- Nyamuk membunuh satu juta orang pertahun lewat penularan penyakit.
- Manusia merupakan ancaman mematikan kedua bagi sesama spesiesnya sendiri.
- Predator besar seperti hiu justru menyebabkan kematian paling sedikit.
Suara.com - Pernahkah Anda merasa waswas saat berenang di laut karena bayang-bayang serangan hiu? Atau mungkin merasa terancam saat mendengar berita tentang serangan harimau di pemukiman? Secara naluriah, manusia cenderung takut pada predator besar dengan taring tajam dan cakar mematikan.
Namun, data statistik menunjukkan bahwa ketakutan kita sering kali salah sasaran. Bukan hiu atau harimau yang menyebabkan banyak kematian bagi manusia.
Berdasarkan riset mendalam dari Visual Capitalist yang mengolah data dari Our World in Data, daftar hewan paling mematikan bagi manusia ternyata didominasi oleh makhluk-makhluk yang sering kita anggap remeh.
Kejutan terbesarnya? Predator puncak yang kita takuti di film-film Hollywood justru berada di urutan terbawah dalam hal jumlah korban jiwa per tahun.
Musuh Kecil dengan Dampak Raksasa
Jika Anda mengira hiu adalah ancaman terbesar, Anda perlu melihat angka ini: hiu rata-rata hanya menyebabkan sekitar lima kematian manusia per tahun secara global.
Bandingkan dengan nyamuk, makhluk kecil yang mungkin sedang terbang di sekitar Anda saat ini. Nyamuk bertanggung jawab atas lebih dari satu juta kematian setiap tahunnya.
Nyamuk tidak membunuh melalui serangan fisik, melainkan melalui transmisi penyakit mematikan seperti Malaria, Demam Berdarah, Zika, hingga demam kuning.
Kepadatan penduduk di daerah tropis dan perubahan iklim membuat jangkauan nyamuk semakin luas, menjadikannya ancaman nomor satu bagi kelangsungan hidup manusia di kategori hewan.
Baca Juga: Ilmuwan AS Tewas dan Hilang Beruntun, dari Peneliti Nuklir hingga Pengamat UFO
Manusia dan Konflik Antar-Spesies
Di posisi kedua dalam daftar ini, kita akan menemukan fakta yang pahit: Manusia. Melalui tindakan kriminal, konflik bersenjata, dan perang, manusia membunuh sesamanya dalam jumlah yang mencapai angka ratusan ribu per tahun.
Ini menempatkan kita sebagai ancaman terbesar kedua bagi diri kita sendiri, jauh melampaui predator mana pun di darat maupun laut.
Selain manusia, sahabat terbaik kita, anjing, juga masuk dalam daftar papan atas. Namun, penyebabnya bukan karena sifat agresif anjing secara alami, melainkan karena penularan virus Rabies.
Di banyak negara berkembang, akses terhadap vaksin rabies masih terbatas, sehingga gigitan anjing liar sering kali berujung pada kematian yang tragis.
Bahaya Tersembunyi di Air Tawar
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Derita Pekerja asal Jambi, Cacat Permanen Akibat Kecelakaan Kerja di Kampar
-
Gus Alex Didakwa Terima USD 5,2 Juta di Korupsi Kuota Haji
-
17 Caption 17 Agustus Singkat Aesthetic untuk Instagram
-
Pemulihan Ekosistem Palsu Mengintai di Balik Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
Pemerintah Tantang Pembiayaan UMKM Tembus Rp2.000 Triliun
-
Pemprov DKI Buka Wacana Tata Ulang Jalur Sepeda di Jakarta
-
Harga Minyak Mentah di bawah 100 dolar AS, Stok Pertalite dan Biodiesel Diklaim Aman
-
Pekerja Garmen Didominasi Perempuan, Kesadaran Risiko Kanker dan Deteksi Dini Perlu Diperkuat
-
HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti