-
Meghan Juinio menilai industri game terlalu bergantung pada proyek AAA berisiko tinggi dan berbiaya besar.
-
Ia mendorong penerbit besar untuk mendiversifikasi ke game AA dan indie yang lebih inovatif dan terjangkau.
-
Juinio optimis kreativitas pengembang akan memulihkan industri melalui proyek yang lebih kecil namun bermakna.
Suara.com - Sudah menjadi rahasia umum bila game AAA sukses dapat meraup keuntungan fantastis. Mantan produser God of War mengungkap bahwa raksasa industri game perlu melirik proyek yang lebih kecil.
Sebagai informasi, industri game terdampak gelombang PHK massal dalam dua tahun terakhir.
Di tengah gelombang pemutusan kerja dan penutupan studio, seorang veteran dari salah satu waralaba terbesar angkat bicara.
Meghan Morgan Juinio, mantan produser God of War (2018) dan co-head Sony Santa Monica Studio, memberikan peringatan keras namun penuh harapan.
Para penerbit besar seperti Sony dan Activision disebut perlu mendiversifikasi portofolio mereka karena ada peluang emas dalam game berskala lebih kecil.
Menurut Juinio, ketergantungan pada proyek AAA beranggaran fantastis memang menawarkan imbalan besar jika sukses, tetapi juga membawa risiko yang sangat tinggi.
Para gamer modern, menurutnya, mulai jenuh dengan formula yang sama: anggaran membengkak, waktu bermain yang sangat panjang, dan pengembangan rumit.
Mengutip GameRadar, mereka kini mencari pengalaman baru yang lebih inovatif dan ringkas.
Juinio melihat ada ruang besar bagi judul-judul AA dan indie untuk bersinar, bahkan di dalam ekosistem penerbit raksasa.
Baca Juga: 23 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 17 Oktober: Klaim 16 Ribu Gems dan Pemain 110-113
"Saya juga berpikir ada peluang bagi para pemain besar untuk mencoba diversifikasi ke Double-A dan Single-A, lalu mungkin juga indie, kan?" ujarnya dalam sebuah wawancara.
Ia menunjuk kesuksesan game seperti Astro Bot dan Split Fiction sebagai bukti nyata.
Kedua judul tersebut berhasil memikat hati pemain bukan karena skala megahnya, melainkan karena gameplay menawan, inovatif, dan yang terpenting, menyenangkan.
Dengan biaya produksi dan harga jual yang lebih rendah, game-game ini menjadi alternatif menarik di saat banyak gamer enggan merogoh kocek hingga 100 dolar AS untuk satu game, bahkan untuk judul sekelas Grand Theft Auto 6.
Pada akhirnya, esensi sebuah game bukanlah pada sektor grafis.
"Jika sebuah game menyenangkan, grafis tidak penting. Jika sebuah game tidak menarik atau tidak atraktif, maka game tersebut tidak akan menarik bagi para pemain," tegas Juinio.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu dan Rp10 Ribu di Tangerang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 3 Cara Melihat Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen: Resmi KSE dan BEI
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 6 Sepatu Lari Lokal Berkualitas Selevel HOKA Ori, Cocok untuk Trail Run
Pilihan
-
WHO: 13 Rumah Sakit di Iran Hancur Dibom Israel dan Amerika Serikat
-
Bahlil Lahadalia: Bagi Golkar, Lailatul Qadar Itu Kalau Kursi Tambah
-
Gedung DPR Dikepung Massa, Tuntut Pembatalan Kerja Sama RI-AS dan Tolak BoP
-
Tak Terbukti Lakukan Tindak Pidana, Delpedro Dkk Divonis Bebas!
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
Terkini
-
Daftar Harga HP Infinix Terbaru Maret 2026, dari Rp 999 Ribu hingga Rp 6 Jutaan
-
Trailer Kena: Bridge of Spirits Beredar, Siap Rilis di Nintendo Switch 2
-
Prediksi 2024 Akurat, Profesor Jiang Xueqin Perkirakan AS dan Arab Saudi Serang Iran 2027
-
Komdigi Resmi Tegas Beri Batasan Anak Akses Platform Digital
-
Resmi Hadir ke Indonesia, Apa yang Ditawarkan Huawei Mate X7 Sebagai HP Flagship Foldable
-
MWC 2026: MediaTek Pamerkan Teknologi 6G hingga WiFi 8
-
18 Kode Redeem FF Max Terbaru 6 Maret 2026: Ada Skin Chromasonic, XM8, dan Katana
-
9 HP Xiaomi Termurah Maret 2026 Cocok Buat Gaming: Chipset Kencang, AnTuTu Tinggi
-
Spesifikasi Advan Workplus AI, Laptop AMD Ryzen 7 untuk Profesional Muda
-
Vivo X300 Ultra Bawa Kamera Sony Premium Terbaru, Mampu Hempaskan Galaxy S26 Ultra?