- Sistem teknologi masif Grab menggunakan algoritma pencocokan dan big data untuk memproses jutaan order secara efisien di lebih 300 kota.
- Industri ini menyumbang Rp382,62 triliun bagi PDB Indonesia tahun 2022, menegaskan peran infrastruktur ekonomi digital nasional.
- Platform ini menyediakan fleksibilitas penghasilan bagi 3,7 juta mitra terdaftar, termasuk kelompok yang sebelumnya terdampak perubahan struktur kerja.
Suara.com - Di balik jutaan order transportasi dan pengantaran setiap hari, ada sistem teknologi berskala masif yang bekerja dalam hitungan detik.
Mulai dari algoritma pencocokan (matching algorithm), pemrosesan big data berbasis lokasi, hingga machine learning untuk membaca pola permintaan, seluruhnya menjadi fondasi ekosistem Grab Indonesia di Indonesia.
Setiap kali pengguna memesan layanan, sistem secara otomatis menganalisis variabel seperti jarak, kepadatan lalu lintas, performa historis mitra, hingga potensi waktu tunggu.
Semua diproses real-time untuk memastikan efisiensi. Skala operasinya tidak kecil, yakni jutaan pengguna, ratusan ribu mitra aktif tiap bulan, dan jangkauan di lebih dari 300 kota/kabupaten.
CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyebut fondasi teknologi inilah yang memungkinkan model kerja fleksibel tetap berjalan stabil.
“Teknologi memungkinkan sistem ini tetap adil dan adaptif. Tingkat produktivitas mitra bisa berubah setiap bulan, dan sistem kami dirancang untuk mengakomodasi dinamika tersebut secara real-time,” ujar Neneng di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Dari Sistem Digital ke Dampak Ekonomi Nasional
Setelah fondasi teknologinya matang, dampaknya meluas ke sektor ekonomi. Industri ride-hailing dan pengantaran online tercatat menyumbang Rp382,62 triliun atau sekitar 2 persen terhadap total PDB Indonesia tahun 2022 (Studi ITB, 2023).
Grab sendiri disebut berkontribusi sekitar 50 persen di industri transportasi dan pengantaran online (Oxford Economics, 2024).
Baca Juga: Epson: Teknologi Digital Dye-Sublimation Percepat Transformasi Industri Cetak Tekstil Asia Tenggara
Angka tersebut menegaskan bahwa platform on-demand bukan lagi sekadar aplikasi, melainkan bagian dari infrastruktur ekonomi digital nasional.
Per Desember 2025, Grab mencatat 3,7 juta Mitra Pengemudi terdaftar. Namun yang aktif menyelesaikan minimal satu order per bulan berkisar 700–800 ribu orang atau sekitar 19–22 persen. Angka ini fluktuatif, mencerminkan karakter alami gig economy yang fleksibel.
“Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan, sementara hanya sebagian kecil yang menjadikannya nafkah utama. Inilah wajah nyata gig economy di Indonesia,” tegas Neneng.
Siapa Penggerak Ekosistem Digital Ini?
Data internal menunjukkan sekitar 1 dari 2 mitra sebelumnya korban PHK atau belum memiliki penghasilan tetap, lebih dari 50 persen berusia di atas 36 tahun, mayoritas lulusan SMA/SMK, 182.500 mitra perempuan, banyak di antaranya ibu tunggal, dan lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas.
Platform digital berfungsi sebagai pintu masuk ekonomi bagi kelompok produktif yang terdampak perubahan struktur kerja formal.
