Suara.com - Untuk mewaspadai deepfake call, Anda perlu bisa membedakan CS bank asli dan yang pakai AI agar Anda tidak kena penipuan.
Tahukah Anda bahwa deepfake call atau penipuan berbasis video call sedang marak belakangan ini.
Ketika Anda mengalami deepfake call, maka Anda akan seolah-olah berbicara dengan orang lain di layar. Wajahnya bisa seperti yang Anda kenal atau tidak.
Apa Itu Deepfake Call?
Deepfake call merupakan bagian dari perkembangan teknik manipulasi sosial (social engineering).
Dengan bantuan algoritma generative AI, pelaku hanya membutuhkan sampel suara singkat, bahkan kurang dari 30 detik, untuk membuat tiruan suara yang meyakinkan.
Ancaman ini sangat berbahaya karena suara merupakan salah satu elemen utama dalam membangun kepercayaan.
Ketika seseorang mendengar suara yang terdengar resmi dan familiar, secara alami tingkat kewaspadaan akan menurun.
Di sinilah penipu memanfaatkan celah tersebut untuk mencuri data sensitif atau mendorong korban melakukan transaksi tertentu.
Baca Juga: Penipuan Digital di Indonesia Meledak 4 Kali Lipat, Ini Cara Cegah Modus Dokumen Palsu yang Marak
Bagaimana Cara Membuat Deepfake Call?
Para penipu biasanya mengumpulkan bahan untuk membuat deepfake dari sumber terbuka, seperti webinar, video publik di media sosial, maupun rekaman pidato online.
Dalam beberapa kasus, mereka juga sengaja menghubungi target dan mempertahankan percakapan selama mungkin untuk mengumpulkan data suara sebanyak-banyaknya, sehingga hasil tiruan suara menjadi semakin meyakinkan.
Bahkan, jika mereka berhasil mengakses akun pesan milik seseorang yang sering mengirim pesan suara atau video, hal tersebut dapat menjadi “aset” yang sangat berharga.
Dari data tersebut, mereka mampu membuat pesan palsu yang tampak sangat realistis hingga sebagian besar orang kesulitan membedakannya dari yang asli.
Perangkat untuk membuat deepfake pun sangat beragam, mulai dari yang sederhana seperti bot di Telegram hingga layanan profesional seperti HeyGen atau ElevenLabs.
Umumnya, deepfake digunakan bersamaan dengan teknik manipulasi psikologis (social engineering).
Sebagai contoh, pelaku dapat mensimulasikan panggilan melalui aplikasi pesan dengan koneksi yang tampak tidak stabil, kemudian mengirimkan video berkualitas rendah dengan alasan gangguan jaringan.
Dalam banyak kasus, pesan yang disampaikan berkaitan dengan situasi darurat yang membutuhkan bantuan segera.
Korban dibuat percaya bahwa “teman” mereka sedang mengalami kesulitan, seperti membutuhkan uang namun tidak dapat mengakses ATM atau kehilangan dompet, sementara kondisi koneksi yang buruk dianggap menghambat transfer langsung.
Pada akhirnya, korban diarahkan untuk mengirimkan uang ke rekening, nomor, atau dompet kripto palsu.
Kenapa Deepfake Call Marak?
- Biaya Sangat Rendah: Pelaku kejahatan kini menggunakan generator pertukaran wajah dan API kloning suara dengan biaya hanya beberapa dolar per target. Sebagai imbalan atas biaya nominal ini, mereka mendapatkan kemampuan untuk membajak kemiripan seseorang.
- Kekuatan GAN: Deepfake dimungkinkan oleh jaringan adversarial generatif (GAN), sebuah kerangka kerja pembelajaran mesin (ML) di mana 'generator' dan 'diskriminator' bersaing. Generator menciptakan media sintetis, dan diskriminator menilai realismenya dalam proses yang berulang hingga video dan audio yang dihasilkan hampir tidak dapat dibedakan dari aslinya.
- Kecepatan Luar Biasa: Waktu penyiapan untuk serangan deepfake sangat singkat. Penyerang hanya membutuhkan beberapa detik audio yang jelas untuk membuat model suara.
Cara mengenali deepfake
1. Cek Tanda visual yang Terlihat
- Pencahayaan aneh: Arah cahaya atau bayangan tidak masuk akal, atau wajah terlihat terlalu terang/gelap dibanding lingkungan.
- Wajah terlihat blur atau “ngambang”: Terutama di bagian garis rambut, sering ada flicker atau warna yang terlihat tidak natural.
- Kedipan mata tidak wajar: Terlalu jarang, terlalu sering, atau gerakannya kaku. Kadang matanya juga terlihat kosong atau “mati”.
- Gerakan bibir nggak sinkron: Ada delay kecil antara suara dan gerakan mulut, atau bentuk bibir ketika ia berbicara.
- Background aneh: Bisa terlalu blur, nggak bergerak sama sekali, atau tidak sinkron dengan gerakan orangnya.
- Ekspresi kaku: Senyum terlihat “beku”, dan tidak ada detail kecil seperti kerutan alami saat berekspresi.
Tanda dari suara - Nada suara datar atau agak “robotik”: Kurang variasi intonasi seperti manusia asli.
- Tidak ada suara napas: Biasanya manusia ada jeda napas kecil saat bicara panjang.
- Ucapan terasa aneh: Kadang kata-kata terdengar seperti disambung paksa atau tiba-tiba terpotong.
2. Cek Tanda dari perilaku
- Dia tidak bisa menoleh: Coba minta mereka nengok ke samping. Deepfake biasanya bermasalah di bagian ini.
- Muncul gerakan aneh: Minta mereka melakukan hal spontan, seperti lambaikan tangan di depan wajah, sentuh hidung, atau minum. Deepfake sering gagal menampilkan gerakan natural.
3. Pahami Gaya Bahasanya
- Orang asli percakapan terasa alami. Jika ada jeda, biasanya disertai penjelasan seperti “mohon ditunggu, saya cek datanya terlebih dahulu.”
- Sementara Deepfake AI akan sering muncul jeda yang terasa tidak wajar setelah kamu berbicara. Respons bisa terdengar terlalu sempurna atau justru tidak relevan saat diberi pertanyaan spontan.
Itulah beberapa cara membedakan deepfake call yang bisa membantu Anda tetap waspada.
Kontributor : Damai Lestari
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung
-
Perempuan UMKM Harus Berani Naik Kelas, Belajar Branding hingga Strategi Bisnis