Tekno / Game
Selasa, 03 Maret 2026 | 17:15 WIB
Game Hogwarts Legacy. (Warner Bros.)
Baca 10 detik
  • Paramount resmi akuisisi Warner Bros. dengan kesepakatan nilai 110 miliar dolar AS.
  • Divisi Warner Bros. Games kini berada di bawah kendali CEO David Ellison.
  • Ancaman pemangkasan biaya sebesar 16 miliar dolar AS membayangi studio game.

Suara.com - Dunia hiburan diguncang oleh kabar pencaplokan Paramount atas Warner Bros. dalam sebuah kesepakatan kolosal senilai 110 miliar USD (Rp1.860 triliun).

Namun, bagi gamer, sorotan utama bukanlah pada gabungan jaringan TV raksasa, melainkan pada nasib dari Warner Bros. Games, rumah bagi studio-studio legendaris yang telah melahirkan berbagai mahakarya.

Akuisisi ini menempatkan masa depan franchise ikonik seperti Batman: Arkham, Mortal Kombat, dan Hogwarts Legacy di bawah bendera Paramount.

Pertarungan untuk mendapatkan Warner Bros. tidak berjalan mulus. Sebelumnya, Netflix hampir mencapai kesepakatan, namun raksasa streaming itu mundur setelah Paramount menaikkan tawaran tunai menjadi $31 per saham.

Kemenangan Paramount ini berarti mereka tidak hanya mendapatkan studio film dan layanan streaming, tetapi juga seluruh divisi game yang berharga, termasuk developer papan atas seperti Rocksteady Studios, NetherRealm Studios, dan Avalanche Software, pencipta game terlaris 2023, Hogwarts Legacy.

Dengan CEO Paramount, David Ellison, yang merupakan seorang gamer, banyak penggemar berharap ini menjadi angin segar bagi studio tersebut.

Game Hogwarts Legacy (Hogwarts Legacy)

Namun, di balik perayaan akuisisi, awan kelabu mulai membayangi. Mengutip GamingIndustry.biz, CEO Netflix, Ted Sarandon, memberikan peringatan tajam tentang masa depan Warner Bros. di bawah Paramount.

Ia menyatakan bahwa kesepakatan ini "bergantung pada banyak pemangkasan biaya" dan akan ada "pemotongan lebih dari 16 miliar dolar" yang terjadi dalam "sekitar 18 bulan".

Pernyataan tersebut sontak menimbulkan kekhawatiran, terutama mengingat divisi game Warner Bros. sendiri sedang bergejolak pasca kegagalan Suicide Squad: Kill the Justice League dan restrukturisasi yang memfokuskan diri pada empat IP utama: Harry Potter, Game of Thrones, Mortal Kombat, dan DC.

Baca Juga: Viral Ditodong 'Kurang Bayar' Pajak, Publisher Game Indonesia Ingin Pindah ke Luar Negeri

Sekarang, nasib para developer berbakat di TT Games, Monolith Productions, dan studio lainnya berada di ujung tanduk.

Konsolidasi besar-besaran ini bisa berarti dua hal: sinergi yang lebih kuat untuk menciptakan game lebih fenomenal, atau pemangkasan brutal demi efisiensi yang dapat mengorbankan proyek-proyek kreatif.

Load More