Umumnya, deepfake digunakan bersamaan dengan teknik manipulasi psikologis (social engineering).
Sebagai contoh, pelaku dapat mensimulasikan panggilan melalui aplikasi pesan dengan koneksi yang tampak tidak stabil, kemudian mengirimkan video berkualitas rendah dengan alasan gangguan jaringan.
Dalam banyak kasus, pesan yang disampaikan berkaitan dengan situasi darurat yang membutuhkan bantuan segera.
Korban dibuat percaya bahwa “teman” mereka sedang mengalami kesulitan, seperti membutuhkan uang namun tidak dapat mengakses ATM atau kehilangan dompet, sementara kondisi koneksi yang buruk dianggap menghambat transfer langsung.
Pada akhirnya, korban diarahkan untuk mengirimkan uang ke rekening, nomor, atau dompet kripto palsu.
Kenapa Deepfake Call Marak?
- Biaya Sangat Rendah: Pelaku kejahatan kini menggunakan generator pertukaran wajah dan API kloning suara dengan biaya hanya beberapa dolar per target. Sebagai imbalan atas biaya nominal ini, mereka mendapatkan kemampuan untuk membajak kemiripan seseorang.
- Kekuatan GAN: Deepfake dimungkinkan oleh jaringan adversarial generatif (GAN), sebuah kerangka kerja pembelajaran mesin (ML) di mana 'generator' dan 'diskriminator' bersaing. Generator menciptakan media sintetis, dan diskriminator menilai realismenya dalam proses yang berulang hingga video dan audio yang dihasilkan hampir tidak dapat dibedakan dari aslinya.
- Kecepatan Luar Biasa: Waktu penyiapan untuk serangan deepfake sangat singkat. Penyerang hanya membutuhkan beberapa detik audio yang jelas untuk membuat model suara.
Cara mengenali deepfake
1. Cek Tanda visual yang Terlihat
- Pencahayaan aneh: Arah cahaya atau bayangan tidak masuk akal, atau wajah terlihat terlalu terang/gelap dibanding lingkungan.
- Wajah terlihat blur atau “ngambang”: Terutama di bagian garis rambut, sering ada flicker atau warna yang terlihat tidak natural.
- Kedipan mata tidak wajar: Terlalu jarang, terlalu sering, atau gerakannya kaku. Kadang matanya juga terlihat kosong atau “mati”.
- Gerakan bibir nggak sinkron: Ada delay kecil antara suara dan gerakan mulut, atau bentuk bibir ketika ia berbicara.
- Background aneh: Bisa terlalu blur, nggak bergerak sama sekali, atau tidak sinkron dengan gerakan orangnya.
- Ekspresi kaku: Senyum terlihat “beku”, dan tidak ada detail kecil seperti kerutan alami saat berekspresi.
Tanda dari suara - Nada suara datar atau agak “robotik”: Kurang variasi intonasi seperti manusia asli.
- Tidak ada suara napas: Biasanya manusia ada jeda napas kecil saat bicara panjang.
- Ucapan terasa aneh: Kadang kata-kata terdengar seperti disambung paksa atau tiba-tiba terpotong.
2. Cek Tanda dari perilaku
Baca Juga: Penipuan Digital di Indonesia Meledak 4 Kali Lipat, Ini Cara Cegah Modus Dokumen Palsu yang Marak
- Dia tidak bisa menoleh: Coba minta mereka nengok ke samping. Deepfake biasanya bermasalah di bagian ini.
- Muncul gerakan aneh: Minta mereka melakukan hal spontan, seperti lambaikan tangan di depan wajah, sentuh hidung, atau minum. Deepfake sering gagal menampilkan gerakan natural.
3. Pahami Gaya Bahasanya
- Orang asli percakapan terasa alami. Jika ada jeda, biasanya disertai penjelasan seperti “mohon ditunggu, saya cek datanya terlebih dahulu.”
- Sementara Deepfake AI akan sering muncul jeda yang terasa tidak wajar setelah kamu berbicara. Respons bisa terdengar terlalu sempurna atau justru tidak relevan saat diberi pertanyaan spontan.
Itulah beberapa cara membedakan deepfake call yang bisa membantu Anda tetap waspada.
Kontributor : Damai Lestari
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Mulai 19 Juli 2026 Cara Daftar Kartu Perdana Berubah Total! Simak Aturannya
-
Adu Kamera Samsung S26 Ultra vs Oppo Find X9 Ultra, Mana yang Lebih Cakep?
-
4 HP Samsung Galaxy A Series Termurah Juli 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Harga HP Naik Terus? Ini Waktu Terbaik Ganti HP Baru Menurut David GadgetIn
-
4 HP Redmi Terbaik 2026 Menurut Reviewer Gadget untuk Multitasking hingga Gaming
-
Update Harga HP Samsung Juli 2026, dari Seri Termurah hingga Flagship
-
25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
-
14 Layanan Apple Masuk Verifikasi Komdigi, Ini Daftar Fitur yang Dievaluasi
-
Telkomsel Dorong UKM Go Global dengan AI, DCE Academy 2026 Cetak Wirausaha Digital Baru
-
JBL Quantum Resmi Hadir di Indonesia, Headset Gaming Terbaru untuk Gamer Kasual hingga Esports