Pola Penghasilan: Dari Full-Time hingga Sampingan
Mitra Roda 4 (Mobil)
- 10–11 persen berpenghasilan di atas Rp10 juta/bulan (±11 order per hari)
- 21–22 persen di kisaran Rp4–10 juta/bulan
- 33–34 persen memperoleh Rp1–4 juta/bulan sebagai tambahan
- 34–35 persen narik sesekali dengan penghasilan hingga Rp1 juta/bulan
Mitra Roda 2 (Motor)
- 1–2 persen berpenghasilan di atas Rp10 juta/bulan (lebih dari 28 order per hari)
- 14–15 persen di rentang Rp4–10 juta/bulan
- Sekitar 41–42 persen Rp1–4 juta/bulan
- 42–43 persen narik situasional hingga Rp1 juta/bulan
Komposisi ini menunjukkan fleksibilitas ekstrem dari yang menjadikan platform sebagai sumber nafkah utama hingga sekadar penghasilan tambahan akhir pekan.
Kebijakan Berbasis Algoritma dan Produktivitas
Grab menegaskan kebijakan dan insentif dirancang berbasis data performa.
“Dalam sistem yang fleksibel, pendekatan yang adil adalah pendekatan yang proporsional. Mitra yang konsisten tentu membutuhkan dukungan berbeda dibanding yang hanya narik sesekali,” jelas Neneng.
Artinya, bukan sekadar relasi bisnis, tetapi sistem berbasis kinerja yang diatur melalui teknologi dan analisis data.
Ramadan 2026: 105 Paket Umrah untuk Mitra Inspiratif
Sebagai bagian dari program apresiasi Ramadan, Grab menghadirkan “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” untuk 105 mitra berprestasi.
Menurut Neneng, apresiasi ini bukan hanya soal penghargaan simbolis, tetapi bentuk pengakuan atas konsistensi dan kontribusi dalam ekosistem digital.
Salah satu penerima, Syamsudin, mengaku terkejut.
“Ini bukan hanya tentang umrah, tapi tentang merasa dihargai atas setiap usaha dan konsistensi saya,” ujarnya.
Masa Depan: Platform, Data, dan Inklusi
Dengan jutaan mitra, ratusan kota operasional, dan kontribusi ratusan triliun rupiah terhadap PDB, model on-demand berbasis teknologi diproyeksikan tetap menjadi pilar ekonomi digital Indonesia.
Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar ekspansi, melainkan bagaimana algoritma, kebijakan berbasis data, dan sistem insentif terus berkembang agar pertumbuhan ekonomi digital tetap inklusif dan berkelanjutan.
Berita Terkait
-
Interactive Display AI dan Wireless Presentation tanpa Driver Ini Bakal Dukung Dunia Kerja Modern
-
Bagaimana Ma Wara Al-Nahar di Jakarta Akan Berlangsung dan Mengapa Dunia Islam Menaruh Perhatian
-
5 Tokoh Teknologi Muncul di Epstein Files: Ada Orang Terkaya hingga Ilmuwan
-
Dua Eksekutif Teknologi Senior Siap Pacu Akselerasi Cloud dan AI di Asia Tenggara
-
Dari Inovasi hingga Keamanan Siber, Arah Baru Bisnis Digital
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Kolaborasi Jadi Strategi Besar Dorong Ekosistem Esports Indonesia Makin Kompetitif di 2026
-
21 Kode Redeem FC Mobile 27 Februari 2026, Banjir Gems dan Pemain OVR 117
-
29 Kode Redeem FF 27 Februari 2026, Klaim Gloo Wall Ramadan dan Bocoran Inkubator 3-in-1
-
Terpopuler: 5 Pilihan Merek HP Awet, Harga Samsung Galaxy S26 Series di Indonesia
-
Trending di Steam, Sea of Remnants Bakal Menjadi Game RPG Gratis Tahun Ini
-
67 Kode Redeem FF Terbaru Aktif 26 Februari: Sikat Skin Trogon dan Mythos Fist
-
350 Kg Sampah Elektronik Dikumpulkan, LG Gaungkan Gerakan Daur Ulang E-Waste di Indonesia
-
Menanti THR MLBB 2026: Ini Hadiah dan Potensi Skin Gratisnya
-
Samsung Galaxy Buds4 Pro Resmi, Ini Harga dan Spesifikasi Earbuds ANC 24-bit di Indonesia
-
Game Silent Hill: Townfall Hadirkan Horor First-Person yang Mencekam di 2026