunya adalah simpul peradaban, baik dalam konteks spiritual, politik, maupun ekonomi. Dalam konteks ini, Pangkep bisa jadi memiliki posisi strategis dalam jaringan inter regional antara Sulawesi dan Aceh," jelasnya.
Meski makam Somba Labakkang telah diidentifikasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), hingga kini situs tersebut belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah.
Pada bulan April lalu, tim ini juga menemukan batu nisan Aceh pertama di kampung Belang-belang, Kecamatan Lau, Maros.
Tim peneliti mendorong agar hasil temuan ini menjadi pertimbangan penting bagi Pemda Pangkep dan Maros untuk menetapkan situs tersebut sebagai bagian dari warisan budaya yang dilindungi negara.
Dengan temuan ini, diharapkan perhatian terhadap pelestarian situs bersejarah di Pangkep dan wilayah lain di Sulawesi Selatan semakin meningkat.
Penelitian toponimi kuno bukan hanya mengungkap asal-usul nama tempat, tetapi juga menjadi jendela untuk melihat dinamika budaya, politik, dan agama di masa lampau.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Lionel Messi Bantah Argentina 'Anak Emas' FIFA: Kami ke Final karena Kerja Keras
-
Menembus Pelosok Desa, Kiprah Mantri BRI Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan
-
Menapaki Jalan Berlumpur hingga Pelosok Desa, Mantri BRI Menjadi Penggerak Ekonomi Rakyat
-
5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
-
6 Cara Mencuci Sepatu Suede yang Benar, agar Tidak Kusam dan "Botak"
-
Animal Farm dan Cermin Politik Modern: Saat Kesetaraan Hanya Menjadi Slogan
-
Dari Medan Berlumpur hingga Desa Terpencil, Mantri BRI Hadir Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan
-
GeForce RTX 3060 Hidup Kembali, GPU 12GB untuk Gaming 1080p dan AI Lokal
-
109 PPPK Paruh Waktu di Pemkot Malang Diupayakan Naik Kelas Jadi Penuh Waktu
-
Sitaan Fantastis di Kasus Korupsi Terbaru, Sejauh Mana Urgensi RUU Perampasan Aset?