3. Ciptakan zona bebas gawai.
Kita bisa menciptakan hal ini dengan batasan-batasan seperti, tidak ada yang boleh pegang gawai selama makan malam bersama (termasuk orang tua) atau ciptakan waktu untuk membaca buku bersama dan membahas isinya kemudian.
4. Jelajahi gawai bersama.
Cobalah menonton dan menggunakan gawai bersama dengan anak-anak dari segala usia. Ini bisa termasuk menonton acara atau film bersama dan berdiskusi dengan mereka tentang hal itu. Untuk anak yang lebih besar, minta mereka menunjukkan kepada kita apa yang mereka lakukan di dunia maya—apa yang mereka minati, aplikasi apa yang mereka sukai, dan lain-lain. Kita juga bisa menjadikan serial Adolescence sebagai bahan diskusi. Tanyakan: “Menurut kamu, kenapa tokoh itu merasa tertekan?” atau “Kalau kamu ada di posisi itu, apa yang akan kamu lakukan?”
5. Tahu kapan harus mundur sejenak.
Kita mungkin ingin terus memantau apa yang anak lakukan di perangkat mereka. Hal ini memang sangat penting kita lakukan dengan anak-anak yang masih sangat muda (usia 0 hingga 12 tahun). Seiring bertambahnya usia anak dan semakin banyaknya pengalaman dengan gawai mereka, kita bisa sedikit lebih “membebaskan” mereka, karena kita tidak ingin anak-anak merasa dikekang. Namun, tetaplah selalu awas untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di dunia maya.
Teknologi akan terus berkembang, begitu juga tantangan digital anak-anak kita. Namun, satu hal yang tak bisa digantikan oleh algoritma adalah kehadiran orang tua yang peduli, mau belajar, dan terlibat. Anak-anak butuh orang tua, bukan filter.
Menjadi orang tua zaman sekarang memang tidak mudah, tapi hal ini juga tidak harus kita jalani sendiri. Seperti pepatah kuno Afrika yang mengatakan “It takes a village to raise a child”—membutuhkan seluruh lapisan masyarakat untuk membentuk anak-anak masa kini menjadi generasi yang unggul dan tangguh di masa depan.
Dunia digital memang penuh tantangan, tetapi juga menawarkan banyak peluang. Dalam mendidik anak, kita tidak bisa menafikan pentingnya literasi digital (dan AI), tetapi kita juga harus mempertimbangkan kesejahteraan mental anak-anak kita. Yang dibutuhkan anak bukanlah kontrol berlebihan, melainkan orang tua yang hadir sepenuh hati dan siap tumbuh bersama.
Seluruh orang tua di Indonesia, mari kita bergandengan tangan, bersama-sama mendidik anak-anak zaman now untuk berdaya dalam menghadapi masa depan dalam Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2025.
Mengangkat tema “AI-ducated: Unlocking The Future with AI Skills and Beyond,” IFLS 2025 menghadirkan pakar pendidikan, orang tua, penentu kebijakan, serta psikolog anak dan remaja. Dalam acara ini kita akan bersama-sama belajar bagaimana membuat keputusan strategis sekarang sehingga anak-anak kita tidak hanya siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi juga diberdayakan, baik secara mental maupun emosional, untuk memimpin di masa depan. ***
Penulis: PT Reformasi Generasi Indonesia (REFO)
Baca Juga: Sambut HUT ke-80 RI, Pertamina Bawa UMKM Mendunia melalui SMEXPO Merah Putih
(Artikel ini telah/pernah diterbitkan oleh PT Reformasi Generasi Indonesia di laman ini)
Berita Terkait
-
Perjalanan UMKM Susu Mbok Darmi dan Ayam Bang Dava Mengangkat Cita Rasa Indonesia Lewat ShopeeFood
-
Dari Dapur Rumah ke Etalase Bandara, Ini Kisah Sukses UMKM Bersama Rumah BUMN Binaan BRI
-
Patra Niaga Dukung UMKM Nasional Naik Kelas dan Mendunia, Perkuat Ekonomi Daerah
-
Pertamina Patra Niaga Dorong UMKM Naik Kelas
-
Rumah BUMN Binaan BRI Ubah Nasib, Berikut Kisah Inspiratif UMKM dengan Omset Menggiurkan
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
53 Kode Redeem FF Max Terbaru 2 April 2026: Raih Skin SG2, Chromasonic, dan Diamond
-
5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa WhatsApp Call, Harga Ramah di Kantong Mulai Rp100 Ribuan
-
7 Hal Sepele yang Bikin Baterai HP Cepat Habis, Jangan Lakukan Ini
-
Asus ROG Zephyrus 2026 Hadir dengan Dua Varian Prosesor, Bawa RTX 5080
-
Harga POCO X8 Pro Hanya Rp4 Jutaan di Indonesia, Siap Tantang HP iQOO dan Motorola
-
Prediksi Harga Samsung Galaxy A27 Beredar, Andalkan Chipset Snapdragon
-
6 HP Memori 512 GB Paling Murah untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
-
7 Video Kepanikan Warga Setelah Gempa Sulut M 7,6: Ada Tsunami hingga Bangunan Rusak
-
7 Kesalahan Penyebab Laptop Cepat Rusak bagi Pengguna Profesional Muda
-
6 HP Murah Tecno dengan Kamera Terbaik, Gambar Tajam Jadi Andalan