Suara.com - Sebuah laporan mengejutkan muncul di tengah berkecamuknya perang besar antara koalisi AS-Israel melawan Iran. Militer Amerika Serikat dikabarkan tetap mengandalkan Claude, model kecerdasan buatan (AI) besutan Anthropic, untuk memandu operasi serangan udara mereka.
Padahal, Presiden Donald Trump baru saja mengeluarkan instruksi tegas untuk memutus seluruh hubungan dengan perusahaan teknologi tersebut beberapa jam sebelumnya.
Laporan yang pertama kali diangkat oleh Wall Street Journal dan Axios pada Minggu (1/3/2026) ini mengungkap betapa sulitnya militer AS melepaskan diri dari ketergantungan teknologi AI yang sudah terlanjur menyatu dalam sistem operasional mereka.
Menurut sumber internal militer yang dikutip dari The Guardian, kecerdasan buatan Claude digunakan oleh komando pusat AS untuk keperluan intelijen tingkat tinggi. Teknologi ini membantu para jenderal dalam:
- Pemilihan Target Strategis: Menentukan titik-titik serangan yang paling efektif di wilayah Iran.
- Simulasi Medan Perang: Menjalankan skenario tempur secara real-time untuk memprediksi pergerakan lawan.
- Analisis Data Intelijen: Mengolah informasi dalam jumlah masif untuk mendukung pengambilan keputusan cepat di lapangan.
Ketergantungan ini menjadi ironi karena sesaat sebelum serangan ke Iran dimulai, Trump melalui akun Truth Social miliknya melontarkan kecaman pedas terhadap Anthropic.
Ia menyebutnya sebagai "Perusahaan AI Kiri Radikal yang dikelola oleh orang-orang yang tidak mengerti realitas dunia."
Konflik antara Trump dan Anthropic bermula pada Januari 2026 lalu, ketika militer AS menggunakan Claude dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Anthropic melayangkan protes keras karena penggunaan tersebut dianggap melanggar ketentuan layanan mereka yang melarang penggunaan AI untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan (surveillance).
Sikap Anthropic ini memicu kemarahan di Pentagon. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menuding perusahaan tersebut melakukan "keangkuhan dan pengkhianatan".
Baca Juga: Kisah Ali Khamenei sebelum Gugur: Sempat Difitnah Tajir Melintir, padahal Sepatunya Buluk
Lewat unggahan panjang di platform X, Hegseth menegaskan bahwa "Prajurit Amerika tidak boleh disandera oleh keinginan ideologis raksasa teknologi (Big Tech)."
Meskipun Hegseth menuntut akses tanpa batas ke seluruh model AI Anthropic untuk kepentingan militer, ia mengakui bahwa pemutusan sistem secara mendadak sangat sulit dilakukan.
Ia memberikan tenggat waktu maksimal enam bulan bagi Anthropic untuk tetap menyediakan layanan demi "transisi yang mulus ke layanan yang lebih patriotik."
OpenAI Siap Ambil Alih Peran di Pentagon
Di tengah keretakan hubungan dengan Anthropic, perusahaan kompetitor yakni OpenAI langsung bergerak cepat mengambil peluang. CEO OpenAI, Sam Altman, dilaporkan telah mencapai kesepakatan baru dengan pihak Pentagon.
Kesepakatan ini memungkinkan jaringan klasifikasi militer AS untuk mulai menggunakan alat-alat canggih dari OpenAI, termasuk ChatGPT, sebagai pengganti Claude di masa depan.
Langkah ini menandai pergeseran besar dalam lanskap teknologi militer, di mana pemerintah AS mencari mitra teknologi yang lebih "kooperatif" terhadap visi militeristik Gedung Putih di bawah kepemimpinan Trump.
Pertempuran di Timur Tengah kini bukan lagi sekadar adu rudal dan jet tempur, melainkan juga menjadi ajang pembuktian dominasi ideologi di balik algoritma kecerdasan buatan.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
-
Juventus Perpanjang Kontrak Gelandang Amerika Serikat hingga 2030
-
Boroujerdi: Masyarakat Tak Anggap Putra Shah Terakhir Iran Reza Pahlavi Ada
-
Kemenkeu Ungkap Efek Perang AS-Israel-Iran ke Ekonomi RI
-
China Tegas Dukung Iran Lawan Serangan AS dan Israel: Kami di Belakang Iran
-
Empat Kapal Pertamina Tertahan di Timur Tengah saat Perang AS dan Israel vs Iran Berkecamuk
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan