Namun, kelompok hacktivist seperti Head Mare, Twelve, dan kelompok lain yang aktif di wilayah tersebut sering menggunakan ransomware seperti LockBit 3.0 untuk menimbulkan kerusakan pada organisasi target.
Sektor manufaktur, pemerintahan, dan ritel adalah yang paling banyak menjadi target, dengan berbagai tingkat kematangan keamanan siber di seluruh wilayah yang juga memengaruhi keamanan.
Eropa secara konsisten menjadi target ransomware, tetapi mendapat manfaat dari kerangka kerjadan regulasi keamanan siber cukup kuat yang menghalangi beberapa penyerang.
Sektor seperti manufaktur, pertanian, dan pendidikan sering menjadi target, tetapi respons dan level kesadaraninsiden yang matang membatasi skala serangan.
Ekonomi beragam di wilayah tersebut dan pertahanannya yang kuat membuatnya kurang menjadi titik fokus bagi kelompok ransomware dibandingkan wilayah dengan pertumbuhan digital cepat dan kurang aman.
Alat AI semakin banyak digunakan dalam pengembangan ransomware, seperti yang ditunjukkan oleh FunkSec, sebuah kelompok ransomware yang muncul pada akhir tahun 2024 yang cepat mendapatkan ketenaran melampaui kelompok mapan seperti Cl0p dan RansomHub dengan banyak korban terdampak pada bulan Desember saja.
Beroperasi di bawah model Ransomware-as-a-Service (RaaS), FunkSec menggunakan taktik pemerasan ganda, yang menargetkan sektor-sektor seperti pemerintah, teknologi, keuangan, dan pendidikan di Eropa dan Asia.
Ketergantungan besar kelompok tersebut pada alat-alat yang dibantu AI menjadikannya berbeda, ransomware-nya menampilkan kode yang dihasilkan AI, lengkap dengan komentar yang sempurna, kemungkinan diproduksi oleh Large Language Models (LLM) untuk meningkatkan pengembangan dan penghindaran deteksi.
Tidak seperti kelompok ransomware pada umumnya yang menuntut jutaan, FunkSec mengadopsi pendekatan bervolume tinggi dan berbiaya rendah dengan tuntutan tebusan luar biasa rendah, yang selanjutnya menyoroti penggunaan AI yang inovatif untuk merampingkan operasi.
Baca Juga: Rahasia Efisiensi Biaya Terungkap: Bagaimana IoT Mengubah Bisnis di Indonesia
Model RaaS (Ransomware-as-a-Service) tetap menjadi kerangka kerja utama untuk serangan ransomware, yang memicu penyebarannya dengan menurunkan hambatan teknis bagi penjahat siber.
Pada tahun 2024, platform RaaS seperti RansomHub berkembang pesat dengan menawarkan malware, dukungan teknis, dan program afiliasi yang membagi bentuk tebusan.
Model ini memungkinkan pelaku yang kurang terampil untuk melakukan serangan canggih, yang berkontribusi pada munculnya beberapa kelompok ransomware baru pada tahun 2024 saja.
Pada tahun 2025, ransomware diperkirakan akan berkembang dengan mengeksploitasi kerentanan yang tidak konvensional, seperti yang ditunjukkan oleh penggunaan webcam oleh geng Akira untuk melewati sistem deteksi dan respons titik akhir serta menyusup ke jaringan internal.
Penyerang cenderung semakin menargetkan titik masuk yang terabaikan seperti perangkat IoT, peralatan pintar, atau perangkat keras yang salah konfigurasi di tempat kerja, memanfaatkan permukaan serangan yang semakin luas yang diciptakan oleh sistem yang saling terhubung.
Seiring dengan semakin kuatnya pertahanan tradisional organisasi, para penjahat siber akan menyempurnakan taktik mereka, dengan fokus pada pengintaian diam-diam dan pergerakan lateral dalam jaringan untuk menyebarkan ransomware dengan presisi lebih tinggi, sehingga semakin sulit bagi pengguna untuk mendeteksi dan merespons tepat waktu.
Berita Terkait
-
Serangan Ransomware di BRI Ternyata Hoax, Selebgram Mr Bert Panen Hujatan!
-
Dari Menkomdigi hingga Pakar IT, Ramai-ramai Bantah Pernyataan Menyesatkan Mr Bert soal Ransomware BRI
-
Ancaman Gelap di Dunia Siber: Hacker 30 Tahun Ungkap Peretasan Rumah Sakit dan Perang Modern di Dark Web
-
Heboh Mr Bert Soal Hoax Ransomware BRI, Ternyata Mantan Admin Judi Online
-
Ransomware BRI Terbukti Hoaks, 2 Pengamat IT Ini Digeruduk Netizen
Terpopuler
- 5 Produk Viva Cosmetics yang Ampuh Atasi Flek Hitam, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 5 Rekomendasi HP Layar AMOLED 120Hz Termurah 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- KUIS: Kalau Hidupmu Jadi Lagu, Genre Apa yang Paling Cocok?
Pilihan
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
-
5 HP Memori 128 GB di Bawah Rp2 Juta Terbaik Awal 2026: Kapasitas Lega, Harga Ramah di Kantong!
Terkini
-
Tecno Spark Go 3 Resmi Meluncur di Indonesia, Andalkan Desain Tangguh, Baterai Jumbo, dan Fitur AI
-
Sisa Kuota Kini Bisa Hidup Lebih Lama: SIMPATI Resmi Hadirkan Fitur Akumulasi Kuota
-
33 Kode Redeem FC Mobile 31 Januari 2026 Terbaru Malam Ini, Banjir Gems dan Voucher TOTY
-
Galaxy AI Telah Ubah Cara Kita Tingkatkan Produktivitas dan Kreativitas
-
45 Kode Redeem FF 31 Januari 2026 Malam Ini, Ada Item Gorengan Kemeja PUBG Gratis
-
REDMI Note 15 Resmi Hadir di Indonesia, Usung Ketahanan Ekstra dan Performa Seimbang
-
Dari Transaksi Harian ke Perjalanan Global Lewat Integrasi Program Poin
-
Oppo A6t Series Resmi Debut di Indonesia, Bawa Baterai Jumbo 7000mAh, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Siapa Saja Roster MPL ID Season 17? Intip Bocoran Pemain dan Jadwal Pertandingannya
-
realme P4 Power 5G Resmi Meluncur, Buka Era Baru Smartphone dengan Baterai 10.001mAh