Tekno / Internet
Jum'at, 13 Maret 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan (Artifial Intelligence/AI].
Baca 10 detik
  • Sejak Januari hingga Juli 2025, OJK mencatat lebih dari 74.000 pengaduan penipuan berbasis AI menggunakan modus kloning suara dan manipulasi wajah.
  • Indonesia disebut darurat penipuan digital dengan hampir 900 laporan per hari, menimbulkan kerugian total sekitar Rp7,5 triliun (Nov 2024 - Okt 2025).
  • Konsep "Proof of Human" muncul sebagai solusi verifikasi baru untuk menjamin interaksi digital dilakukan oleh manusia asli di era kecanggihan AI.

Suara.com - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan membuat interaksi digital terasa semakin realistis. Wajah di layar bisa tersenyum, suara terdengar sangat meyakinkan, bahkan percakapan terasa alami seperti manusia sungguhan.

Namun di balik kemajuan itu, muncul persoalan baru yang serius: krisis kepercayaan di ruang digital.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga 9 Juli 2025 terdapat lebih dari 74.000 pengaduan penipuan berbasis AI. Modus yang digunakan antara lain kloning suara dan manipulasi wajah menggunakan teknologi Deepfake.

Kerugian yang ditimbulkan pun tidak kecil. Menurut catatan Indonesia Anti-Scam Centre, total kerugian akibat penipuan digital sejak November 2024 hingga Oktober 2025 mencapai sekitar Rp7,5 triliun.

Angka ini menegaskan bahwa ancaman penipuan berbasis AI bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan sudah menjadi realitas yang berdampak langsung pada keamanan finansial masyarakat.

Indonesia Disebut Darurat Penipuan Digital

Fenomena ini juga disoroti oleh influencer edukasi keuangan Theresa Learns. Dalam salah satu kontennya, ia mengajak publik memahami besarnya skala penipuan digital yang kini terjadi.

“Bayangkan, Indonesia disebut sebagai negara dengan laporan penipuan digital terbanyak di dunia. Dalam setahun ada sekitar 311 ribu laporan,” ungkap Theresa dalam keterangan resminya, Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa angka tersebut berarti hampir 900 laporan penipuan setiap hari, mulai dari tautan phishing, file PDF berbahaya, hingga panggilan telepon yang berujung pada pengurasan rekening korban.

Baca Juga: Cara Membuat Desain Ucapan Idulfitri 2026 Pakai AI, Gunakan Prompt Ini!

Data OJK juga menunjukkan beberapa modus penipuan yang paling banyak terjadi, yaitu jual-beli daring sebanyak 39.108 kasus, panggilan palsu (fake call) ada 20.628 laporan, dan penipuan investasi sebanyak 14.533 laporan.

Sebagian besar memanfaatkan teknologi AI seperti voice cloning dan deepfake untuk membangun kepercayaan korban sebelum melakukan penipuan.

Ketika Wajah dan Suara Tak Lagi Bisa Dipercaya

Modus penipuan digital kini berkembang jauh lebih canggih dibanding sebelumnya. Jika dulu kejahatan siber identik dengan virus atau peretasan, kini pelaku memanfaatkan AI untuk menciptakan identitas digital yang tampak sangat nyata.

Dalam periode November 2024 hingga Februari 2025 saja, kerugian akibat penipuan berbasis deepfake dan electronic Know Your Customer (eKYC) sintetis di sektor perbankan digital dilaporkan melampaui Rp700 miliar.

Fenomena ini membuat banyak pihak menilai bahwa persoalan yang terjadi bukan lagi sekadar keamanan siber, melainkan krisis kepercayaan digital.

Load More