"Kalau ternyata komposisinya berbeda, itu berarti lingkungan tempat komet ini terbentuk juga berbeda jauh dari tata surya kita."
Selain itu, ilmuwan tertarik untuk meneliti bagaimana komet antar bintang seperti 3I/ATLAS bisa bertahan selama jutaan tahun di ruang angkasa yang ekstrem—penuh radiasi dan suhu beku.
Pengamatan mendetail terhadap aktivitas gas dan debu di sekitar komet bisa membantu menjelaskan daya tahan material kosmik di luar tata surya.
Namun, tak semua ilmuwan sepakat bahwa 3I/ATLAS hanyalah komet biasa. Avi Loeb, profesor sains dari Harvard University, mengklaim bahwa ada kemungkinan 30–40 persen komet ini merupakan teknologi buatan makhluk cerdas.
Menurut Loeb, terdapat delapan kejanggalan pada perilaku komet ini, termasuk ukurannya yang jauh lebih besar dan kecepatannya yang tinggi dibanding dua komet antar bintang sebelumnya.
Ia juga menyoroti bahwa 3I/ATLAS tidak bisa diamati dari Bumi tepat saat berada di posisi terdekatnya dengan Matahari, yang menurutnya “terlalu kebetulan".
"Apakah ini hanya kebetulan, ataukah hasil dari perancangan orbit yang disengaja?" tanya Loeb. Ia bahkan sempat berseloroh dalam sebuah podcast agar orang-orang "liburan dulu sebelum tanggal 29 Oktober" karena tidak tahu apa yang akan terjadi.
Meski demikian, mayoritas komunitas ilmiah menolak teori Loeb. Profesor Darryl Seligman dari Michigan State University menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan 3I/ATLAS adalah benda buatan.
"Perilakunya sepenuhnya konsisten dengan komet alami di tata surya," katanya.
Baca Juga: Benarkah Makan Udang Beku dari Indonesia Bisa Jadi Alien seperti Kata John Kennedy?
Seligman menambahkan bahwa gas nikel yang terdeteksi pada 3I/ATLAS bukanlah hal aneh.
"Beberapa komet memang mengandung nikel yang tersembunyi dalam struktur esnya, dan akan menguap saat terkena panas Matahari," jelasnya. Fenomena serupa juga terjadi pada komet 2I/Borisov sebelumnya.
Meskipun sempat menimbulkan spekulasi liar di internet, semua lembaga pemantau orbit—termasuk NASA’s Jet Propulsion Laboratory (JPL) dan Minor Planet Center—menegaskan bahwa 3I/ATLAS berada di lintasan aman.
Jalurnya bersifat hiperbolik, artinya ia tidak terikat gravitasi Matahari dan akan meninggalkan tata surya untuk selamanya setelah melewati perihelion.
Selama pengamatannya, komet ini sempat melintas 0,19 AU dari planet Mars pada awal Oktober. Pengamatan dari rover NASA dan satelit ESA pun berhasil menangkap citra samar komet yang tampak kehijauan akibat pancaran gas karbon diatomik—penyebab khas warna hijau pada komet.
Setelah Desember, 3I/ATLAS diperkirakan akan terus bergerak menjauhi tata surya menuju arah rasi Gemini, melanjutkan perjalanannya menuju ruang antarbintang. Para ilmuwan menyebut momen ini sebagai "pesan dari luar tata surya", kesempatan langka untuk memahami bagaimana materi dan unsur kehidupan bisa berpindah antar bintang.
Kontributor : Gradciano Madomi Jawa
Tag
Berita Terkait
-
Benarkah Makan Udang Beku dari Indonesia Bisa Jadi Alien seperti Kata John Kennedy?
-
6 Temuan Mengejutkan di Film Dokumenter Investigation Alien, Penampakan UFO di Hutan Indonesia
-
Produksi Sekuel Film Alien: Romulus Bakal Berlanjut dengan Sutradara Baru
-
Misteri Raibnya Para Penduduk dalam Buku Spog dan Spiggy di Planet Alotita
-
Ulasan Novel Komet: Hati-Hati Menaruh Kepercayaan pada Manusia
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Batal Hadir di Zikir Monas Karena Tugas Negara, Prabowo Titip Salam Hangat Lewat Menag
-
Shayne Pattynama Sesumbar Jelang Indonesia vs Vietnam: Kami Sangat Percaya Diri!
-
Guru Les Cabuli 29 Murid, Mengapa Kekerasan Seksual Anak Kerap Dilakukan Orang Terdekat?
-
Grab Perkuat Teknologi Keselamatan Transportasi Online, AI hingga AudioProtect Plus
-
Abdul Wahid Ajukan Banding, Merasa Kasusnya Direkayasa: Saya Cari Keadilan
-
Istana Tanggapi Putusan MK soal Anggaran MBG Harus Dipisah dari Pendidikan
-
Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?
-
Rugi Rp25,2 Miliar! Diana Pungky Polisikan Mantan Asisten Terkait Penggelapan dan TPPU
-
Ditantang karena Belum Periksa Raja Juli, KPK: Bukan Masalah Berani atau Tidak
-
Whooz Bikin UMKM Tak Perlu Lagi Investasi Server dan Jaringan